Terpuruk 7,5 Persen Sejak Awal Tahun, Rupiah Jadi Korban Gejolak Global dan Krisis Kepercayaan
Jumat, 05 Jun 2026, 18:25 WIBJAKARTA â Pelemahan rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS mencerminkan tingginya tekanan eksternal sekaligus meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi domestik.
Di tengah ketidakpastian global, penguatan dolar AS dan pergeseran aliran modal ke aset yang dianggap lebih aman telah menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Namun, pelemahan yang berlanjut juga mengindikasikan adanya faktor domestik, terutama terkait persepsi investor terhadap konsistensi kebijakan ekonomi dan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal serta iklim investasi.
Kombinasi sentimen global dan menurunnya kepercayaan pasar tersebut membuat tekanan terhadap rupiah semakin sulit diredam dalam jangka pendek.
Hingga Jumat (5/6), kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank melemah 1.265 poin atau sekitar 7,54 persen dari akhir tahun lalu.
Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan, Jumar (5/6) sore, menguat 13 poin atau 0,07 persen dari sehari sebelumnya jadi Rp18.036 per dolar AS. Sebagai perbandingkan, kurs rupiah pada akhir Desember 2025 berada di level Rp16.771 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan penguatan rupiah dipicu respons positif pasar atas laporan kinerja Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
âPelaku pasar merespons positif laporan kinerja APBN walaupun masih defisit. Namun, kenaikan pajak tumbuh signifikan yang berarti ketergantungan pada utang mulai turun,â ujarnya di Jakarta.
Tercatat, penerimaan pajak menunjukkan kinerja positif per 31 Mei 2026, dengan nilai Rp834,4 triliun atau tumbuh 22,1 persen (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp683,3 triliun. Secara komponen, hampir seluruh komponen pajak mengalami pertumbuhan positif.
Penerimaan pajak penghasilan (PPh) badan dan deposit PPh badan terealisasi sebesar Rp167,6 triliun atau tumbuh 23,9 persen. Kemudian, PPh orang pribadi dan PPh 21 tercatat sebesar Rp123,1 triliun atau tumbuh 26 persen. Sementara PPh final, PPh 22, dan PPh 26 terhimpun Rp138,7 triliun atau tumbuh 5,2 persen.
Menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, pajak penghasilan atas badan dan orang pribadi yang tumbuh signifikan mencerminkan realitas penghasilan yang tumbuh.
Selain pajak penghasilan, komponen pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) juga mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 41,3 persen dengan nilai Rp315,7 triliun.
Di samping itu, potensi Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan untuk meredam pelemahan rupiah dianggap menjadi faktor lain yang membuat kurs Garuda pada penutupan perdagangan hari ini menguat.
âEkspektasi kenaikan suku bunga oleh BI membuat spread bunga dengan The Fed rate semakin melebar dan rupiah menjadi menarik lagi,â kata Rully.
Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak data ke level Rp18.039 per dolar AS, sama persis seperti hari sebelumnya.
- rupiah melemah
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Darurat Pinjol Ilegal! OJK Blokir 953 Pindar dalam Tiga Bulan
-
Mantan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono Meninggal Dunia
-
Pesantren Kilat Dompet Dhuafa: Ajarkan Mitigasi Bencana Sejak Dini pada Anak Penyintas Aceh
-
Gubernur Bobby Nasution Targetkan Modal Inti Bank Sumut Tembus Rp6 Triliun untuk Masuk Kategori KBMI 2
-
Anwar Ibrahim Ungkap Diplomasi dengan Iran, Kapal Minyak Malaysia Lolos Selat Hormuz
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.