AS Tidak Biarkan Iran Jadikan Pasar Energi Global Sebagai Sandera

Senin, 25 Mei 2026, 01:05 WIB

JAKARTA - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio saat bertemu dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi di New Delhi India, akhir pekan lalu mengatakan tidak akan membiarkan Iran menjadikan pasar energi global sebagai “sandera” dalam perselisihan antara Teheran dan Washington.

Dalam kesempatan itu, Rubio juga menegaskan bahwa produk energi AS berpotensi untuk mendiversifikasi pasokan energi India seperti disampaikan Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott dalam pernyataannya.

Ket. Foto: Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. — Sumber: Julia Demaree Nikhinson/AFP

Isu tersebut menjadi perhatian karena India melanjutkan pembelian minyak dari Iran tahun ini, setelah jeda tujuh tahun menyusul langkah AS mencabut sanksi terhadap ekspor minyak Teheran di tengah konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Selama pembicaraan bilateral, Rubio dan Modi sepakat untuk memperdalam kerja sama perdagangan dan pertahanan serta mempercepat kolaborasi pada teknologi penting dan yang sedang berkembang.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN-News18, Rubio mengatakan isu seputar pembelian minyak Russia bukanlah tentang India.

“Ini tentang keinginan untuk memberikan tekanan pada Russia karena perang di Ukraina, dan India kebetulan merupakan pembeli besar, tetapi itu tidak pernah ditujukan kepada India secara khusus,” kata Rubio.

“Namun demikian, ada beberapa dinamika baru yang muncul sejak saat itu. Kami juga melihat peluang bagi India untuk melanjutkan rencananya mendiversifikasi sumber energinya. Hal itu termasuk Amerika Serikat, dan berpotensi beberapa negara lain seperti Venezuela. Jadi kami ingin terus menjadi mitra yang baik dalam hal itu,” katanya.

Rubio mengatakan bidang pertahanan akan menjadi salah satu area kunci yang dapat dikembangkan antara Washington dan New Delhi.

“Produksi bersama antara AS dan India terkait industri pertahanan akan ideal karena India memiliki kapasitas yang luar biasa,” katanya.

Perpanjang Gencatan Senjata

AS dan Iran dikabarkan akan segera meneken perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, sehingga membuka kembali Selat Hormuz yang memungkinkan Iran memulai kembali penjualan minyak dan menciptakan ruang untuk perundingan program nuklir Iran.

Seorang pejabat AS yang dekat dengan rancangan kesepakatan tersebut mengatakan usulan perdamaian yang masih belum difinalisasi tersebut dapat diumumkan paling cepat pada Minggu.

Namun demikian, pejabat tersebut memperingatkan bahwa masih ada kemungkinan kesepakatan gagal sebelum ditandatangani.

Menurut usulan nota kesepahaman yang siap diteken, Iran akan membersihkan ranjau di Selat Hormuz dan mengizinkan kapal-kapal lewat tanpa membayar bea lintas.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.