Konflik Timteng Picu Inflasi Global

Selasa, 09 Jun 2026, 01:00 WIB

Istanbul – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang terus berlanjut dinilai memicu gangguan rantai pasok global, kenaikan biaya energi, dan tekanan inflasi yang berkepanjangan, terutama bagi negara-negara berkembang yang rentan terhadap gejolak harga komoditas dunia.

Dikutip dari Antara, analis ekonomi yang berbasis di Istanbul, Murat Tufan, mengatakan pada Minggu (7/6), konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang memasuki hari ke-100 telah memperluas dampak ekonomi global dan memicu kenaikan harga berbagai komoditas penting.

Ket. Foto: Orang-orang mengisi tangki bensin mereka di sebuah SPBU di Istanbul, beberapa waktu lalu, seiring meningkatnya gelombang inflasi akibat perang di Timur Tengah. — Sumber: AFP/YASIN AKGUL

"Biaya pupuk dan pengiriman terus meningkat akibat keterlambatan kapal di Selat Hormuz, sebuah hal kRussial bagi perdagangan global, yang pada akhirnya mendongkrak harga akhir barang kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Menurut Tufan, inflasi menjadi salah satu tantangan utama bagi negara berkembang karena sangat rentan terhadap inflasi impor dan guncangan harga global. Ia menilai masyarakat mulai berasumsi bahwa harga barang akan terus naik, sehingga mendorong perilaku konsumsi yang memperparah tekanan inflasi.

Ia juga menilai instrumen moneter konvensional seperti kenaikan suku bunga tidak cukup efektif menghadapi inflasi yang bersumber dari gangguan pasokan global.

"Bank sentral tidak dapat mengendalikan harga energi maupun komoditas di pasar global," katanya.

Pasar Energi

Di tengah ketidakpastian tersebut, prospek harga minyak dunia menjadi salah satu topik utama dalam St. Petersburg International Economic Forum 2026.

CEO Rosneft, Igor Sechin, memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi karena pemulihan pasokan global berlangsung lambat. Menurutnya, perkembangan situasi di Selat Hormuz akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar energi.

"Jika pembatasan yang berkaitan dengan konflik di Selat Hormuz dicabut sekarang, mungkin pada akhir tahun, harga rata-rata dapat mencapai 95-96 dollar AS per barel," kata Sechin.

Ia memperkirakan pasar membutuhkan waktu cukup panjang untuk kembali seimbang karena pemulihan kapasitas pasokan memerlukan investasi besar.

"Dibutuhkan sekitar enam bulan untuk memulihkan momentum positif. Kemudian, dalam waktu satu tahun, kita kemungkinan akan melihat harga di kisaran 80-85 dollar AS per barel," ujarnya.

Sechin juga mengingatkan bahwa sanksi tambahan terhadap ekspor minyak Russia berpotensi memicu lonjakan harga yang lebih tajam.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.