UGM dan Dewan Jamu DIY Ajak Masyarakat Hidupkan Budaya Minum Jamu

Senin, 25 Mei 2026, 17:15 WIB

YOGYAKARTA - Peringatan Hari Jamu Nasional 2026 di Universitas Gadjah Mada (UGM) berlangsung semarak melalui kegiatan Gerakan Minum Jamu Serentak yang digelar bersama Dewan Jamu Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara yang berlangsung di Grha Sabha Pramana (GSP), Senin (25/5), diikuti kalangan akademisi, tenaga kesehatan, komunitas jamu, hingga masyarakat umum yang datang dengan balutan busana tradisional serta membawa berbagai racikan jamu.

Dalam kegiatan itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menekankan bahwa jamu tidak hanya dikenal sebagai minuman tradisional, tetapi juga telah tumbuh menjadi bagian dari perjalanan kehidupan masyarakat Indonesia dari generasi ke generasi.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. UGM

Ia mengisahkan kedekatan pribadinya dengan jamu yang berawal sejak masa kecil melalui kebiasaan yang diterapkan di lingkungan keluarga.

"Saya masih ingat waktu kecil saya tidak doyan makan dan orang tua saya memberi jamu. Dari situ saya mengenal jamu. Pengalaman itu sederhana, tetapi memperlihatkan bahwa jamu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kita sejak lama," ungkapnya.

Menurut Danang, pengembangan jamu membutuhkan pendekatan yang lebih luas dibandingkan sekadar kajian kesehatan. Potensi Indonesia yang kaya akan keragaman hayati, budaya, dan lingkungan dinilai menjadi kekuatan besar dalam pengembangan riset berbasis herbal.

"Jamu bukan sekadar urusan laboratorium atau penelitian medis. Jamu adalah warisan budaya yang hidup di masyarakat. Indonesia punya kekayaan biodiversitas, geodiversitas, dan cultural diversity yang luar biasa. Kombinasi ketiganya menjadi fondasi penting bagi perkembangan budaya jamu di Indonesia," jelasnya.

Ia menambahkan, berbagai bidang keilmuan di UGM selama ini telah terlibat dalam pengembangan jamu. Keterlibatan lintas disiplin dinilai penting agar pengembangan produk herbal dapat semakin kuat, terstandarisasi, dan mendapat kepercayaan masyarakat.

"Tantangan kita sekarang adalah bagaimana jamu semakin diterima sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat. Karena itu diperlukan riset yang kuat, standardisasi, sampai advokasi kebijakan agar jamu dapat semakin dipercaya dan dimanfaatkan secara luas," tutur Danang.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Jamu Indonesia DIY, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, FINASIM, mengingatkan pentingnya membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan sejak dini melalui langkah pencegahan.

Menurut dia, kebiasaan hidup sehat, termasuk mengonsumsi jamu, dapat menjadi salah satu cara mendukung pencegahan berbagai penyakit yang banyak ditemui di masyarakat.

"Jangan menunggu sakit dulu baru datang ke rumah sakit. Yang paling penting adalah pencegahan di masyarakat. Jamu memiliki posisi untuk menjaga kebugaran dan membantu mencegah penyakit. Karena itu budaya minum jamu perlu terus diperkuat," katanya.

Nyoman juga menilai besarnya kekayaan tanaman herbal Indonesia belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, potensi tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga dapat mendukung sektor ekonomi dan pelestarian lingkungan.

"Kita punya kekayaan hayati luar biasa, tetapi masih banyak mengimpor bahan obat. Padahal tanaman di sekitar kita menyimpan potensi besar untuk kesehatan masyarakat. Kalau pengembangan jamu berjalan baik, manfaatnya bisa dirasakan untuk kesehatan, ekonomi, hingga lingkungan," ujarnya.

Kegiatan kemudian ditutup dengan minum jamu bersama di Lapangan Pancasila GSP UGM. Momentum tersebut menjadi ajakan bersama untuk menghidupkan kembali budaya minum jamu di tengah masyarakat modern sekaligus menjaga keberlanjutan warisan tradisional Indonesia.

  • Jamu
  • Hari Jamu Nasional

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.