Seperempat Lebih Ekonomi Indonesia Ditopang Industri Halal, Fakta yang Kerap Terabaikan
Selasa, 02 Jun 2026, 16:00 WIBJAKARTA â Sektor industri halal memiliki potensi ekonomi yang sangat besar karena tidak hanya menyasar kebutuhan konsumen muslim yang jumlahnya terus bertambah, tetapi juga menarik minat pasar global yang semakin mengutamakan aspek kualitas, keamanan, dan keberlanjutan produk.
Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia memiliki peluang strategis untuk menjadi pusat produksi dan perdagangan produk halal, mulai dari makanan dan minuman, fesyen, kosmetik, hingga pariwisata.
Pengembangan industri halal juga berpotensi mendorong pertumbuhan UMKM, memperluas ekspor, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan nilai tambah berbagai sektor ekonomi.
Dengan dukungan sertifikasi yang kuat dan ekosistem industri yang terintegrasi, sektor halal dapat menjadi salah satu motor baru pertumbuhan ekonomi nasional di tengah persaingan pasar global yang semakin ketat.
Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) mengatakan ekosistem industri dan rantai pasok halal yang berada di bawah pengawasan dan regulasi jaminan produk halal (JPH) memberikan kontribusi sekitar 27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan nilai mencapai sekitar Rp4.900 triliun.
âKontribusi industri halal terhadap perekonomian nasional sangat besar, 27 persen bagi PDB nasional. Ini menunjukkan bahwa halal bukan hanya urusan sertifikasi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia,â kata Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (2/6).
Namun, ia menilai kontribusi halal terhadap ekonomi sering kali tidak terlihat secara langsung oleh masyarakat, padahal dampaknya sangat besar terhadap pergerakan sektor produksi, perdagangan, dan konsumsi nasional.
âKontribusinya (halal) sangat besar bagi ekonomi dan kehidupan masyarakat, meskipun sering kali tidak terlihat secara langsung,â ujar Haikal.
Lebih lanjut, ia menegaskan halal tidak hanya berkaitan dengan sertifikasi produk semata, melainkan mencakup keseluruhan ekosistem dan rantai pasok yang melibatkan berbagai sektor termasuk industri pengolahan, logistik, perdagangan, hingga berbagai sektor jasa pendukung lainnya.
Oleh karena itu, implementasi JPH, lanjutnya, turut menggerakkan aktivitas ekonomi pada berbagai sektor sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar domestik maupun global.
âDi balik satu produk halal terdapat rantai pasok yang panjang dan melibatkan jutaan pelaku usaha. Ketika ekosistem halal tumbuh, maka sektor produksi, distribusi, perdagangan, hingga ekspor juga ikut tumbuh. Halal menjadi salah satu instrumen penting dalam menciptakan nilai tambah ekonomi nasional,â kata Haikal.
Selain itu, ia juga mengatakan halal tidak boleh dipahami hanya sebagai persoalan makanan dan minuman atau semata-mata sebagai kewajiban agama. Menurutnya, halal merupakan bagian dari sistem nilai yang membangun kepercayaan, integritas, dan peradaban.
âHalal bukan hanya untuk Muslim. Halal adalah for all. Halal telah menjadi bagian dari gaya hidup modern dan simbol kualitas, kebersihan, keamanan, ketertelusuran, serta kepercayaan yang dibutuhkan masyarakat global saat ini,â kata Haikal.
âKetika halal menjadi budaya dan gaya hidup, maka yang tumbuh bukan hanya industri halal, tetapi juga kepercayaan, produktivitas, dan kualitas sumber daya manusia,â katanya menambahkan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Taekwondo Raih Emas untuk Indonesia pada SEA Games 2025
-
BPJS Kesehatan Kolaborasi dengan Jamdatun untuk Perkuat Penanganan Hukum JKN
-
Produk Industri Halal Raup Cuan JFEX Winter 2025
-
Pemkot Palembang Perbaiki 40 Titik Lampu Jalan Setiap Hari
-
Blackpink Jadi Artis Pertama Tembus 100 Juta Subscriber YouTube
-
Purbaya Akan Obok-obok Rekening Para Pejabat Ditjen Pajak. Sebagian Pejabat Akan Dinonaktifkan Sementara
-
Justin Bieber akan Tampil di Panggung Coachella, Para Belieber Siap Menggila
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.