WHO: Tingkat Kematian Ebola Bundibugyo Bisa Mencapai 50 Persen

Sabtu, 30 Mei 2026, 08:53 WIB

MOSKOW - Tingkat kematian akibat virus Ebola galur Bundibugyo yang sedang mewabah bisa mencapai 50 persen, kata seorang pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (29/5).

Pejabat teknis program kedaruratan kesehatan WHO Anais Legand mengatakan bahwa berdasarkan wabah Bundibugyo sebelumnya, tingkat kematian di antara pasien yang terkonfirmasi terinfeksi oleh virus tersebut mencapai 30-50 persen.

Ket. Foto: — Sumber: ANTARA/ANADOLU

"Angka ini sangat tinggi. Artinya, hingga lima dari setiap 10 orang kemungkinan akan meninggal," kata Legand dalam pengarahan di Jenewa, seperti dikutip RIA Novosti.

Pada Kamis, WHO menerbitkan rekomendasi perawatan suportif bagi pasien Ebola dan vaksin kandidat yang sedang dikembangkan.

Badan PBB itu menyebut vaksin rekombinan dosis tunggal rVSV Bundibugyo yang dikembangkan oleh International AIDS Vaccine Initiative sebagai kandidat paling menjanjikan.

Menurut WHO, pengembangan vaksin tersebut diperkirakan memerlukan waktu tujuh hingga sembilan bulan.

Vaksin kandidat lain, ChAdOx1 Bundibugyo, sedang dikembangkan oleh Universitas Oxford dan Serum Institute of India.

WHO memperkirakan vaksin tersebut dapat tersedia dalam dua hingga tiga bulan untuk dievaluasi efektivitasnya melalui uji klinis.

Legand mengatakan masih terlalu dini untuk memastikan apakah wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RDK) telah melewati puncaknya.

"Hingga 28 Mei, tercatat 125 kasus terkonfirmasi, termasuk 17 kematian, di 13 zona kesehatan," ujarnya.

WHO memperkirakan jumlah kasus baru akan terus bertambah seiring meluasnya pengujian terhadap masyarakat.

WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan maupun perdagangan dengan RDK dan Uganda selama wabah berlangsung.

Namun, kedua negara tetap diwajibkan melakukan pemeriksaan terhadap seluruh pelaku perjalanan yang akan berangkat.

Sebelumnya pada hari yang sama, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni meminta pimpinan Uni Eropa untuk meningkatkan koordinasi pengawasan perbatasan menyusul wabah Ebola di Afrika.

WHO telah menetapkan wabah Ebola di RDK dan Uganda sebagai keadaan darurat yang berisiko menyebar ke negara lain.

Menurut data WHO, hingga kini tercatat 906 kasus suspek Ebola dan 223 kematian. Wabah Ebola sebelumnya di RDK berakhir pada Oktober 2025.

  • wabah ebola

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Harga Cabai Rawit Rp67.350/Kg, Telur Ayam Rp29.350/Kg

Sebanyak 16 Perusahaan Masih Jaring Pencari Kerja di Job Fair Online

Pemuda.ai Diluncurkan, Dorong Penguatan Ekosistem AI Nasional

Harga Kakao Kering di Lebak Mengalami Kenaikan hingga Tembus Rp60 Ribu/Kg

Investor Qatar Bidik Lahan Kampung Bandan untuk Proyek Perumahan

PT Telkom Indonesia Nyatakan Konektivitas Digital Pascagempa NTT Sudah Pulih 100 Persen

Hingga Agustus, Samsat Palu Catat Realisasi PKB Rp50,72 Miliar

Mentan Andi Amran Sulaiman Copot 14 Pejabat Kementan, Diduga Terlibat Penyimpangan Uang Miliaran

3,6 Ton Daging Tanpa Dokumen Digagalkan di Pelabuhan Merak, Langsung Dimusnahkan.

Jelang MotoGP Mandalika 2026, Pemkab Lombok Tengah Bentuk Satgas Pengawasan Akomodasi.

Akibat Korsleting Listrik, Sebuah Rumah di Matraman Jakarta Timur Terbakar

Ekspor Perikanan Batam ke Singapura Capai 3.678 Ton, Nilainya Rp125 Miliar.

Mataram Siapkan 60.000 Benih Ikan Nila, Dorong Ketahanan Pangan Masyarakat.

Berikut Daftar Harga Emas Galeri24, Antam, dan UBS di Pegadaian yang Kompak Turun pada Rabu (19/8)

Harga Pupuk Turun 20 Persen, Petani Sumedang Rasakan Biaya Produksi Lebih Ringan.

Harga Emas Antam Anjlok Rp50.000 Menjadi Rp2,645 Juta/Gr pada Rabu (19/8)

TelkomGroup Pulihkan 100 Persen Layanan Telekomunikasi Pascagempa NTT

Menaker: Jaminan Sosial Harus Jadi Jalan Menuju Kemandirian Ekonomi Keluarga Pekerja.

PT Pertamina Patra Niaga Bantu 35.000 Lt Air Bersih untuk Warga Maumere

Pameran SBY Art Community 2026 Jadi Jembatan Seni Jakarta dan Berlin

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.