• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Ancaman Senyap di Balik Ek...

Ancaman Senyap di Balik Ekonomi Digital, Fraud Gift Card Intai Industri Ritel

Rabu, 17 Jun 2026, 19:32 WIB

JAKARTA — Di balik melesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara, sebuah ancaman finansial tersembunyi kini tengah mengintai para pelaku ritel, perbankan, dan penyedia platform loyalitas. Modus kejahatan siber yang menyasar gift card atau kartu hadiah digital terus berevolusi secara senyap.

Berbeda dengan peretasan konvensional yang memicu alarm keamanan, jenis penipuan (fraud) ini justru bergerak di bawah radar dengan cara meniru perilaku transaksi normal pelanggan sehari-hari.

Ket. Foto: CEO Zentara, Regal Star dalam konferensi International Marketing Association Europe di Kopenhagen, Denmark baru-baru ini. Modus fraud gift card berbasis AI kian mengancam peritel di Indonesia. Kenali bahaya kebocoran finansial tersembunyi di tengah melesatnya ekonomi digital. — Sumber: Zentara

Skala ancaman ini menjadi kian relevan mengingat posisi Indonesia sebagai pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2024 dari Google, Temasek, dan Bain, nilai barang dagangan kotor (Gross Merchandise Volume/GMV) ekonomi digital di kawasan ini telah menembus angka 263 miliar dolar AS.

Pertumbuhan masif yang didorong oleh adopsi pembayaran berbasis seluler ini secara tidak langsung turut memperbesar ruang bagi para pelaku kejahatan siber untuk mengeksploitasi infrastruktur kepercayaan, terutama pada dompet digital dan program loyalitas.

Pasar gift card domestik sendiri tengah mengalami lonjakan yang signifikan seiring meningkatnya popularitas hadiah digital dan program loyalitas korporat. Data dari Indonesia Gift Card Business and Investment Opportunities Databook mencatat pasar ini bernilai 2,37 miliar dolar AS pada tahun 2025, dan diproyeksikan tumbuh dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk sembilan koma satu persen hingga menyentuh angka 3,68 miliar dolar AS pada tahun 2030.

Namun, kue ekonomi yang menggiurkan itu kini dibayangi oleh manipulasi sistem yang terstruktur. Perusahaan keamanan siber Zentara Technologies mengungkapkan bahwa manipulasi gift card kini tidak lagi mengandalkan pembobolan sistem, melainkan eksploitasi menyeluruh terhadap siklus hidup kartu, mulai dari proses produksi, aktivasi, hingga penukaran.

Dalam Konferensi International Marketing Association Europe di Kopenhagen, CEO Zentara, Regal Star, menjelaskan bahwa jenis penipuan yang paling merusak saat ini justru menyamar hingga tampak sepenuhnya normal. Para pelaku, misalnya, dapat menyalin detail kartu fisik yang dipajang di rak ritel, lalu menguras dananya sesaat setelah kartu tersebut diaktivasi oleh pembeli yang sah.

“Akibatnya, kerugian sering kali baru disadari jauh di kemudian hari setelah adanya keluhan dari pelanggan atau ketika ditemukan anomali data yang terlanjur terlewat,” ujarnya melalui siaran pers pada hari Rabu (17/6).

Riset terbaru dari Zentara mengidentifikasi tiga metode penipuan global yang berkembang paling cepat dan kini menyasar produk bernilai tersimpan di kawasan Asia Tenggara. Metode pertama adalah card draining, yakni pencurian informasi kartu sebelum masa aktivasi.

Metode kedua memanfaatkan fraud identitas sintetis untuk memperoleh dan mencairkan nilai yang tersimpan di dalam kartu. Sementara metode ketiga, yang dianggap paling berbahaya, adalah serangan rekayasa sosial berbasis kecerdasan buatan (AI-driven social engineering) yang secara spesifik menyasar para karyawan yang bertugas menerbitkan, mengganti, atau mengelola kartu hadiah tersebut.

Menanggapi fenomena ini, President dan Co-Founder Zentara Technologies, Darian Kuswanto, menilai banyak organisasi masih terjebak pada kerangka kerja usang yang menyamakan keamanan dengan tidak adanya kebocoran sistem.

Menurutnya, tanpa pemantauan aset yang sangat mendetail mulai dari pelacakan aktivasi awal hingga penukaran akhir, institusi berisiko menanggung kerugian finansial besar yang tidak terdeteksi.

“Kerentanan ini diperparah oleh kemampuan teknologi AI yang berhasil menekan biaya operasional para pelaku penipuan, sehingga mereka dapat melancarkan serangan dengan jalur yang jauh lebih efisien untuk meraup keuntungan sepihak,” ucapnya.

Guna mengantisipasi risiko kebocoran finansial yang lebih besar, para pelaku industri mendesak korporasi untuk memperketat pengawasan terhadap pola penukaran kartu secara real-time. Perusahaan perlu melacak kecepatan konversi dari saat kartu diaktivasi hingga ditukarkan, karena proses pencairan yang terlampau cepat kerap menjadi indikasi kuat adanya otomatisasi ilegal.

Di samping itu, pelatihan staf di lini depan menjadi krusial agar mereka mampu mengenali manipulasi psikologis berbasis AI. Pada akhirnya, pertahanan terbaik di era ekonomi digital bukan lagi sekadar memastikan benteng sistem teknologi yang kokoh, melainkan kemampuan perusahaan untuk memahami secara mendalam batasan antara aktivitas transaksi yang normal dan anomali yang manipulatif.

  • Kejahatan Siber
  • Keamanan Siber
  • indonesia digital
  • Pembayaran Digital
  • Industri Ritel
  • Ekonomi Digital
  • Fraud Gift Card
  • Zentara Technologies
  • Rekayasa Sosial AI
  • Card Draining
  • Solusi Keamanan Finansial

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

Wadoh, Investor Korea Selatan Diduga Jadi Korban “Mafia Legal Formal”

Shin Tae-yong Puas Pola Permainan Persija Nyaris Sempurna Jelang Liga

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.