Aston Villa Menatap Era Keemasan Baru

Jumat, 22 Mei 2026, 07:05 WIB

ISTANBUL - Di bawah langit Istanbul yang memantulkan cahaya Selat Bosphorus, Aston Villa akhirnya menemukan kembali kejayaan yang lama hilang. Kemenangan meyakinkan 3-0 atas Freiburg dalam laga final Liga Eropa, Kamis (21/5) dini hari WIB, bukan sekadar akhir dari kelangkaan trofi selama 30 tahun. Lebih dari itu, hasil tersebut menjadi deklarasi bahwa Villa siap membuka lembaran baru sebagai kekuatan elite Eropa.

Sentuhan Unai Emery kembali terbukti menentukan. Pelatih asal Spanyol itu mengubah klub yang sempat terpuruk di papan bawah Liga Inggris menjadi tim yang kini disegani di Eropa. Di Istanbul, transformasi tersebut mencapai puncaknya.

Ket. Foto: Gelandang Skotlandia Aston Villa, John McGinn, dan rekan-rekan setimnya merayakan kemenangan setelah pertandingan final Liga Europa UEFA antara SC Freiburg lawan Aston Villa di Stadion Besiktas, Istanbul, pada 20 Mei 2026. — Sumber: Stefano RELLANDINI / AFP

Villa tampil matang, efektif, dan penuh keyakinan. Gol indah Youri Tielemans dan Emiliano Buendía pada babak pertama langsung meruntuhkan kepercayaan diri Freiburg. Ketika wakil Jerman mencoba bangkit, Morgan Rogers menutup pertandingan lewat gol ketiga yang memastikan malam bersejarah bagi publik Birmingham.

Trofi ini menjadi gelar pertama Villa sejak Piala Liga Inggris 1996 sekaligus mahkota Eropa pertama mereka sejak menjuarai Piala Champions pada tahun 1982. Penantian panjang itu kini berakhir dengan cara yang meyakinkan: Villa tidak hanya menang, tetapi juga menunjukkan kualitas sebagai tim yang siap bersaing di level tertinggi.

Emery menilai keberhasilan tersebut harus dijadikan fondasi untuk membangun era yang lebih besar. Baginya, trofi Liga Europa bukan garis akhir, melainkan titik awal ambisi baru Aston Villa. “Saya adalah sosok yang ambisius dan tentu membutuhkan dukungan dari semua pihak di klub. Perkembangan adalah segalanya,” ujar Emery selepas pertandingan.

Ucapan itu mencerminkan arah proyek besar yang tengah dibangun Villa. Dalam dua musim terakhir, Emery perlahan menanamkan identitas permainan yang disiplin, agresif, namun tetap efisien. Villa kini bukan lagi tim kejutan, melainkan penantang serius di Inggris maupun Eropa.

Musim depan, tantangan yang lebih berat sudah menanti. Villa akan tampil di Liga Champions, kompetisi yang menurut Emery menuntut konsistensi dan mental juara. Ia meminta para pemain dan manajemen menjaga standar tinggi agar klub tidak kembali tenggelam setelah satu keberhasilan besar.

“Kami semakin kuat, tetapi juga harus semakin menuntut diri sendiri. Liga Primer adalah kompetisi tersulit di dunia dan musim depan kami akan bermain di Liga Champions. Itulah tantangannya,” kata Emery. Keberhasilan di Istanbul sekaligus menegaskan reputasi Emery sebagai spesialis kompetisi Eropa. Gelar ini menjadi trofi Liga Europa kelimanya setelah sebelumnya tiga kali juara bersama Sevilla FC dan sekali membawa Villarreal CF naik podium.

Namun yang paling penting bagi Villa adalah perubahan mentalitas. Klub yang dahulu hanya bernostalgia pada kejayaan 1982 kini kembali memiliki alasan untuk bermimpi besar. Emery bahkan disejajarkan dengan legenda klub Tony Barton sebagai pelatih kedua yang sukses mempersembahkan trofi besar Eropa bagi Villa.

Di sisi lain, final pertama Eropa Freiburg justru berakhir pahit. Pelatih Julian Schuster mengakui timnya kehilangan kendali permainan setelah awal yang cukup menjanjikan. “Kami percaya bisa menang, tetapi kehilangan kontrol pertandingan dan itu sangat sulit diterima,” ujar Schuster.

Bagi Aston Villa, malam di Istanbul bukan hanya tentang mengangkat trofi. Ini adalah penanda bahwa klub tradisional Inggris tersebut tengah bergerak menuju panggung besar Eropa. ν ben/AFP/G-1

  • Aston Villa

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.