IATA: Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan Masih Langka dan Mahal, Dekarbonisasi Tersendat

Minggu, 07 Jun 2026, 12:53 WIB

RIO DE JANEIRO - Bahan bakar penerbangan dari sumber non-minyak bumi masih sulit ditemukan dan terlalu mahal untuk mewujudkan dekarbonisasi perjalanan udara, kata maskapai penerbangan utama dunia pada hari Sabtu (6/6) di sebuah konferensi di Brazil.

Produksi global bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) diperkirakan akan mencapai sekitar 2,4 juta ton pada tahun 2026, hanya sekitar 0,8 persen dari konsumsi maskapai penerbangan, menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional (International Air Transport Association/IATA).

Ket. Foto: Pesawat Airbus dengan bahan bakar SAF 100 persen. — Sumber: Aerotime

"Tampaknya ini akan menjadi tahun yang mengecewakan lagi bagi produksi SAF," kata Willie Walsh, Direktur Jenderal IATA, yang mewakili sekitar 370 maskapai penerbangan, dalam sebuah pernyataan.

Ia mencatat, kenaikan tajam harga bahan bakar yang disebabkan oleh perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah belum meningkatkan kesadaran akan kekurangan pasokan.

"Kita belum melihat baik guncangan energi, kebutuhan untuk mengembangkan kemandirian energi dan lapangan kerja, maupun urgensi untuk mengurangi perubahan iklim terwujud dalam insentif yang dibutuhkan untuk menciptakan pasar SAF yang layak," kata Walsh.

Brazil, sebagai tuan rumah konferensi, adalah contoh negara dengan "potensi yang belum dimanfaatkan," menurut IATA. Negara Amerika Selatan yang luas ini memiliki hampir 120 juta ton potensi bahan baku untuk SAF (Sustainable Aerosol Fuel) pada tahun 2030.

Bahan bakar jet konvensional berbahan dasar minyak bumi, sedangkan SAF (Sustainable Aviation Fuel) dibuat dari bahan-bahan seperti limbah makanan dan kebun, residu pertanian, dan minyak goreng bekas.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP, Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.