Ekspor RI perlu Didorong ke Produk dengan Kompleksitas dan Teknologi Tinggi

Selasa, 26 Mei 2026, 01:05 WIB

JAKARTA - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menilai bahwa transformasi ekonomi nasional harus tercermin dalam struktur produksi dan ekspor nasional. Jika masih terus bergantung pada bahan mentah dan komoditas primer, maka sulit untuk meningkatkan nilai tambahnya.

Selama dua dekade terakhir, kinerja ekspor Indonesia memang terus bertumbuh, tetapi belum diikuti daya saing dan kompleksitas yang kuat. Tercatat, dari 5.199 produk ekspor, baru sekitar 1.041 produk yang kompetitif di pasar global, sementara struktur ekspor masih didominasi komoditas dan produk padat karya.

Ket. Foto: YB Suhartoko Dosen Magister Ekonomi Terapan Universitas Katolik Atma Jaya - Jika ekspor mau ditingkatkan ke teknologi dan lebih kompleks, mau tidak mau sumber daya manusia harus ditingkatkan keterampilan dan pendidikannya. — Sumber: afp

Oleh sebab itu, diperlukan kebijakan yang lebih terarah untuk mendorong produk berkompleksitas tinggi agar menjadi motor baru pertumbuhan ekspor Indonesia.

Dosen Magister Ekonomi Terapan Universitas Katolik Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan komoditas ekspor terbesar Indonesia saat ini masih didominasi minyak hewani dan nabati, besi dan baja, serta mesin dan peralatan listrik.

“Tantangannya adalah melakukan transformasi ekspor menuju produk industri pengolahan atau manufaktur yang bernilai tambah tinggi,” kata Suhartoko.

Lima negara tujuan ekspor utama Indonesia masih didominasi oleh Tiongkok, Amerika Serikat, India, Jepang, dan Singapura. Pola tersebut menunjukkan bahwa negara-negara tersebut hanya membutuhkan komoditas primer dari Indonesia.

“Dominasi negara tujuan ekspor sudah menunjukkan mereka hanya membutuhkan komoditi primer dari Indonesia,” jelasnya.

Jika Indonesia mampu melakukan diversifikasi produk ekspor, maka posisi tawar di pasar global akan semakin kuat. Namun, proses transformasi ekspor tersebut masih menghadapi sejumlah kendala.

Tantangan yang dihadapi meliputi produktivitas hulu yang rendah, kesenjangan infrastruktur, serta perlunya integrasi yang lebih baik bagi sektor UMKM ke dalam rantai nilai global.

Peningkatan ekspor ke produk teknologi dan manufaktur yang lebih kompleks tidak bisa lepas dari peningkatan kualitas sumber daya manusia. “Jika ekspor mau ditingkatkan ke teknologi dan lebih kompleks, mau tidak mau sumber daya manusia harus ditingkatkan keterampilan dan pendidikannya,” tegasnya.

Proses tersebut, membutuhkan waktu panjang serta konsistensi dan kontinuitas kebijakan dari pemerintah. Tanpa itu, transformasi struktur ekspor Indonesia akan sulit tercapai.

Teknologi Tinggi

Dalam peluncuran dashboard Potensi Ekspor Indonesia di Jakarta, Senin (25/5), Wakil Menteri PPN/Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard menyampaikan kalau ekspor Indonesia masih didominasi komoditas dan produk pada karya, sehingga perlu didorong menuju produk dengan kompleksitas dan berteknologi tinggi.

“Ini menunjukkan bahwa pekerjaan rumah kita masih sangat besar, karena itu perlu terus bergerak menuju penguatan industri di bidang manufaktur hilirisasi yang lebih dalam. Oleh karena itu, di titik itulah sebetulnya nilai tambah tercipta dan di situlah produktivitas tumbuh dan di situlah daya saing sebuah bangsa dibangun dalam jangka yang panjang,” kata Febrian.

Indonesia tambahnya merupakan negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, kuat, dan mampu mengubah sumber daya menjadi nilai tambah menjadi industri, inovasi, dan pada ujungnya menjadi produk yang memiliki daya saing global.

“Saya tidak hanya bicara apa yang semata-mata kita ekspor, tapi kita harus melihat dalam spektrum yang lebih luas bagaimana kedudukan kita di dalam percaturan perdagangan dunia,” kata Febrian.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.