Kurangi Ketergantungan LPG Impor, CNG Didorong Jadi Andalan Baru
Kamis, 25 Jun 2026, 15:30 WIBJAKARTA â Penggunaan gas alam terkompresi (CNG) semakin dipandang sebagai alternatif energi yang mampu mendukung efisiensi biaya sekaligus mengurangi emisi dibandingkan bahan bakar konvensional.
Pemanfaatan CNG, terutama pada sektor transportasi dan industri, dapat membantu menekan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Namun, pengembangan infrastruktur distribusi dan stasiun pengisian masih menjadi faktor penting agar adopsi CNG dapat berlangsung lebih luas dan memberikan dampak ekonomi maupun lingkungan yang optimal.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah mempercepat penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai upaya penggantian dan pengurangan impor LPG.
âLPG ini tidak ada cara lain untuk kita mengurangi devisa kita keluar dan mengurangi subsidi. Harus ada bauran energi. Makanya kita dorong sekarang CNG. CNG itu gasnya pakai C1, C2 dan itu melimpah di Indonesia,â kata Bahlil di Jakarta, Kamis (25/6).
Lebih lanjut, Menteri ESDM pun menyoroti konversi minyak tanah ke LPG yang dimulai pada tahun 2006 sebagai ide dan program yang baik.
Namun, ia menilai kebijakan tersebut masih belum sepenuhnya siap dengan industri LPG di dalam negeri, sehingga ketergantungan pada impor untuk memenuhi kebutuhan nasional.
âLPG dulu tahun 2006 dikonversi dari minyak tanah itu ide mulia, bagus. Tapi kita tidak beriringan dengan industri LPG, maka kita sebenarnya yang impor lagi,â ujar dia.
Bahlil mengatakan rata-rata konsumsi LPG Indonesia adalah sebesar lebih dari 8,5 juta MT per tahun. Akan tetapi, produksi LPG nasional masih berada di angka 1,91 juta MT saja, sehingga sekitar 7,47 juta MT harus dipenuhi melalui impor.
âSelebihnya kita impor, 75-80 persen (sisanya) impor,â tegas dia.
Oleh karena itu, Bahlil menilai upaya pemerintah untuk mempercepat adopsi CNG sebagai alternatif LPG juga diperlukan untuk mewujudkan kemandirian dan kedaulatan energi.
Ia mengatakan saat ini pemerintah sudah memasuki tahap ketiga uji coba penggunaan CNG untuk gas tabung 3 kilogram atau kebutuhan rumah tangga, setelah sebelumnya mengimplementasikan tabung CNG 12 dan 50 kilogram di sektor komersial.
âNah, CNG ini sekarang sudah masuk dalam tahap ketiga untuk gas tabung 3 kilogramnya, bersama Pertamina,â kata Bahlil.
âKalau CNG yang 12 kilogram, 50 kilogram, itu sudah ada (diimplementasikan) di dapur-dapur MBG (Makan Bergizi Gratis), di industri hotel, restoran, itu sudah pakai CNG,â ujarnya menambahkan.
Ia berharap kemandirian energi nasional dapat segera terwujud dengan pemanfaatan sumber daya dalam negeri, sehingga memangkas ketergantungan impor di sektor minyak dan gas.
âMakanya ke depan adalah saya pingin impor-impor ini, kalau bisa kita kurangi. Kita manfaatkan produksi dalam negeri kita,â ujar dia.
- Gas LPG
- CNG
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Bojan Hodak: Persib Bandung Perlu Waspadai Lini Pertahanan PSIM Yogyakarta
-
Seorang Pengendara Motor Tewas Usai Tabrak Pohon di Cinambo Bandung
-
Pasaman Barat Ingatkan Angkutan Umum Harus Laik Jalan Jelang Lebaran
-
Iqro’ Lahir Baru agar Tetap Menarik
-
Manga Jepang "Chiikawa" Buka Toko Merchandise Pertama di Hong Kong
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.