Kroasia dan Belgia Menguji Warisan Generasi Emas

Selasa, 02 Jun 2026, 06:32 WIB

RIJEKA, KROASIA – Ketika Kroasia dan Belgia bertemu dalam laga persahabatan internasional di Stadion Rujevica, Rijeka, Rabu (3/6) dini hari WIB, pertandingan itu lebih dari sekadar agenda pemanasan menjelang Piala Dunia 2026. Di balik laga dua kekuatan Eropa tersebut tersimpan pertanyaan besar yang selama bertahun-tahun membayangi kedua tim. Mampukah generasi terbaik yang pernah mereka miliki akhirnya menuntaskan misi yang selalu terhenti beberapa langkah sebelum garis akhir.

Dalam dua dekade terakhir, Kroasia dan Belgia menjadi simbol keberhasilan negara berpopulasi relatif kecil yang mampu bersaing dengan raksasa sepak bola dunia. Namun hingga kini keduanya masih menempati kategori yang sama. Kuat dan disegani tetapi belum pernah mencapai puncak tertinggi.

Ket. Foto: Gelandang Kroasia bernomor punggung 10, Luka Modric, melakukan pemanasan menjelang pertandingan persahabatan antara Brasil lawan Kroasia di Camping World Stadium di Orlando, Florida, Minggu 31 Maret 2026. — Sumber: Miguel J. Rodriguez CARRILLO / AFP

Kroasia setidaknya memiliki catatan yang lebih mengilap. Dalam delapan tahun terakhir mereka berhasil mengoleksi dua medali perak dan satu medali perunggu dari turnamen internasional besar. Final Piala Dunia 2018 di Russia menjadi pencapaian terbesar mereka sebelum kembali naik podium dengan menempati peringkat ketiga pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Di sela-sela itu Kroasia juga mencapai final UEFA Nations League.

Kesuksesan tersebut identik dengan sosok Zlatko Dalic. Pelatih yang mulai menangani tim nasional Kroasia sejak 2017 itu berhasil mengubah Kroasia menjadi salah satu tim paling konsisten di level internasional. Ketika banyak negara mengalami pergantian generasi yang sulit, Kroasia tetap mampu menjaga daya saing.

Kini Dalic kembali dipercaya memimpin perjalanan menuju Piala Dunia 2026 setelah membawa tim asuhannya melewati babak kualifikasi dengan catatan nyaris sempurna. Tujuh kemenangan dan satu hasil imbang dari delapan pertandingan menjadi bukti bahwa Kroasia masih memiliki kualitas untuk bersaing dengan siapa pun.

“Kami ingin menggunakan setiap pertandingan sebagai bagian dari proses menuju Piala Dunia. Belgia adalah lawan yang memiliki kualitas dan pengalaman yang sangat tinggi sehingga laga ini menjadi ujian yang ideal bagi kami,” ujar Dalic.

Pelatih berusia 59 tahun itu menegaskan bahwa fokus utamanya bukan sekadar hasil akhir. Dia ingin melihat perkembangan struktur permainan yang akan menjadi fondasi tim pada putaran final tahun depan.

“Kami sedang mengembangkan beberapa opsi taktik baru. Para pemain harus mampu beradaptasi dengan berbagai situasi pertandingan. Saya ingin melihat bagaimana tim bereaksi menghadapi tekanan dari lawan sekelas Belgia,” ujarnya.

Kroasia akan memulai petualangan mereka di Piala Dunia dengan menghadapi Inggris pada tanggal 17 Juni mendatang dalam Grup L yang juga dihuni Panama dan Ghana. Sebelum itu Dalic ingin memastikan seluruh elemen tim berada dalam kondisi terbaik.

Hasil uji coba pada bulan Maret lalu memberikan gambaran yang beragam. Kroasia sempat menunjukkan karakter kuat saat bangkit dari ketertinggalan untuk mengalahkan Kolombia 2-1. Namun beberapa hari kemudian mereka takluk 1-3 dari Brasil.

Meski kalah dari tim asuhan Carlo Ancelotti, Kroasia tetap menunjukkan bahwa mereka masih memiliki fondasi yang kokoh. Kekalahan tersebut bahkan menjadi yang pertama setelah sembilan pertandingan tanpa kekalahan.

