IHSG Hari Ini Tertekan, Investor Waswas Aturan Baru Tambang

Senin, 11 Mei 2026, 17:40 WIB

JAKARTA – Pelemahan IHSG di tengah rencana pemerintah menerapkan penyesuaian tarif royalti tambang pada awal Juni mencerminkan respons hati-hati pelaku pasar terhadap perubahan kebijakan fiskal di sektor sumber daya alam.

Investor cenderung melakukan rebalancing portofolio karena khawatir kebijakan tersebut dapat menekan margin keuntungan emiten tambang, terutama yang memiliki eksposur besar pada komoditas utama.

Ket. Foto: Pengunjung melihat layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Hafidz Mubarak A

Di sisi lain, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh ketidakpastian terkait detail implementasi kebijakan, termasuk struktur tarif baru dan dampaknya terhadap arus kas perusahaan.

Meski demikian, penyesuaian royalti dapat dipandang sebagai upaya pemerintah meningkatkan penerimaan negara di tengah volatilitas harga komoditas global.

Ke depan, arah IHSG akan sangat bergantung pada kejelasan regulasi serta kemampuan emiten beradaptasi terhadap struktur biaya yang baru

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (11/5) sore, ditutup melemah 63,78 poin atau 0,92 persen ke posisi 6.905,62.

IHSG sempat bergerak rebound terbatas setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan menunda penerapan tarif royalti komoditas tambang.

“Setelah melanjutkan koreksi pada sesi 1, IHSG sempat rebound terbatas setelah diberitakan bahwa Menteri ESDM menunda rencana penerapan tarif royalti tambang komoditas untuk tembaga, timah, nikel, emas dan perak, untuk menyusun formulasi yang lebih optimal dan adil bagi semua pihak,” kata Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta.

Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan aturan penyesuaian tarif royalti perusahaan tambang akan mulai berlaku pada awal Juni 2026, yang diikuti dengan penerbitan Peraturan Presiden (Perpres).

Rencana tersebut dinilai turut menjadi faktor yang membuat IHSG tetap parkir di zona merah pada penutupan perdagangan hari ini.

“Pelemahan rupiah hingga posisi di atas Rp17.400 per dolar AS juga menambah sentimen negatif,” jelas Ratna.

Sementara itu, mayoritas indeks di bursa Asia juga ditutup melemah seiring kenaikan harga minyak mentah setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal damai dari Iran.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Phintraco memproyeksikan IHSG akan melanjutkan pelemahan dan menguji level support di kisaran 6.750-6.850.

Adapun sepanjang perdagangan, tercatat sebanyak 263 saham menguat, 463 saham melemah, dan 233 saham stagnan. Kapitalisasi pasar BEI tercatat sebesar Rp12.283 triliun.

Aktivitas perdagangan hari ini mencapai 39,08 miliar saham dengan frekuensi 2,8 juta transaksi, sementara nilai transaksi tercatat sebesar Rp20,41 triliun.

Berdasarkan sektornya, hanya sektor infrastruktur yang masih mencatat penguatan 1,52 persen pada penutupan perdagangan hari ini.

Sebaliknya, pelemahan terjadi pada sektor transportasi sebesar 2,88 persen, sektor energi 2,02 persen, sektor keuangan 1,74 persen, sektor perindustrian 1,46 persen, sektor kesehatan 1,05 persen, sektor barang konsumen primer 0,88 persen, sektor properti 0,80 persen, sektor teknologi 0,53 persen, sektor barang baku 0,19 persen, dan sektor barang konsumen non-primer 0,13 persen.

  • Ihsg hari ini

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.