Rupiah Terpuruk 6,86 Persen Sepanjang Tahun, Ujian Berat Stabilitas Ekonomi

Jumat, 26 Jun 2026, 19:55 WIB

JAKARTA – Pelemahan rupiah yang cenderung berlangsung sepanjang tahun mencerminkan tingginya sensitivitas nilai tukar terhadap dinamika ekonomi global, mulai dari ketidakpastian kebijakan moneter negara maju, konflik geopolitik, hingga pergeseran arus modal internasional.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya impor dan menambah tekanan inflasi, terutama pada sektor yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.

Ket. Foto: Ilustrasi - Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Haji La Tunrung, Makassar, Sulawesi Selatan. — Sumber: ANTARA FOTO/ Hasrul Said

Di sisi lain, stabilitas rupiah akan sangat ditentukan oleh efektivitas bauran kebijakan pemerintah dan bank sentral dalam menjaga kepercayaan pasar, memperkuat fundamental ekonomi, serta mengantisipasi dampak gejolak eksternal.

Hingga 26 Juni 2026, kurs rupiah terhadap dolar AS tercatat melemah 1.151 poin atau sekitar 6,86 persen dari akhir tahun lalu yang berada di level Rp16.771 per dolar AS.

Saat ini, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (26/6) sore menguat 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.922 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.943 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah dipicu respons positif terhadap pemerintah yang mempertimbangkan efisiensi dan pengurangan anggaran lebih lanjut untuk program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga stabilitas fiskal.

“Anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) pada APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) 2026 telah disesuaikan. Pagu anggaran MBG telah dipangkas dari rencana awal sebesar Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun,” ungkapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Berdasarkan penyesuaian terbaru, alokasi tersebut dilaporkan kembali mengalami penajaman/pemotongan menjadi sekitar Rp228,38 triliun.

Pemerintah disebut mengkaji opsi pemotongan tambahan hingga Rp50 triliun untuk memperkuat kondisi keuangan negara. Pemotongan ini dilakukan untuk merespons risiko ekonomi global, menjaga defisit fiskal, serta memperbaiki tata kelola program.

Di sisi lain, lanjut dia, Bank Indonesia (BI) memperkuat intervensi pasar secara agresif melalui tiga lini utama pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) guna meredam volatilitas dan mencegah depresiasi rupiah yang belakangan mendekati level Rp18 ribu per dolar AS.

“Apabila pelemahan masih berlanjut maka strategi yang dilakukan BI adalah menaikkan suku bunga acuan, meskipun bank sentral telah menaikkan 100 basis poin (bps) hanya dalam waktu dua bulan. Sedangkan yang dibutuhkan pasar saat ini adalah jangkar ekspektasi yang jelas bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama serta didukung koordinasi yang erat antarakebijakan moneter dan fiskal,” ujar Ibrahim.

Melihat dari sisi komunikasi, BI dinyatakan perlu terus menegaskan konsistensi arah kebijakan, kecukupan cadangan devisa dan instrumen stabilisasi, serta komitmen untuk menjaga agar pelemahan rupiah tidak berujung pada lonjakan inflasi maupun gangguan stabilitas sistem keuangan.

Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru bergerak melemah di level Rp17.962 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.942 per dolar AS.

  • rupiah melemah

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.