- Home
-
- Luar Negeri
-
- Korut Pantang Mundur dari ...
Korut Pantang Mundur dari Program Nuklirnya
Senin, 08 Jun 2026, 02:05 WIBSEOUL - Program senjata nuklir Korea Utara (Korut) adalah sebuah garis kebijakan tanpa mundur. Hal itu ditegaskan oleh saudara perempuan pemimpin Kim Jong-un yang berpengaruh dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah pada Minggu (7/6) menjelang kunjungan Presiden Tiongkok, Xi Jinping.
Pyongyang telah lama bersikeras pada haknya untuk memiliki program senjata nuklir dan misil balistik, meskipun hal itu dilarang berdasarkan ketentuan sanksi Dewan Keamanan PBB. Korut sebelumnya telah mengabadikan status nuklir mereka dalam konstitusi pada tahun 2023.
"Status Korut sebagai negara pemilik senjata nuklir adalah sebuah garis kebijakan tanpa mundur," kata Kim Yo-jong sebagaimana diterbitkan oleh kantor berita KCNA.
"Kami tidak akan pernah mentolerir ancaman atau kompromi apa pun yang terkait dengan kedaulatan dan keamanan kami," tegas dia.Â
Kim Yo-jong juga menyinggung laporan penjualan senjata oleh Amerika Serikat (AS) ke Korea Selatan (Korsel), menggambarkannya sebagai peningkatan persenjataan tanpa henti dari negara-negara yang bermusuhan, dalam membenarkan upaya Pyongyang untuk memperkuat persenjataannya.
Kim Yo-jong adalah tokoh kunci dalam komunikasi dan kebijakan luar negeri Korut, dan pernyataannya disampaikan menjelang kunjungan Xi, yang menurut media pemerintah dijadwalkan berlangsung pada Senin (8/6) dan Selasa (9/6).
Beijing merupakan sumber dukungan politik dan ekonomi yang vital bagi Korut. Kunjungan Xi ke Pyongyang akan menjadi kunjungan pertamanya dalam tujuh tahun, dan dilakukan setelah ia menjadi tuan rumah pertemuan puncak berturut-turut dengan Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden Russia, Vladimir Putin, bulan lalu.
Pyongyang telah berulang kali menyatakan dirinya sebagai negara nuklir yang tak dapat diubah sejak pertemuan puncak Kim Jong-un dengan Trump pada tahun 2019 gagal karena perbedaan pendapat mengenai denuklirisasi dan pencabutan sanksi.
Pemimpin Korut kemudian semakin berani setelah terjadi perang di Ukraina, mengamankan dukungan penting dari Moskwa setelah mengirim ribuan pasukan untuk bertempur bersama pasukan Russia.
Kim Jong-un pada akhir pekan lalu dilaporkan teIah melakukan inspeksi pada sebuah pabrik amunisi dan menyerukan agar pabrik tersebut meningkatkan kapasitas produksi.  âHal ini dilakukan untuk memasok misil dalam jumlah yang cukup," lapor KCNA.
Kritik
Dalam pernyataannya, Kim Yo-jong juga mengkritik Washington DC atas komentarnya bahwa tujuan denuklirisasi Korut telah ditegaskan kembali selama pertemuan puncak antara Trump dan Xi di Beijing bulan lalu.
Gedung Putih merilis lembar fakta setelah KTT tersebut yang menyatakan bahwa Presiden Trump dan Presiden Xi telah menegaskan tujuan bersama mereka untuk melucuti senjata nuklir Korut, tetapi Kim Yo Jong mengatakan itu tidak benar.
"Beberapa pejabat di AS rupanya masih belum bisa terbangun dari mimpi-mimpi dan ketinggalan zaman mereka," kata dia. "Ini tidak lain hanyalah praktik lama AS untuk menyebarkan informasi palsu," ungkap dia.
Kim Yo-jong juga menolak upaya Washington DC untuk menyangkal atau menantang status Korut sebagai kekuatan nuklir, dengan mengatakan bahwa hal itu tidak memiliki kekuatan yang mengikat secara hukum.
"Garis kebijakan untuk terus memperkuat penangkal perang nuklir untuk membela diri, yang telah diklarifikasi oleh kepala negara, adalah kesimpulan akhir yang tidak dapat diubah dan harus dilaksanakan tanpa syarat," tegas dia. AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.