Akses Jadi Tantangan Bagi Pariwisata Sumbar Pascabencana
Selasa, 09 Jun 2026, 16:27 WIBKota Padang, 09/6 (ANTARA) - Pakar pariwisata dari Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat (Sumbar), Sari Lenggogeni menyebut aksesibilitas masih menjadi tantangan besar yang mesti diselesaikan Ranah Minang untuk mengembangkan pariwisata daerah pascabencana hidrometeorologi di akhir 2025.
"Sekarang ini yang menjadi masalah di Sumatera Barat adalah aksesibilitas dan konektivitas," kata pakar pariwisata dari UNAND Sari Lenggogeni di Kota Padang, Selasa.
Pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Sumbar termasuk Aceh dan Sumatera Utara, aksesibilitas di Ranah Minang terutama untuk menuju destinasi wisata belum sepenuhnya pulih.
Padahal, ia mengatakan aksesibilitas dan konektivitas menjadi hal penting dan krusial dalam pengembangan pariwisata suatu daerah. Sebagai contoh, jalan nasional di kawasan Lembah Anai yang menghubungkan Kota Padang dengan Kota Bukittinggi yang sempat terputus akibat dihantam banjir bandang.
Meskipun kini pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum terus berupaya mempercepat perbaikan dan pemulihan jalan, namun hal itu cukup berdampak kepada pariwisata terutama aksesibilitas dari dan ke destinasi wisata seperti Kota Bukittinggi dan sekitarnya.
"Kita sudah survei juga ternyata banyak wisatawan yang mengeluhkan dan komplain karena waktu yang lama di jalan," ujar dia.
Sari yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sumbar menyarankan agar pengambil kebijakan mengarahkan pengembangan sektor pariwisata daerah-daerah yang tidak terlalu terdampak bencana secara langsung.
"Kota Padang dan kawasan Mandeh di Kabupaten Pesisir Selatan ini bisa menjadi pilihan yang menarik bagi wisatawan," ujar dia menyarankan.
Selain dua daerah itu, menurut dia, Kabupaten Kepulauan Mentawai juga wajib menjadi pilihan bagi pelancong untuk berwisata ke pulau terluar Indonesia bagian barat tersebut.
Selain terkenal dengan olahraga selancar dengan gulungan ombak terbaik layaknya Hawaii, Kabupaten Kepulauan Mentawai juga memiliki keunggulan lain seperti wisata minat khusus alam hingga kekayaan budaya masyarakat asli Mentawai.
Bahkan, daerah berjuluk Bumi Sikerei itu diyakini menjadi pusat pembuatan atau tradisi tato tertua di dunia. Tak heran banyak publik figur tanah air hingga internasional datang ke Mentawai hanya untuk membuat tato asli daerah itu.
Namun, hingga kini yang masih menjadi persoalan ialah belum ada maskapai yang menerbangkan pesawat berbadan besar (boeing) ke Bandara Udara Mentawai dikarenakan landasan pacu bandara setempat hanya 1.500 x 30 meter sehingga hanya dapat dilandasi pesawat ATR 72-600.
"Jadi, dengan segala kekayaan alam Sumbar ini yang terpenting ialah percepatan aksesibilitas dan konektivitas khususnya bagi wisatawan," katanya.
- Pariwisata sumbar
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Antara, Sujar
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.