Indonesia Serukan AS-Iran Redakan Ketegangan Baru di Selat Hormuz

Kamis, 11 Jun 2026, 15:30 WIB

JAKARTA - Indonesia menyerukan agar Amerika Serikat dan Iran terus menahan diri dan berkomitmen terhadap gencatan senjata yang disepakati, menyusul eskalasi peperangan yang kembali terjadi pekan ini.

“Kita tentu ingin terus mendorong agar para pihak segera kembali ke meja perundingan, kembali mewujudkan gencatan senjata,” kata Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arrmanatha Nasir di Kompleks Parlemen Jakarta, Kamis (11/6).

Ket. Foto: Wamenlu RI Arrmanatha Nasir pada Segmen Tingkat Tinggi KTT Negara-Negara Berpendapatan Menengah di Manila, Filipina, 29 April 2025. — Sumber: Kemlu RI

Ditemui seusai rapat kerja dengan Komisi I DPR RI, Wamenlu berkata bahwa Indonesia amat menyayangkan AS dan Iran kini justru kembali saling serang dan terlibat dalam kontak senjata, sehingga menimbulkan ketegangan baru di Selat Hormuz.

Ia menyatakan, perang yang berlanjut tak hanya berdampak bagi masyarakat di negara-negara berkonflik, yaitu AS dan Iran, tetapi juga pada banyak negara.

“Kita pun kembali menyerukan agar semua pihak segera kembali melakukan gencatan senjata dan melakukan perundingan,” demikian Wamenlu RI.

Bentrokan antara pasukan Iran dan Amerika Serikat (AS) pecah pada Kamis (11/6) dini hari waktu setempat di perairan Teluk Persia dan Teluk Oman, sementara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, mengumumkan penutupan penuh Selat Hormuz, sebagaimana diwartakan Xinhua.

Laporan awal menunjukkan bahwa sejumlah kapal AS yang berada di dekat Selat Hormuz menjadi sasaran serangan rudal dan drone yang diluncurkan oleh angkatan bersenjata Iran.

Ledakan juga dilaporkan terdengar di wilayah Sirik dan Minab serta kota pelabuhan Bandar Abbas, seluruhnya berada di Provinsi Hormozgan, juga di pulau Qeshm dan Hengam.

Sementara itu, sistem pertahanan udara Iran diaktifkan di wilayah barat ibu kota Teheran dan di Provinsi Fars di Iran selatan, menurut kantor berita semiresmi Iran, Mehr.

Menyusul insiden tersebut, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup bagi seluruh jenis kapal, termasuk kapal tanker minyak dan kapal niaga, karena adanya ancaman keamanan di jalur pelayaran tersebut.

Adapun ketegangan kawasan yang bermula pada 28 Februari setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran tersebut telah memicu serangkaian konfrontasi militer, saling balas serangan, dan ketegangan diplomatik.

  • Perang AS-Israel dengan Iran

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Antara, Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.