IHSG Melemah, Pakar Minta OJK Buka Fakta Lengkap ke Publik

Minggu, 07 Jun 2026, 06:00 WIB

Jakarta –Konsultan dan perencana keuangan Elvi Diana meminta pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memberikan penjelasan yang lebih rinci, transparan, dan mudah dipahami terkait faktor-faktor yang memicu pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (6/6), Elvi menilai keterbukaan informasi menjadi hal penting untuk menjaga kepastian di kalangan investor dan pelaku pasar di tengah tekanan yang terjadi di pasar modal.

Ket. Foto: Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6). — Sumber: Antara

Ia mengatakan penjelasan yang selama ini disampaikan regulator terkait kombinasi faktor domestik dan global masih perlu diperinci agar publik dapat memahami kondisi secara lebih utuh.

Elvi menyarankan agar pemerintah dan regulator menjelaskan secara lebih terbuka berbagai faktor yang memengaruhi pergerakan pasar, mulai dari kondisi ekonomi domestik, kebijakan fiskal dan moneter, sentimen investasi, hingga dinamika geopolitik global.

Menurutnya, penyampaian informasi yang lebih terstruktur dan transparan dapat membantu menjaga kepercayaan investor sekaligus mengurangi ketidakpastian di pasar keuangan.

Selain soal transparansi, Elvi juga mendorong pemerintah menyiapkan langkah kebijakan yang dapat memperkuat stabilitas pasar keuangan serta iklim investasi nasional.

Ia menilai respons kebijakan yang cepat dan terukur dapat membantu memulihkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Elvi juga mengusulkan agar Komisi XI DPR RI memperkuat fungsi pengawasan terhadap kebijakan pemerintah dan regulator dalam merespons dinamika pasar modal.

Ia menegaskan bahwa kepercayaan investor merupakan faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Karena itu, penguatan transparansi, akuntabilitas, dan kepastian kebijakan dinilai menjadi kunci pemulihan sentimen pasar.

“Kepercayaan investor adalah aset yang sangat berharga. Ketika kepercayaan itu terganggu, dampaknya tidak hanya pada pasar modal, tetapi juga perekonomian nasional,” ujarnya.

Persepsi Negatif

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan IHSG dan nilai tukar rupiah lebih dipengaruhi oleh persepsi negatif terhadap kondisi ekonomi Indonesia, yang menurutnya tidak sesuai dengan fundamental ekonomi yang masih terjaga.

Ia menyebut kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap kuat, sementara aktivitas ekonomi di berbagai daerah masih menunjukkan pertumbuhan positif.

“Kendala utamanya adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita yang tidak sepenuhnya benar. APBN kita bagus, ekonomi tumbuh cukup baik, dan aktivitas ekonomi juga meningkat,” kata Purbaya.

Menurutnya, pemerintah bersama Bank Indonesia akan memperkuat koordinasi untuk menghilangkan persepsi negatif di pasar serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.

“Itu yang akan kita hilangkan dengan kerja sama lebih erat dengan bank sentral,” ujarnya.

Sementara itu, realisasi belanja negara hingga Mei 2026 tercatat sebesar Rp1.365,4 triliun atau 35,5 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun. Angka tersebut tumbuh 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Belanja negara terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.059,3 triliun atau 33,6 persen dari pagu APBN, dengan pertumbuhan 52,6 persen secara tahunan.

  • ihsg anjlok

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.