• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Tertinggi Global! 95 Perse...

Tertinggi Global! 95 Persen Mahasiswa Indonesia Pakai AI, BINUS Dorong Pemanfaatan Bijak

Rabu, 03 Jun 2026, 11:15 WIB

JAKARTA - Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kalangan mahasiswa Indonesia terus meningkat dan kini menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Tingginya adopsi teknologi tersebut mendorong perguruan tinggi untuk tidak hanya menyediakan akses terhadap AI, tetapi juga memastikan mahasiswa mampu memanfaatkannya secara bijak dan bertanggung jawab.

Berdasarkan Global Student Survey 2025 yang dirilis Chegg, sebanyak 95 persen mahasiswa Indonesia telah mengintegrasikan AI generatif dalam aktivitas belajar mereka. Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat penggunaan AI tertinggi di antara 15 negara yang disurvei secara global.

Ket. Foto: Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kalangan mahasiswa Indonesia terus meningkat dan kini menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. — Sumber: Istimewa

Di tengah perkembangan tersebut, muncul perhatian baru dari kalangan orang tua terkait dampak penggunaan AI terhadap kemampuan berpikir mandiri mahasiswa. Kekhawatiran tersebut tidak berfokus pada teknologi AI itu sendiri, melainkan pada potensi ketergantungan yang dapat mengurangi kemampuan analisis, eksplorasi, dan pemecahan masalah secara mandiri.

Fenomena tersebut turut memengaruhi pertimbangan orang tua dalam memilih perguruan tinggi bagi anak-anak mereka. Selain kualitas akademik dan fasilitas pendidikan, pendekatan kampus terhadap penggunaan AI kini menjadi salah satu faktor penting dalam menilai kesiapan institusi menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dipengaruhi teknologi.

Menjawab tantangan tersebut, BINUS University menghadirkan Digital Transformation & AI Experience Ecosystem. Pendekatan ini dirancang untuk mengintegrasikan AI dalam proses pembelajaran sekaligus membekali mahasiswa dengan kemampuan memahami penggunaan teknologi secara tepat, kritis, dan bertanggung jawab.

Rektor BINUS University, Dr. Nelly, mengatakan perkembangan AI menuntut perguruan tinggi untuk tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi. Menurutnya, mahasiswa juga harus mampu membangun penalaran mandiri serta memahami konteks penggunaan AI secara relevan dalam berbagai situasi.

Kekhawatiran orang tua terhadap penggunaan AI juga tercermin dalam sejumlah survei internasional. Survei EdChoice 2025 menunjukkan sebanyak 65 persen orang tua setuju bahwa perguruan tinggi perlu mengajarkan penggunaan AI secara bijak, sementara angka tersebut meningkat menjadi 79 persen pada kelompok orang tua yang menyekolahkan anaknya di institusi swasta.

Temuan serupa juga terlihat dalam survei Echelon Insights terhadap 1.511 orang tua. Sebanyak 56 persen responden meyakini anak mereka aktif menggunakan AI, namun menginginkan adanya pengawasan dan batasan yang jelas agar kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah tetap terjaga. Bahkan, 79 persen orang tua menyatakan ingin dilibatkan dalam penyusunan kebijakan AI di lembaga pendidikan.

BINUS University memandang bahwa kebutuhan industri saat ini tidak hanya berfokus pada kemampuan menggunakan teknologi AI. Laporan Future of Jobs Report 2025 memproyeksikan sekitar 39 persen keterampilan inti tenaga kerja akan berubah pada 2030, dengan kemampuan seperti problem solving, kreativitas, kolaborasi, dan adaptabilitas menjadi semakin penting.

Melalui ekosistem pembelajaran yang dikembangkan, mahasiswa didorong untuk tidak sekadar menerima hasil yang diberikan AI. Mereka juga dibiasakan mengevaluasi, memvalidasi, dan memahami keterbatasan teknologi tersebut melalui berbagai aktivitas pembelajaran, mulai dari riset, brainstorming, collaborative learning, hingga penerapan AI dalam konteks akademik dan industri.

Pendekatan tersebut didukung oleh sejumlah platform digital yang menjadi bagian dari transformasi teknologi BINUS University. Di antaranya adalah BINUSMAYA sebagai Learning Management System (LMS), CrowdBees sebagai platform crowdsourcing inovasi terbuka, serta Neksus yang berfungsi sebagai pusat pengembangan pembelajaran dan karier mahasiswa. Selain itu, berbagai solusi digital lain juga dikembangkan untuk mendukung pengalaman belajar yang lebih terintegrasi.

"Memahami perkembangan AI saat ini, BINUS University berkomitmen mendampingi mahasiswa agar mampu memanfaatkan AI secara produktif tanpa kehilangan kemampuan berpikir, kreativitas, dan daya analitis mereka. Komitmen ini juga sudah kami wujudkan nyata dalam kurikulum, ekosistem digital, hingga pengalaman belajar sehari-hari," jelas Dr. Nelly.

Bagi orang tua, pendekatan pendidikan yang menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan penguatan kemampuan berpikir kritis dinilai semakin relevan. Di tengah perubahan dunia kerja yang berlangsung cepat, perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang melek teknologi, tetapi juga individu yang mampu beradaptasi, berinovasi, dan mengambil keputusan secara mandiri.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.