Lebih dari 5 Miliar Anomali Siber Terdeteksi, Kesiapan Organisasi Jadi Sorotan
Minggu, 28 Jun 2026, 16:55 WIBJAKARTA â Ancaman serangan siber yang terus meningkat mendorong organisasi untuk tidak hanya memperkuat sistem pertahanan digital, tetapi juga meningkatkan kesiapan para pengambil keputusan dalam menghadapi krisis siber. Sepanjang 2025, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik atau indikasi aktivitas siber yang memerlukan perhatian serius.
Merespons kondisi tersebut, PT ITSEC Asia Tbk bersama Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI) menggelar Roadshow Gerakan Nasional Ketahanan Siber (GNKS) di Makassar, Kamis (25/6). Kegiatan ini mempertemukan pimpinan perusahaan, praktisi keamanan siber, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat kemampuan organisasi dalam menghadapi berbagai skenario serangan siber.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Novotel Makassar Grand Shayla itu menghadirkan Executive Tabletop Exercise, sebuah simulasi yang dirancang khusus bagi jajaran eksekutif agar memahami proses pengambilan keputusan saat terjadi insiden keamanan siber.
Program tersebut merupakan bagian dari rangkaian Gerakan Nasional Ketahanan Siber yang berlangsung sepanjang 2026. Sebelumnya, kegiatan serupa telah diselenggarakan di Banten pada April lalu dan selanjutnya akan digelar di Pontianak, Bali, Yogyakarta, serta Medan.
Berbeda dengan seminar konvensional, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti simulasi yang menggambarkan penanganan krisis secara langsung. Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menjalani lima tahapan, mulai dari memahami konteks ancaman, menyusun strategi mitigasi, menjalankan simulasi krisis, mempresentasikan keputusan yang diambil, hingga melakukan evaluasi bersama.
Pendekatan tersebut dirancang agar para pengambil keputusan memahami bagaimana sebuah insiden berkembang sekaligus menentukan langkah yang tepat dalam waktu singkat.
Selain memperoleh pengalaman simulasi, setiap peserta juga mendapatkan tiga perangkat yang dapat diterapkan di organisasinya. Ketiganya meliputi Security Flow berupa matriks risiko untuk memetakan prioritas pengamanan berdasarkan tingkat dampak dan probabilitas insiden, Security Design Concept yang memberikan gambaran penerapan keamanan pada alur data, batas kepercayaan, dan mekanisme autentikasi, serta Security Skills Assessment & Recognition untuk mengukur peningkatan kompetensi peserta dalam menghadapi ancaman siber.
President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher, mengatakan ancaman siber saat ini telah berkembang menjadi persoalan bisnis yang membutuhkan keterlibatan langsung manajemen. Ketika sebuah insiden terjadi, dampaknya bisa meluas ke operasional bisnis, layanan kepada pelanggan, hingga reputasi organisasi.
âKarena itu, kesiapan menghadapi krisis siber tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab tim IT saja. Para pengambil keputusan juga perlu memahami bagaimana merespons situasi tersebut dengan cepat dan tepat," ujar Patrick melalui keterangannya pada hari Jumat (26/6).
Ia menambahkan, kemampuan merespons insiden memiliki peran yang sama penting dengan upaya pencegahan. Pihaknya ingin peserta pulang dengan sesuatu yang dapat langsung digunakan.
âKarena itu, GNKS tidak hanya membahas ancaman, tetapi juga membantu organisasi memetakan risiko, menyusun desain pengamanan, dan meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan ketika menghadapi insiden. Tujuannya sederhana, yaitu membantu organisasi menjadi lebih siap," tuturnya.
Deputi Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, mengatakan peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekonomi digital nasional.
"Pemanfaatan teknologi digital yang semakin luas perlu diimbangi dengan peningkatan kemampuan dalam menghadapi berbagai risiko siber. Upaya ini membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan agar ruang digital Indonesia dapat tumbuh secara sehat, aman, dan terpercaya," ujar Slamet.
Sementara itu, Ketua Umum ADIGSI, Firlie Ganinduto, menilai peningkatan kesadaran mengenai keamanan siber harus menjangkau lebih banyak daerah dan sektor industri. Banyak organisasi sudah menyadari pentingnya keamanan siber, namun tantangan berikutnya adalah bagaimana menerjemahkan kesadaran tersebut menjadi tindakan nyata.
âMelalui GNKS, kami ingin menghadirkan forum yang praktis sehingga para peserta dapat saling belajar dan membawa hasil yang bisa diterapkan di organisasi masing-masing," katanya.
Firlie menambahkan, Makassar dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia, sehingga dinilai tepat untuk memperluas gerakan peningkatan ketahanan siber.
Gerakan Nasional Ketahanan Siber merupakan inisiatif ITSEC Asia bersama ADIGSI yang digelar sepanjang 2026 guna meningkatkan kesadaran sekaligus kesiapan menghadapi ancaman siber di berbagai sektor industri. Melalui rangkaian kegiatan di sejumlah kota, penyelenggara berharap semakin banyak organisasi yang memiliki kemampuan merespons krisis digital secara cepat dan terukur.
"Kami berharap semakin banyak organisasi yang terlibat dalam gerakan ini. Ketahanan siber pada akhirnya merupakan kepentingan bersama yang akan mendukung tingkat kepercayaan terhadap ekonomi digital Indonesia," ucap Patrick.
- BSSN
- Keamanan Siber
- ITSEC Asia
- serangan siber
- Keamanan Digital
- Ekonomi Digital
- Ketahanan Siber
- Transformasi Digital
- CYBR
- ADIGSI
- Gerakan Nasional Ketahanan Siber
- GNKS
- krisis siber
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Infrastruktur Siap AI Penting untuk Dorong Ekonomi Digital Indonesia
-
Tradisi Ngubek Empang di Depok
-
Telkom Terbitkan Sustainability Report 2025, Perkuat Transisi Rendah Karbon dan ESG
-
East Ventures: Transformasi Digital Indonesia Harus Berujung pada Nilai Ekonomi Nyata
-
Anugerah dari Asia Book of Records Perkuat Posisi AIMS di Industri Trading Asia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.