Cuaca Ekstrem Ancam Piala Dunia 2026, Panas Terik hingga Badai Petir Jadi Sorotan

Selasa, 26 Mei 2026, 00:30 WIB

NEW YORK — Piala Dunia 2026 di Amerika Utara diperkirakan tidak hanya menghadirkan persaingan sengit di lapangan, tetapi juga tantangan berat dari cuaca ekstrem. Suhu panas yang menyengat, udara lembap, asap kebakaran hutan, hingga badai petir disebut berpotensi mengganggu jalannya turnamen.

Piala Dunia 2026 akan digelar di 16 kota di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada periode musim panas, saat beberapa wilayah biasanya mengalami temperatur tinggi dengan tingkat kelembapan yang membuat udara terasa semakin menyesakkan.

Ket. Foto: Ilustrasi suporter sepak bola dalam cuaca panas. — Sumber: AFP

Dalam kondisi seperti itu, suhu sebenarnya bisa terasa jauh lebih panas dibanding angka di termometer. Misalnya, suhu udara 32 derajat celcius dapat terasa beberapa derajat lebih tinggi karena kelembapan yang tinggi membuat keringat sulit menguap dari tubuh.

Situasi tersebut bisa berdampak langsung pada pemain maupun penonton di stadion terbuka. Pemain berisiko lebih cepat kelelahan, mengalami dehidrasi, kram otot, bahkan penurunan performa karena tubuh bekerja lebih keras untuk menurunkan suhu.

Sementara bagi penonton, terutama yang berada berjam-jam di bawah sinar matahari, cuaca panas dapat memicu pusing, mual, hingga heatstroke atau serangan panas.

Kekhawatiran ini semakin besar setelah sejumlah pertandingan di Piala Dunia Antar Klub tahun lalu dimainkan dalam suhu di atas 32 derjat celcius dengan tingkat kelembapan tinggi yang membuat kondisi terasa jauh lebih panas.

Para ilmuwan iklim bahkan memperingatkan bahwa sekitar seperempat pertandingan Piala Dunia 2026 berpotensi terdampak “panas ekstrem”, termasuk partai final di New Jersey.

Untuk mengurangi risiko, FIFA akan memakai beberapa stadion beratap atau berpendingin udara di kota seperti Atlanta, Dallas, Houston, Los Angeles, dan Vancouver.

Namun, mayoritas stadion tetap terbuka sehingga ancaman cuaca panas masih sulit dihindari. FIFA juga telah menyiapkan cooling break atau jeda minum di tengah pertandingan agar pemain dapat mendinginkan tubuh.

Selain panas, badai petir menjadi ancaman serius lainnya. Musim panas di banyak wilayah Amerika Utara identik dengan hujan deras disertai kilat dan petir yang muncul secara tiba-tiba.

Dalam aturan keselamatan di Amerika Serikat, pertandingan wajib dihentikan jika ada sambaran petir dalam radius sekitar 13 hingga 16 kilometer dari stadion. Penundaan minimal berlangsung 30 menit, dan waktu akan diulang dari awal jika kembali muncul petir.

Hal ini sempat terjadi berulang kali pada Piala Dunia Antarklub tahun lalu, ketika enam pertandingan mengalami penundaan panjang akibat cuaca buruk.

Para ahli menjelaskan bahaya petir tidak selalu terlihat langsung. Sambaran dapat terjadi meski badai masih berada beberapa kilometer dari stadion.

“Banyak orang merasa aman jika belum melihat kilat atau mendengar petir. Padahal sambaran bisa terjadi jauh dari pusat badai,” ujar ilmuwan iklim University of Delaware, Kelsey Malloy.

Selain badai, kebakaran hutan di Kanada dan wilayah California juga menjadi perhatian karena asapnya dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan pemain maupun suporter.

Perubahan iklim disebut memperbesar risiko cuaca ekstrem tersebut. Suhu bumi yang semakin panas dinilai membuat badai lebih kuat, curah hujan lebih deras, dan potensi petir meningkat.

Sejumlah pemain profesional bahkan telah meminta FIFA memperbarui standar perlindungan terhadap cuaca panas di Piala Dunia. Mereka menilai turnamen sebesar ini harus lebih serius menghadapi dampak krisis iklim terhadap kesehatan pemain dan penonton.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

Berita Terbaru

Tradisi Pasar Jajan, Kearifan Lokal Pekalongan Cermin Semangat Gotong Royong

Rantai Makanan Rusak, Harimau Terancam Masuk Permukiman dan Kehilangan Mangsa

Fantastis! Ribuan Robot Humanoid Bakal Adu Kemampuan di World Humanoid Robot Games

Piala Super Jerman Jatuh ke Tangan Muenchen

Hati-hati! Sindikat Pemalsuan Uang di Tangsel Hendak Edarkan ke Bank, Ini Modusnya

UMKM Tegal Punya Harapan Baru, OJK Perkuat Akses Pembiayaan

Awal yang Baik bagi Madrid Bersama Mourinho Usai Tundukkan Espanyol

Program-program Unggulan Gorontalo akan Menuju Laut

Banjarmasin 5 Abad, Festival Tari Jadi Cara Rawat Tradisi Banjar

NU Menegaskan akan Menolak Penggunaan Uang dalam Muktamar. Politik Uang Itu Moral Bobrok

Jangan Tertipu! BP3MI Sulsel Ingatkan Warga Pilih Jalur Resmi Kerja di Luar Negeri

Awal yang Cantik di Periode Kedua, Mourinho bawa Madrid Kalahkan Espanyol 2-1

Lima Mahasiswa UI Bikin Gebrakan di AS, Jadi Satu-satunya Tim S-1 di Program Geosains Dunia

Mandi di Pantai Tuturuga Berujung Petaka, 4 Orang Terseret Ombak

Niat Awal Ingin Inspeksi, GM Pelindo Maumere Justru Berjibaku Selamatkan Korban Gempa Jatuh ke Laut

Hebat Prestasi Mendunia! Lima Mahasiswa UI Tembus Program Geosains di Houston

Jalan Layang Bomang Buka Akses Warga Bojonggede dan Parung Langsung ke Cibinong

Pemkot Pariaman dan KKP Koordinasi Realisasikan Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih

Beras Indonesia Surplus 3,67 Juta Ton, Kok Harga di Daerah Masih Bisa Rp30 Ribu?

Inter Milan Rekrut Curtis Jones dari Liverpool, Kontrak hingga 2031

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.