Bukan Sekadar Fundamental, Pasar Menguji Kredibilitas dan Konsistensi Kebijakan Pemerintah

Jumat, 29 Mei 2026, 01:15 WIB

JAKARTA - Nilai tukar rupiah yang terus tertekan melampui posisi 17.800 per dollar Amerika Serikat (AS) karena menanggung banyak tekanan ekonomi. Sebab, dalam kondisi normal, ketika harga energi global naik, maka otoamtis akan berdampak pada inflasi, fiskal, harga domestik, dan nilai tukar.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (28/5) mengatakan ketika penyesuaian domestik dilakukan sangat hati-hati demi menjaga stabilitas sosial dan daya beli, maka tekanan akhirnya lebih banyak berpindah ke rupiah.

Ket. Foto: Stabilitas Moneter - Tekanan Pindah ke Kurs — Sumber: antara

“Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs,” jelas Fakhrul.

Hal itu membuat pelemahan rupiah tampak jauh lebih besar dibandingkan beberapa indikator ekonomi lainnya. Kondisi saat ini, relevan dengan teori Dornbusch Overshooting, di mana ketika harga domestik rigid sementara pasar keuangan bergerak cepat, maka nilai tukar akan bergerak jauh lebih ekstrem dibanding fundamentalnya.

“Inflasi yang seharusnya muncul di banyak tempat akhirnya terlalu banyak ditanggung oleh rupiah,” paparnya.

Fenomena itu sering terjadi di negara berkembang yang memilih menjaga stabilitas harga domestik dalam jangka pendek. Apalagi, Pemerintah saat ini menghadapi dilema besar antara menjaga daya beli masyarakat dan menjaga stabilitas eksternal.

Keputusan untuk menahan penyesuaian harga energi dapat dipahami dari sisi sosial dan politik. Namun konsekuensinya, tekanan ekonomi menjadi lebih terkonsentrasi di pasar keuangan.

“Kalau harga domestik dibuat rigid sementara tekanan global terus naik, maka pasar valuta asing akhirnya yang bergerak paling ekstrem,” katanya.

Meskipun inflasi domestik masih terkendali, sektor perbankan relatif sehat, dan pertumbuhan ekonomi masih positif, namun pasar kata Fakhrul mengingatkan untuk saat ini tidak hanya melihat angka headline.

“Pasar melihat apakah Indonesia punya policy anchor yang cukup kuat untuk menghadapi era global baru yang jauh lebih volatile dan inflationary,” katanya.

Hal yang tengah diuji saat ini bukan hanya fundamental ekonomi, tetapi kredibilitas dan konsistensi kebijakan. Selain itu, faktor domestik juga berperan karena pasar melihat adanya ketidakseimbangan antara kebijakan fiskal dan moneter. Sejumlah komunikasi kebijakan yang muncul mendadak di tengah sentimen pasar yang buruk turut memperbesar ketidakpastian.

“Ketika fiskal memilih menjaga inflasi tetap rendah dan adjustment harga sangat terbatas, maka BI dan rupiah harus bekerja jauh lebih keras,” kata Fakhrul.

Belanja Membengkak

Di waktu lain, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti mengatakan, nilai tukar rupiah yang terus melemah berpotensi membebani anggaran negara dan memberi tekanan ke sektor swasta. Sebab itu, Pemerintah perlu kombinasi kebijakan yang hati-hati agar tidak memicu kepanikan pasar.

Pelemahan rupiah jelasnya membuat belanja negara membengkak, khususnya pada subsidi energi, pembayaran utang luar negeri, dan pos lain yang berbasis dollar AS.

“Swasta pun terdampak jika menggunakan bahan baku impor dan utang luar negeri,” katanya.

Untuk meredam hal itu, dia meminta Pemerintah menghindari pernyataan yang blunder di ruang publik. Selain itu, untuk menahan laju pelemahan yakni menjaga suku bunga tetap tinggi untuk sementara dan menjaga disiplin fiskal agar anggaran lebih terarah.

Anggaran perlu didorong ke kegiatan produktif yang bisa menghasilkan pendapatan, meski tidak lagi bergantung penuh pada dana APBN.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Achmad Maruf menilai pelemahan rupiah tidak bisa hanya dilihat sebagai mekanisme penyesuaian pasar semata, melainkan juga mencerminkan kerentanan struktur ekonomi domestik yang masih bergantung pada impor dan tekanan eksternal.

Menurut Achmad, tekanan terhadap rupiah akan lebih mudah terjadi ketika fondasi produksi dalam negeri belum cukup kuat, terutama pada sektor energi dan bahan baku industri. Dalam kondisi seperti itu, gejolak global akan cepat memengaruhi nilai tukar dan harga barang di dalam negeri.

“Masalahnya bukan sekadar kurs naik atau turun, tetapi ketahanan ekonomi domestiknya. Selama ketergantungan impor masih tinggi, tekanan global akan mudah masuk ke dalam negeri,” kata Maruf.

Pelemahan rupiah dalam jangka panjang katanya bisa berdampak langsung terhadap biaya produksi dan daya beli masyarakat karena banyak kebutuhan industri dan konsumsi masih terkait barang impor. Menurutnya, kondisi ini perlu direspons lewat penguatan sektor riil, bukan hanya menjaga stabilitas pasar keuangan.

Dia pun meminta Pemerintah mempercepat penguatan industri domestik dan mengurangi kebergantungan terhadap impor agar ekonomi nasional tidak terlalu rentan setiap kali terjadi tekanan global maupun gejolak nilai tukar.

  • Stabilitas Moneter

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.