Burnley Bisa Menentukan Posisi Arsenal dan City
Senin, 18 Mei 2026, 06:52 WIBLONDON - Burnley bisa menjadi penentu berakhirnya penantian 22 tahun Arsenal menjadi juara Liga Inggis. Di sisi lain, Manchester City menunggu celah, setelah merebut juara Piala FA
Keyakinan mulai terasa di Emirates Stadium. Setelah dua dekade lebih hidup dalam bayang-bayang masa lalu, Arsenal kini berdiri hanya beberapa langkah dari gelar Liga Inggris yang selama ini terus menjauh. Pertandingan melawan Burnley, Selasa (19/5) dini hari WIB, bukan sekadar laga menghadapi tim yang sudah terdegradasi. Ini adalah ujian terakhir sebelum klub London Utara itu kembali menobatkan diri sebagai pusat kekuatan sepak bola Inggris.
Musim ini Arsenal tidak hanya bermain indah. Mereka belajar bertahan di tengah tekanan, menahan gugup dalam perburuan gelar, dan yang paling penting, menemukan karakter juara yang selama bertahun-tahun dipertanyakan. Jika mampu menundukkan Burnley dan menjaga momentum hingga pekan terakhir, tim asuhan Mikel Arteta akan mengakhiri penantian 22 tahun untuk kembali menjadi penguasa Inggris.
Di saat yang sama, Manchester City masih membayangi. Kemenangan City di final Piala FA akhir pekan lalu memastikan perburuan gelar belum sepenuhnya selesai. Namun untuk pertama kalinya dalam beberapa musim terakhir, kendali benar-benar berada di tangan Arsenal.
Tekanan terbesar Arsenal musim ini bukan datang dari lawan, melainkan dari trauma masa lalu. Dalam beberapa tahun terakhir mereka berkali-kali mendekati puncak sebelum akhirnya runtuh di tikungan akhir. Ketika hanya meraih satu kemenangan dari enam pertandingan antara akhir Maret hingga pertengahan April, keraguan lama kembali muncul. Narasi tentang Arsenal yang âgugup saat memimpinâ kembali menghantui Emirates.
Namun respons yang diberikan justru memperlihatkan kedewasaan baru. Empat kemenangan dari lima pertandingan terakhir menjadi jawaban paling jelas bahwa Arsenal kali ini berbeda. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan permainan menyerang, tetapi juga mampu memenangkan laga-laga ketat dengan efisiensi dan disiplin. Tiga kemenangan terakhir bahkan diraih tanpa kebobolan.
Kemenangan kontroversial atas West Ham United pekan lalu menjadi gambaran karakter baru tersebut. Dalam pertandingan penuh tensi di London Stadium, Arsenal sempat berada di ambang kehilangan poin setelah West Ham mencetak gol pada menit akhir. Namun VAR menganulir gol tersebut akibat pelanggaran terhadap David Raya dalam kemelut sepak pojok.
Keputusan wasit Chris Kavanagh dan VAR Darren England memicu ledakan emosi para pendukung Arsenal. Gol Leandro Trossard akhirnya menjadi penentu kemenangan yang bisa dikenang sebagai momen paling menentukan musim ini.
Kini Burnley datang ke Emirates dalam situasi yang sepenuhnya berbeda. Klub asal Lancashire itu sudah dipastikan terdegradasi dan hanya berusaha menghindari posisi juru kunci. Statistik mereka di laga tandang sangat buruk: baru mengumpulkan sembilan poin dan kebobolan 45 gol dari 18 pertandingan tandang musim ini.
Lebih buruk lagi, Burnley belum sekali pun mencatat clean sheet di luar kandang sepanjang musim. Rekor historis juga tidak berpihak kepada mereka. Arsenal memenangi 10 dari 10 pertandingan Liga Inggris melawan tim yang sudah dipastikan degradasi sejak 1992. Artinya, segala data mengarah pada satu kesimpulan: Arsenal seharusnya menang.
Namun justru di titik inilah tekanan terbesar muncul. Ketika gelar semakin dekat, kesalahan kecil bisa menjadi bencana. Arteta memahami hal itu. Karena itu ia terus menuntut timnya menjaga fokus, bukan larut dalam euforia.
Arsenal tetap harus berhati-hati terhadap masalah cedera. Ben White dipastikan absen hingga akhir musim akibat cedera lutut, sementara Riccardo Calafiori masih diragukan tampil. Meski demikian, kedalaman skuad Arsenal musim ini terbukti jauh lebih baik dibanding musim-musim sebelumnya.
Martin Odegaard diperkirakan kembali menjadi starter setelah tampil impresif dari bangku cadangan pekan lalu. Kehadiran kapten asal Norwegia itu menjadi penting karena Arsenal membutuhkan kontrol permainan dan ketenangan dalam menghadapi tekanan laga penentuan.
Sementara Burnley berharap pada produktivitas Zian Flemming, yang sudah mencetak 10 gol musim ini. Namun menghadapi lini belakang Arsenal yang sedang solid, peluang Burnley mencuri kejutan terlihat sangat tipis.
City Juara
Di tengah sorotan menuju Arsenal, Manchester City memastikan mereka belum menyerah dalam perburuan gelar. Tim asuhan Pep Guardiola menjuarai Piala FA setelah mengalahkan Chelsea 1-0 di Wembley melalui gol spektakuler Antoine Semenyo.
Trofi tersebut menjadi gelar domestik kedua City musim ini setelah sebelumnya menjuarai Piala Liga. Namun Guardiola langsung menahan perayaan karena sadar tugas utama belum selesai. City masih tertinggal dua poin dari Arsenal dan wajib memenangi dua laga terakhir melawan Bournemouth serta Aston Villa sambil berharap rival mereka terpeleset.
Guardiola menilai City kini kembali menemukan identitas permainan setelah sempat mengalami musim yang tidak stabil akibat badai cedera dan banyaknya pemain baru. ben/AFP/G-1
- Manchester City
- Arsenal
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Diburu Madrid dan Bayern, Josko Gvardiol Dipagari Kontrak Baru oleh Manchester City
-
Insentif yang Akurat akan Bangkitkan Ekosistem Manufaktur yang Kuat bagi Negara
-
Liga Inggris: Arsenal Berpeluang Perlebar Jarak dari Manchester City di Puncak Klasemen
-
Kaltim Siapkan 1.270 Ton Sampah per Hari untuk Pengelolaan Sampah Jadi Energi Listrik
-
Hasil Liga Champions: Arsenal ke final Liga Champions setelah singkirkan Atletico 1-0
-
Guardiola Yakin Marmoush Punya Peran Penting dalam Perburuan Gelar Manchester City
-
Arteta vs Luis Enrique: Sahabat Lama, Rival di Final Liga Champions
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.