Rupiah Melemah Tajam, Pemerintah Tahan Harga BBM Subsidi Demi Stabilitas
Jumat, 29 Mei 2026, 18:50 WIBJAKARTA â Keputusan pemerintah untuk menahan harga BBM subsidi di tengah pelemahan rupiah mencerminkan kebijakan yang lebih menitikberatkan pada stabilitas daya beli dan inflasi domestik.
Di saat tekanan nilai tukar meningkatkan biaya impor energi, kebijakan ini berfungsi sebagai peredam guncangan agar kenaikan harga tidak langsung diteruskan ke masyarakat.
Namun, dari sisi fiskal, kebijakan tersebut berimplikasi pada potensi peningkatan beban subsidi energi yang harus ditanggung negara, terutama jika pelemahan rupiah dan harga minyak global bertahan lama. Kondisi ini menuntut keseimbangan antara perlindungan sosial dan keberlanjutan anggaran.
Secara keseluruhan, keputusan menahan harga BBM subsidi menunjukkan pendekatan jangka pendek yang stabilisatif, sembari tetap membuka ruang bagi penyesuaian kebijakan energi yang lebih adaptif terhadap dinamika global ke depan.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjamin harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak akan naik walau kurs dolar AS terhadap rupiah tembus Rp17.877 per dolar.
âUntuk kenaikan harga BBM yang untuk subsidi, ini kan sudah disampaikan (tidak naik hingga akhir tahun),â ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (29/5).
Selain harga, Yuliot juga menyampaikan bahwasanya stok BBM pun aman, bahkan berada di atas cadangan minimal. Adapun standar minimal stok operasional nasional berada di angka 23 hari.
âMisalkan untuk Pertalite itu jauh di atas cadangan minimal, dan juga untuk solar CN48 itu juga di atas cadangan minimal,â kata Yuliot.
Untuk pasokan BBM nonsubsidi, Yuliot juga menyampaikan ketersediaannya cukup secara nasional.
Dalam menghadapi kurs rupiah yang melemah terhadap dolar AS, Yuliot mengatakan pemerintah terus mendorong peningkatan produksi minyak di dalam negeri. Selain itu, pemerintah juga mempersiapkan kilang di dalam negeri.
âProduksi di dalam negeri kami dorong untuk peningkatan, kilang di dalam negeri pun itu juga kami sudah siapkan,â ujar Yuliot.
Nilai tukar kini menembus level psikologis baru di kisaran Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS. Padahal, suku bunga acuan (BI-Rate) telah dinaikkan 50 basis poin (bps) ke level 5,25 persen demi memperkuat stabilisasi rupiah.
Berdasarkan Kurs Transaksi Bank Indonesia yang diakses dari Jakarta, Jumat, kurs dolar AS terhadap rupiah tembus Rp17.877 per dolar.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan meskipun rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 sebesar 117,31 dolar AS per barel, harga BBM bersubsidi tetap aman.
Ia merujuk kepada rata-rata harga minyak mentah Indonesia dari Januari 2026 yang belum menyentuh batas 100 dolar AS per barel.
âRata-rata ICP kita sekarang itu kurang lebih sekitar 80â81 dolar AS dari bulan Januari sampai sekarang. Jadi, belum sampai 100 dolar AS,â kata Bahlil.
Oleh karena itu, Bahlil kembali menekankan bahwa harga BBM bersubsidi masih aman hingga akhir tahun 2026.
âInsya-Allah sampai akhir tahun,â ujar dia.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pameran Keris Nasional di TMII
-
Wagub Rano Temui Wali Kota Kopenhagen, Cari Inspirasi Sulap Jakarta Jadi Lebih Adem
-
Jepang Gelisah Soal Trump dan Jinping Bahas Taiwan
-
Sempat Tertunda, Proyek Blok Tuna Hidup Lagi! Perusahaan Rusia Siap Gaspol Juni 2026
-
Keuntungan dari Lemahnya Rupiah, Jangan-Jangan Ini Memang Strategi Ekonomi RI
-
Harga Emas UBS, Antam, dan Galeri24 Stabil di Pegadaian pada Senin Pagi
-
Rupiah Nyaris Jebol Rp18.000 per Dollar AS Ini Biang Keroknya
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.