- Home
-
- Luar Negeri
-
- Teleskop James Webb Ungkap...
Teleskop James Webb Ungkap Planet Neraka Mirip Merkurius, Suhunya Capai 725 Derajat
Jumat, 08 Mei 2026, 19:20 WIBWASHINGTON - Para astronom untuk pertama kalinya mendapatkan gambaran paling jelas mengenai permukaan sebuah eksoplanet atau planet di luar tata surya berkat Teleskop Luar Angkasa James Webb milik NASA.
Dilansir dari Channel NewsAsia, Teleskop Webb mengumpulkan data tentang eksoplanet berbatu dengan diameter sekitar 30 persen lebih besar dari Bumi. Data tersebut menunjukkan bahwa planet itu merupakan dunia tandus tanpa atmosfer dengan permukaan yang kemungkinan mirip Merkurius, planet terdalam di tata surya.
Ketiadaan atmosfer yang jelas serta suhu ekstrem di planet tersebut â sangat panas di satu sisi dan sangat dingin di sisi lainnya â membuatnya diperkirakan tidak layak dihuni.
Planet itu bernama LHS 3844 b atau Kua'kua, yang berarti âkupu-kupuâ dalam bahasa asli masyarakat adat di Kosta Rika. Planet tersebut mengorbit bintang yang lebih kecil dan lebih redup dibanding Matahari, berjarak sekitar 49 tahun cahaya dari Bumi. Satu tahun cahaya merupakan jarak yang ditempuh cahaya dalam setahun, sekitar 9,5 triliun kilometer.
âPlanet ini bukan tempat yang menyenangkan,â kata astronom Laura Kreidberg, Direktur Pelaksana Max Planck Institute for Astronomy di Jerman sekaligus penulis senior penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy.
âIni adalah batu tandus seperti neraka, jauh lebih mirip Merkurius dibanding Bumi. Tidak ada jejak atmosfer. Yang kami lihat justru permukaan gelap yang kemungkinan sudah sangat tua. Bayangkan batu telanjang meluncur di luar angkasa selama miliaran tahun. Anda tidak ingin pergi ke sana,â ujarnya.
Pengamatan menunjukkan permukaan planet yang sangat tua dan tertutup regolith gelap, yakni material batuan longgar yang terbentuk akibat miliaran tahun bombardir radiasi bintang dan hantaman mikrometeorit.
Kemampuan Observasi
Teleskop James Webb yang diluncurkan pada 2021 dan mulai beroperasi pada 2022 telah membawa kemajuan besar dalam pemahaman tentang eksoplanet. Kemampuan observasi inframerahnya memungkinkan ilmuwan mengetahui komposisi kimia hingga dinamika atmosfer eksoplanet, bahkan jenis awan yang ada di dalamnya.
Kini, Webb juga memungkinkan para astronom mempelajari langsung geologi dan komposisi permukaan eksoplanet.
âHal itu sangat sulit dilakukan sebelum adanya James Webb Space Telescope. Ini membantu menempatkan Bumi dan tata surya dalam konteks yang lebih luas, sehingga kita bisa mengetahui apakah proses atau komposisi permukaan yang familiar di tata surya juga umum ditemukan di sekitar bintang lain,â kata astronom sekaligus penulis utama penelitian, Sebastian Zieba dari Center for Astrophysics Harvard & Smithsonian.
âRasanya seperti kami baru saja membersihkan kacamata dan akhirnya bisa melihat planet-planet dengan jelas untuk pertama kalinya,â tambah Kreidberg.
Bintang yang diorbit Kua'kua merupakan jenis katai merah, tipe bintang yang umum ditemukan. Massanya hanya sekitar 15 persen dari Matahari dan tingkat cahayanya sekitar 0,3 persen dari Matahari.
Kua'kua berada sangat dekat dengan bintangnya dan menyelesaikan satu kali orbit hanya dalam 11 jam. Planet ini juga mengalami âtidal lockâ, yaitu satu sisi selalu menghadap bintang sementara sisi lainnya selalu membelakangi, seperti Bulan terhadap Bumi.
Suhu di sisi siang planet yang terus-menerus terkena panas bintang mencapai sekitar 725 derajat Celsius. Sementara itu, tidak terdeteksi panas di sisi malam planet.
Webb memungkinkan para peneliti mendeteksi cahaya inframerah yang berasal langsung dari permukaan planet.
âBatuan berbeda memiliki sidik spektrum yang berbeda, sama seperti atmosfer. Batuan vulkanik gelap seperti basal jauh lebih cocok dengan pengamatan kami dibanding batuan terang kaya silika seperti granit,â kata Zieba.
Permukaan Merkurius dan Bulan diketahui didominasi batuan basal.
âDi Bumi, pembentukan granit dalam skala besar berkaitan dengan air dan tektonik lempeng,â ujar Zieba, merujuk pada proses pergerakan lempeng besar pembentuk permukaan Bumi.
Menurut dia, jika suatu hari ditemukan permukaan mirip granit di eksoplanet, hal itu memang tidak otomatis menandakan adanya kehidupan, tetapi dapat menunjukkan sejarah geologi yang lebih mirip Bumi dibanding planet lain.
Kemungkinan lain yang sesuai dengan hasil pengamatan adalah permukaan batuan vulkanik yang relatif baru terbentuk. Namun, para peneliti tidak menemukan gas vulkanik seperti sulfur dioksida yang biasanya berkaitan dengan aktivitas vulkanik.
Tanpa atmosfer, planet itu hampir tidak memiliki perlindungan dari radiasi bintang maupun partikel bermuatan dari bintang induknya. Kondisi tersebut juga membuat air cair, yang dianggap penting bagi kehidupan, tidak mungkin ada di sana.
âSecara keseluruhan, planet ini hampir pasti bukan dunia yang layak huni,â kata Zieba.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Andes
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.