• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Ini Tanda-tanda Anda Mulai...

Ini Tanda-tanda Anda Mulai Mengalami Burnout karena Pekerjaan dan Cara Mengatasinya

Minggu, 07 Jun 2026, 15:50 WIB

JAKARTA - Dokter spesialis kejiwaan atau psikiater dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. Adhitya S Ramadianto, SpKJ(K), menyoroti tanda pekerja mulai mengalami burnout atau kelelahan karena pekerjaan.

Adhitya menjelaskan tanda-tanda burnout biasanya terbagi ke tiga gejala besar.

Ket. Foto: — Sumber: IST

Gejala pertama, emotional exhaustion atau lelah secara emosional. Kondisi ini membuat seseorang merasa energinya seperti terkuras begitu terbangun dan mengingat pekerjaan yang menanti.

"Enggak punya tenaga, enggak mau bangun, mendingan merem lagi. Sampai di tempat kerja sudah membayangkan kapan bisa pulang," kata Adhitya menjelaskan tanda-tanda burnout yang kerap ditemui pada seorang pekerja.

Rasa lelah tersebut tidak proporsional dengan beban kerja alias seseorang merasa lebih lelah dibandingkan dengan beban kerja yang dia hadapi.

Gejala kedua, kemunculan depersonalisasi, kondisi ketika seseorang tidak lagi hadir sepenuhnya secara mental dalam pekerjaannya karena sudah terlalu lelah. Gejala itu biasanya lebih terasa pada profesi yang banyak berinteraksi dengan orang lain, seperti tenaga kesehatan, petugas layanan konsumen, dan pekerjaan berbasis jasa lainnya.

Akibat kelelahan tersebut, seseorang cenderung tidak sepenuhnya hadir, di mana dalam hal ini menganggap melihat orang yang dilayaninya hanya sebagai bagian dari tugas yang harus segera diselesaikan. Keluaran dari rasa lelah itu bisa saja berupa menjadi kurang ramah.

"Mungkin bukan karena berniat jahat, tapi, energinya sudah habis, cuma tersisa untuk mengerjakan tugas pekerjaannya sebisanya,” kata Adhitya menjelaskan.

Gejala ketiga, kelelahan yang berkepanjangan membuat pekerja cenderung hanya fokus mengejarkan tugas seperlunya. Setelah pekerjaan selesai, pekerja kerap tidak merasakan adanya pencapaian atau kepuasan atas hasil kerja yang dilakukan.

Kondisi tersebut dikenal sebagai lack of personal achievement, tidak ada pencapaian pribadi, yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman yang semakin besar seiring waktu.

“Kita sudah capai-capai kerja sekian jam di kantor, sekian jam di tempat kerja, tapi, kok, pulang-pulang cuma dapat capainya saja, tidak merasa mendapatkan sesuatu, baik itu hadiah pekerjaannya, uang, kompensasi finansial ataupun tadi, rasa mencapai sesuatu," kata Adhitya menjelaskan.

Mengurangi Burnout

Adhitya mengatakan, burnout dalam pekerjaan bisa dikurangi antara lain dengan menerapkan work-life balance (keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan sosial) dan quiet living (cara hidup yang memprioritaskan ketenangan.

Efektivitas pemulihan sangat bergantung kepada metode yang dipilih dan masalah yang mendasari. Misalnya, jika seseorang baru melewati periode kerja yang sangat padat, maka mengambil waktu untuk liburan bisa menjadi pilihan untuk memulihkan energi dan beristirahat.

Tapi, jika burnout muncul karena ditempatkan pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan keterampilan yang dimiliki, maka solusi yang diperlukan bukan sekadar beristirahat. Seseorang perlu mengembangkan atau mempelajari kemampuan yang dibutuhkan agar dapat menjalankan tugas dengan lebih efektif atau bahkan bernegosiasi dengan perusahaan mengenai kompetensi yang dimiliki.

  • Kesehatan Mental

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Antara, Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.