Lonjakan Stok Beras Belum Jamin Harga Stabil
Rabu, 13 Mei 2026, 06:05 WIBKetahanan Pangan
JAKARTA â Rekor cadangan beras pemerintah (CBP) yang mencapai 5,23 juta ton menuai catatan dari pengamat. Tiga asÂpek jadi sorotan: efektivitas disÂtribusi, kelestarian lingkungan, dan keberlanjutan harga di tingkat petani.
Akademisi Fakultas PertaÂnian, Sains dan Teknologi UniÂversitas Warmadewa (Unwar) Denpasar, I Nengah Muliarta menilai lonjakan stok beras naÂsional hingga 5,23 juta ton belum otomatis menjamin stabilitas harga pangan. âStabiliÂtas harga yang diharapÂkan rakyat merupakan muara dari proses disÂtribusi yang panjang dan komÂpleks, di mana setiap hambatan di sepanjang jalur tersebut daÂpat dengan mudah membatalÂkan dampak positif dari meÂlimpahnya stok di tingkat hulu,â jelas dari Denpasar, Bali, Selasa (12/5).
Menurutnya, tanÂtangan utama justru terletak pada efektivitas rantai pasok dan disÂtribusi. Meski capaian stok dinilai sebagai prestasi besar, hambatan distribusi daÂpat membuat surplus beras tiÂdak berdampak langsung pada harga di pasar.
Dia juga mengingatkan beÂsarnya risiko logistik dari stok yang terlalu besar, seperti susut bobot dan penurunan kualitas beras jika sistem pergudangan dan perputaran stok tidak optiÂmal. Selain itu, pemerintah diÂnilai tidak cukup hanya mengÂandalkan penguasaan stok, tetapi juga harus memperkuat integritas distribusi, memotong rantai tengkulak, serta menjaga keseimbangan antara stabilitas harga konsumen dan kesejahÂteraan petani. âTanpa pengeloÂlaan rantai pasok yang presisi, surplus stok berpotensi menÂjadi beban baru bagi ekosistem pertanian nasional,â tegasnya.
Risiko Lingkungan
Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa menilai lonjakan CBP seharusnya tak hanya diliÂhat dari sisi jumlah stok, tetapi juga dampaknya terhadap stabilÂitas harga, kesejahteraan petani, dan keberlanjutan lingkungan. âKeberhasilan pangan nasional harus mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastiÂkan petani memperoleh manfaat ekonomi yang adil,â ujarnya.
Awan juga mengingatkan peningkatan produksi secara besar-besaran berisiko meÂnimbulkan kerusakan lingÂkungan jika terlalu bergantung pada pola pertanian intensif dan penggunaan input kimia berlebihan. Karena itu, dia mendorong agar kebijakan paÂngan mulai mengintegrasikan prinsip pertanian ramah lingÂkungan seperti agroekologi, roÂtasi tanaman, pengurangan puÂpuk sintetis, serta perlindungan lahan sawah berkelanjutan.
âTanpa langkah tersebut, surplus stok saat ini dikhawaÂtirkan justru mengancam proÂduktivitas pertanian dan keterÂsediaan sumber daya alam di masa depan,â katanya.
Sementara itu, Anggota DPR RI, Azis Subekti menilai lonjakÂan stok beras nasional menjadi bukti meningkatnya kapasitas negara dalam menjaga ketaÂhanan pangan.
- Stok Beras
- ketahanan pangan
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Arkhan Kaka Raih Bekal Berharga Usai Cetak Gol ke Gawang Aston Villa
-
Warga Penderita Tuberkulosis Diharap Berobat untuk Cegah Penularan
-
Rumah Kontraktor di Bengkulu Digeledah KPK, Tiga Koper Dokumen Dibawa Penyidik.
-
BMKG Prakirakan Hujan Sangat Ringan Masih Berpotensi Terjadi di Jawa Tengah Bagian Selatan
-
Program BIAS 2026 di Pekalongan Dimulai Agustus, Ribuan Siswa SD Jadi Sasaran Imunisasi.
-
EX90 dan ES90, Dua EV Jagoan dari Skandinavia untuk Gaya Hidup Premium Masa Kini.
-
Pemkot Bogor Apresiasi Kekompakan Warga Sempur Bebersih Sungai Ciliwung
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.