Di sisi lain Belgia datang dengan beban yang berbeda. Selama bertahun-tahun mereka disebut sebagai generasi emas yang gagal memenuhi potensi. Nama-nama seperti Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku, Thibaut Courtois dan Eden Hazard pernah diproyeksikan membawa Belgia menjadi juara dunia atau Eropa. Namun kenyataannya tidak pernah demikian.

Kegagalan lolos dari fase grup Piala Dunia 2022 menjadi pukulan telak. Dua tahun kemudian perjalanan mereka di Piala Eropa 2024 juga berakhir prematur di babak 16 besar. Hasil tersebut memperkuat anggapan bahwa era terbaik Belgia telah berlalu tanpa menghasilkan trofi.

Tanggung jawab membangun kembali optimisme kini berada di tangan Rudi Garcia. Mantan pelatih Lyon dan Napoli itu mulai menunjukkan perkembangan positif meski belum sepenuhnya meyakinkan.

Dalam 12 pertandingan pertamanya Garcia membukukan tujuh kemenangan. Belgia juga berhasil menjuarai grup kualifikasi Piala Dunia tanpa terkalahkan dan mempertahankan tempat di divisi utama UEFA Nations League setelah menyingkirkan Ukraina dalam playoff.

“Kroasia adalah salah satu tim paling berpengalaman di dunia saat ini. Mereka selalu tampil kompetitif dalam turnamen besar dan itulah alasan pertandingan ini sangat penting bagi kami,” ujar Garcia.

Menurutnya Belgia masih memiliki kualitas untuk bersaing di level tertinggi meskipun sejumlah pemain inti telah memasuki fase akhir karier mereka.

“Kami memiliki kombinasi pemain senior dan pemain muda yang menarik. Target kami adalah membangun keseimbangan yang tepat sehingga tim dapat tampil maksimal ketika Piala Dunia dimulai,” ujarnya.

Secara statistik Belgia menunjukkan perkembangan menjanjikan. Mereka tidak terkalahkan dalam 11 pertandingan terakhir di semua ajang dan mencetak 38 gol selama periode tersebut. Produktivitas itu menjadi sinyal bahwa lini serang mereka tetap berbahaya.

Kondisi Tim

Namun Belgia juga menghadapi sejumlah persoalan. Kondisi Romelu Lukaku masih belum sepenuhnya pulih setelah mengalami cedera otot. Penyerang Napoli itu bahkan belum bermain sejak Maret sehingga peluang tampil sebagai starter masih diragukan. Apabila Lukaku belum siap, Garcia kemungkinan memberikan kesempatan kepada Matias Fernandez-Pardo untuk menjalani debut penuh di lini depan.

Sementara itu, Kroasia tetap mengandalkan pengalaman Luka Modric. Meski telah berusia 40 tahun gelandang legendaris tersebut masih menjadi pemimpin utama tim. Modric kini hanya membutuhkan empat penampilan lagi untuk mencapai 200 caps bersama tim nasional sebuah pencapaian yang akan semakin menegaskan statusnya sebagai salah satu pemain terbesar dalam sejarah sepak bola Kroasia.

Pertemuan di Rijeka menjadi lebih menarik karena mempertemukan dua generasi emas yang berada di persimpangan jalan. Kroasia berusaha membuktikan bahwa mereka masih mampu menantang negara-negara elite dunia. Belgia ingin menunjukkan bahwa cerita generasi emas mereka belum berakhir.

Hasil pertandingan mungkin tidak menentukan apa pun dalam klasemen. Namun dari sudut pandang yang lebih luas laga ini akan menjadi ukuran penting untuk menilai apakah dua kekuatan Eropa tersebut masih memiliki kapasitas mewujudkan mimpi yang selama ini terus mereka kejar. ben/AFP/G-1

Perkiraan Formasi

Kroasia 3-4-3

Livakovic

Pongracic, Vuskovic, Gvardiol

Stanisic, Modric, M. Pasalic, Perisic

Kramaric, Baturina; Budimir

Belgia 4-2-3-1

Courtois

Castagne, De Winter, Theate, De Cuyper

Tielemans, Witsel

Saelemaekers, De Bruyne, Doku

Fernandez-Pardo

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.