- Home
-
- Luar Negeri
-
- Perang Timur Tengah Guncan...
Perang Timur Tengah Guncang Industri Penerbangan, Proyeksi Laba Global Anjlok 44 Persen
Senin, 08 Jun 2026, 06:00 WIBRIO DE JANEIRO â Industri penerbangan global hampir memangkas setengah proyeksi laba tahun 2026 akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga bahan bakar, mengganggu jalur penerbangan utama, dan memperlihatkan rapuhnya sektor yang selama ini beroperasi dengan margin keuntungan yang tipis.
Dilansir dari Chanel NewsAsia, Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau International Air Transport Association (IATA), yang mewakili lebih dari 370 maskapai penerbangan dengan pangsa sekitar 85 persen lalu lintas udara global, dalam laporan tahunannya pada Minggu (7/6) menyatakan kini memperkirakan industri penerbangan hanya akan membukukan laba bersih gabungan sebesar 23 miliar dolar AS pada 2026.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sekitar 41 miliar dolar AS dan juga menurun dari laba 45 miliar dolar AS yang diperkirakan diraih pada 2025.
Penurunan proyeksi ini menegaskan tingginya kerentanan maskapai terhadap gejolak geopolitik dan volatilitas harga bahan bakar, meskipun permintaan penumpang tetap kuat, tingkat keterisian pesawat meningkat, dan pendapatan industri diperkirakan menembus lebih dari 1,1 triliun dolar AS.
Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh, mengatakan terdapat dua faktor utama yang menyebabkan revisi proyeksi tersebut.
âAda dua faktor utama, yaitu kenaikan signifikan harga bahan bakar jet yang jauh lebih tinggi dari perkiraan banyak pihak, serta gangguan operasional yang dialami maskapai di kawasan Teluk. Kombinasi keduanya membuat kami harus menurunkan proyeksi,â kata Walsh kepada Reuters dalam pertemuan tahunan IATA di Rio de Janeiro.
Walsh memperkirakan sejumlah maskapai kecil akan mengalami kebangkrutan atau diakuisisi oleh maskapai yang lebih besar pada tahun ini dan tahun depan akibat tingginya biaya bahan bakar. Maskapai berbiaya rendah asal Amerika Serikat, Spirit Airlines, menghentikan operasinya bulan lalu dan menjadi korban pertama industri penerbangan setelah pecahnya perang Iran.
Selain itu, maskapai diperkirakan akan mengurangi rute-rute yang tidak menguntungkan untuk menjaga margin keuntungan. Tarif tiket yang melonjak sejak pecahnya perang Iran juga diperkirakan tidak akan turun dalam waktu dekat.
âDalam situasi ketika permintaan masih cukup kuat, tetapi kapasitas berkurang, kondisi itu kemungkinan akan membuat harga tiket tetap tinggi,â ujar Walsh.
Lonjakan Harga Bahan Bakar
Konflik di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memaksa maskapai mengalihkan rute penerbangan untuk menghindari wilayah udara yang ditutup atau dibatasi.
Akibatnya, waktu tempuh sejumlah penerbangan menjadi lebih panjang, konsumsi bahan bakar meningkat, dan kapasitas operasional yang sudah terbatas semakin tertekan.
Pada saat yang sama, harga minyak dunia melonjak akibat kekhawatiran terganggunya pasokan energi. Kondisi ini mendorong kenaikan tajam harga bahan bakar jet sekaligus memperlebar margin kilang, sehingga maskapai menghadapi lonjakan biaya terbesar dalam struktur operasional mereka.
Maskapai-maskapai Teluk seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways menghadapi ketidakpastian operasional paling besar setelah hampir seluruh wilayah udara kawasan tersebut sempat ditutup pada awal konflik.
Walsh mengatakan sebagian besar kawasan dunia diperkirakan masih mencatatkan keuntungan, meskipun lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Namun, maskapai-maskapai di Timur Tengah berpotensi mengalami kerugian akibat konflik dan melemahnya permintaan.
IATA memperkirakan tagihan bahan bakar industri penerbangan akan melonjak menjadi sekitar 350 miliar dolar AS tahun ini, naik dari sekitar 252 miliar dolar AS pada 2025. Biaya bahan bakar kini menyumbang hampir sepertiga dari total biaya operasional maskapai.
Kondisi tersebut menggerus keuntungan per penumpang. Maskapai kini diperkirakan hanya memperoleh laba sekitar 4,50 dolar AS per penumpang, atau sekitar setengah dari tingkat keuntungan tahun lalu.
Di sisi lain, IATA memperkirakan pendapatan industri penerbangan global akan meningkat 9,4 persen menjadi sekitar 1,16 triliun dolar AS tahun ini. Kenaikan tersebut didorong oleh permintaan perjalanan yang tetap stabil, tarif tiket yang lebih tinggi, serta bertambahnya pendapatan dari layanan tambahan seperti peningkatan kelas kursi dan layanan di dalam pesawat.
Sektor penerbangan juga masih menghadapi kekurangan armada pesawat. Keterlambatan pengiriman pesawat oleh Boeing dan Airbus memaksa maskapai mempertahankan penggunaan pesawat yang lebih tua dan kurang efisien dalam konsumsi bahan bakar, sehingga meningkatkan biaya perawatan dan menghambat upaya peningkatan margin keuntungan.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Andes
Berita Terkait:
-
Enam Pesepeda Indonesia akan Tampil di Ajang Piala Dunia MTB 2026 di Korea
-
Lewat Inisiatif Ascott CARES, Citadines Antasari Jakarta Ajak Tamu Rayakan Earth Hour Secara Kreatif
-
Belitung Perkuat Pelindungan dan Pelestarian Penyu
-
Akademisi Ingatkan Pentingnya Bahasa Kepemimpinan di Sektor Publik
-
KPK Butuh Keterangan Budi Karya Sumadi Terkait Kasus Suap DJKA
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.