Mausui, Keindahan ala Afrika di Jantung Flores
Jumat, 12 Jun 2026, 07:23 WIBBULAN Juni hingga September adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi Sabana Mausui di Pulau Flores. Kondisi tanah yang tengah kering menciptakan warna kuning keemasan sejauh mata mata memandang di kawasan ini.
Berada jauh keramaian di pantai selatan pulau itu, destinasi tersebut, berupa bentang alam yang mampu membuat siapa pun berdecak kagum. Hamparan perbukitan dengan luas lebih dari 500 hektar itu ditutupi padang rumput tanpa ujung itu dikenal sebagai Sabana Mausui.
Terletak di wilayah Mausui, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kawasan ini disebut sebagai salah satu lanskap savana paling menakjubkan di Indonesia. Bukit-bukit yang bergelombang sejauh mata memandang menciptakan panorama yang berbeda dari wajah Flores yang selama ini dikenal dengan pegunungan vulkanik dan garis pantainya.
Pada musim kering, Sabana Mausui berubah menjadi lautan rumput dari hijau menjadi kuning keemasan. Dari kejauhan, perbukitan tampak seperti gelombang raksasa yang membeku di tengah perjalanan.
Warna emas yang mendominasi lanskap membuat banyak wisatawan menyebut kawasan ini sebagai âGolden Savanna of Floresâ. Sebaliknya, ketika musim hujan tiba, rerumputan kembali menghijau dan mengubah seluruh kawasan menjadi hamparan hijau zamrud yang segar.
Sebuah Keindahan yang Lahir dari Alam Flores
Secara geografis, Sabana Mausui berada di bagian tengah Pulau Flores. Kawasan ini terletak tidak jauh dari jalur Trans Flores yang menghubungkan berbagai kota utama di pulau tersebut. Meski demikian, pesonanya masih relatif tersembunyi dibandingkan destinasi wisata yang lebih populer.
Dari Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur, Sabana Mausui berjarak sekitar 30â40 kilometer atau sekitar satu jam perjalanan darat, tergantung kondisi lalu lintas dan titik tujuan di kawasan savana.
Bagi wisatawan yang datang dari kota-kota utama Flores, jaraknya cukup bervariasi: Dari Labuan Bajo, gerbang utama wisata Flores di bagian barat, jaraknya sekitar 270â300 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 6â8 jam melalui jalur darat Trans Flores.
Dari Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, jaraknya sekitar 120 kilometer dengan waktu perjalanan sekitar 3 jam. Dari Bajawa, Kabupaten Ngada, jaraknya sekitar 100 kilometer atau sekitar 2â3 jam perjalanan.
Dari Ende, kota terbesar di Flores bagian tengah, jaraknya sekitar 140 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 3â4 jam. Â Sedangkan dari Maumere di Flores bagian timur, jaraknya sekitar 180 kilometer atau sekitar 4â5 jam perjalanan.
Lokasinya yang berada di tengah Pulau Flores menjadikan Sabana Mausui sebagai destinasi ideal bagi wisatawan yang melakukan perjalanan darat melintasi Flores dari barat ke timur maupun sebaliknya. Bagi mereka yang berkunjung di kota-kota itu, lokasinya juga menjadi relatif dekat.
Flores Menyerupai Afrika
Banyak wisatawan yang pertama kali melihat foto Sabana Mausui mengira gambar tersebut diambil di Afrika Timur. Anggapan itu bukan tanpa alasan. Bentuk perbukitan yang memanjang, warna rumput yang berubah keemasan saat kemarau, serta keberadaan ternak yang merumput bebas menciptakan suasana yang mengingatkan pada lanskap sabana di Kenya atau Tanzania.
Perbedaannya, Sabana Mausui hadir dengan latar pegunungan Flores yang khas. Bukit-bukit di kawasan ini memiliki kontur lembut dan saling bertumpuk sehingga menciptakan efek visual yang sangat menarik. Dari puncak salah satu bukit, pengunjung dapat menyaksikan deretan perbukitan yang berlapis-lapis hingga garis cakrawala.
Ketika angin berembus cukup kencang, rerumputan bergerak mengikuti arah angin seperti ombak yang berlari di atas daratan. Fenomena sederhana ini justru menjadi salah satu daya tarik utama yang membuat banyak wisatawan betah berlama-lama menikmati pemandangan.
Pemburu Matahari
Waktu terbaik untuk mengunjungi Sabana Mausui adalah pada pagi dan sore hari. Saat matahari terbit, sinar lembut menyapu bukit-bukit dari sisi timur dan menciptakan bayangan panjang yang mempertegas bentuk lanskap. Udara yang masih sejuk membuat aktivitas trekking ringan di kawasan savana terasa menyenangkan.
Namun bagi banyak fotografer, momen paling istimewa adalah menjelang matahari terbenam. Cahaya keemasan yang dikenal sebagai golden hour membuat warna rumput tampak semakin dramatis. Bukit-bukit berubah menjadi siluet bergelombang, sementara langit perlahan berubah warna dari biru menjadi jingga, merah muda, hingga ungu.
Tidak mengherankan jika Sabana Mausui kini menjadi salah satu lokasi favorit untuk fotografi lanskap, pembuatan konten perjalanan, hingga sesi foto pranikah. Setiap musim menghadirkan karakter visual yang berbeda sehingga pengunjung selalu menemukan pengalaman baru setiap kali datang.
Keindahan Sabana Mausui tidak hanya berasal dari alamnya, tetapi juga dari hubungan erat antara lanskap tersebut dan kehidupan masyarakat setempat.
Sejak lama, kawasan savana ini dimanfaatkan sebagai area penggembalaan ternak. Sapi, kerbau, dan kuda sering terlihat berkeliaran di padang rumput. Aktivitas penggembalaan yang masih berlangsung secara tradisional menghadirkan pemandangan yang semakin memperkuat karakter pedesaan Flores.
Di sejumlah desa sekitar, wisatawan juga dapat melihat kehidupan masyarakat Manggarai Timur yang masih mempertahankan berbagai tradisi lokal. Pertanian, peternakan, dan budaya gotong royong tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Kehadiran masyarakat lokal menjadikan Sabana Mausui bukan sekadar objek wisata alam, melainkan ruang hidup yang telah menjadi bagian dari sejarah panjang komunitas di wilayah tersebut.
Destinasi yang Masih Alami
Salah satu hal yang paling disukai wisatawan saat berkunjung ke Sabana Mausui adalah suasananya yang masih tenang. Tidak ada pusat hiburan, bangunan besaryang sering ditemukan di destinasi wisata populer.
Pengunjung dapat menikmati suara angin yang berdesir di antara rerumputan, suara burung dari kejauhan, serta bunyi lonceng ternak yang sesekali terdengar dari lereng bukit. Pengalaman seperti ini semakin langka di tengah perkembangan pariwisata modern yang sering kali dipenuhi berbagai fasilitas komersial.
Kondisi tersebut membuat Sabana Mausui menjadi tempat ideal bagi mereka yang ingin menikmati alam secara lebih mendalam, melakukan perjalanan fotografi, atau sekadar melepas penat dari hiruk-pikuk kehidupan perkotaan.
Pulau Flores selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan bentang alam paling beragam di Indonesia. Dalam satu perjalanan, wisatawan dapat menemukan gunung berapi, danau kawah, desa adat, pantai berpasir putih, hingga taman laut kelas dunia. hay
- Daya tarik Sabana Mausui
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.