• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Candi Ijo, Jejak Mataram K...

Candi Ijo, Jejak Mataram Kuno dengan Panorama Memikat

Jumat, 08 Mei 2026, 06:16 WIB

YOGYAKARTA adalah wilayah yang tak pernah kehabisan cerita. Di setiap sudutnya, sejarah seolah hidup berdampingan dengan denyut modernitas. Jika banyak orang mengenal kemegahan Candi Prambanan atau kemegahan arsitektur Candi Sewu, di sisi timur kota ini terdapat sebuah situs purbakala yang menawarkan pengalaman berbeda yaitu Candi Ijo.

Berjarak 19.8 km dari pusat kota Jogja, lokasinya yang di perbukitan membuat bangunan kuno sarat nilai sejarah ini menjadi lebih sunyi, lebih personal. Bukan hanya itu berada di ketinggian sekitar 410 meter di atas permukaan laut (mdpl) situs ini menawarkan pemandangan 360 derajat lanskap Yogyakarta dan Klaten di bagian timur dan utara sebuah kabupaten yang masuk provinsi Jawa Tengah.

Ket. Foto: Wisatawan mengunjungi kompleks Candi Ijo di Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta. Sejumlah destinasi wisata alternatif ramai dikunjungi wisatawan saat libur Natal karena menghindari kepadatan di pusat Kota Yogyakarta. — Sumber: ANTARA/Hendra Nurdiyansyah

Candi Ijo yang menghadap arah barat berada di atas perbukitan Batur Agung, sebuah rangkaian perbukitan struktural yang membentang di sisi timur Bantul, utara Gunungkidul, hingga Wonogiri. Posisinya yang berada di titik tertinggi pegunungan karst di antara candi-candi lain di Yogyakarta seperti Candi Barong, Candi Banyunibo, dan kompleks Candi Ratu Boko.

Elevasinya membuat situs ini seolah menjadi gardu pandang alami yang mengawasi bentang tanah Mataram sejak lebih dari seribu tahun silam. Bagi pengunjungnya, ketinggian ini bukan hanya tentang panorama indah dan matahari terbenam yang memesona namu terkait cerita yang menyertainya.

Di balik batu-batu andesit yang tersusun kokoh, tersimpan jejak sejarah panjang tentang kejayaan peradaban Hindu di Jawa, lengkap dengan ragam hias dan relief yang merekam pandangan spiritual masyarakat masa lampau.

Perlu diketahui, nama “Ijo” berasal dari lokasi tempat candi ini berdiri, yakni Gumuk Ijo atau Bukit Hijau. Kawasan ini dahulu merupakan bagian dari wilayah penting Kerajaan Mataram Kuno, kerajaan besar yang berkembang di Jawa Tengah dan Yogyakarta sekitar abad ke-8 hingga ke-10 Masehi.

Berdasarkan prasasti yang ditemukan di sekitar kawasan ini, Candi Ijo diperkirakan dibangun antara abad ke-10 hingga awal abad ke-11, pada masa peralihan kekuasaan dari Wangsa Sanjaya menuju masa akhir kejayaan Mataram Kuno sebelum pusat pemerintahan berpindah ke Jawa Timur.

Salah satu petunjuk sejarah terpenting berasal dari prasasti Poh yang ditemukan tak jauh dari kawasan candi. Prasasti bertahun 906 Masehi itu menyebut keberadaan wilayah bernama Poh dan menunjukkan aktivitas keagamaan Hindu yang berkembang di kawasan perbukitan ini.

Para arkeolog meyakini bahwa Candi Ijo merupakan tempat pemujaan yang didedikasikan untuk Dewa Siwa. Hal ini terlihat dari sejumlah temuan arca serta struktur bangunan yang menunjukkan ciri khas candi Hindu aliran Siwaistik.

Identitas terkuat dari pemujaan Siwaisme dapat ditemukan pada bagian Garbhagrha atau ruang suci utama yang terletak di jantung candi. Di dalam ruangan ini, objek pemujaan yang paling umum dijumpai adalah Lingga dan Yoni yang melambangkan persatuan antara Siwa dan Parwati sebagai simbol kesuburan alam semesta. Selain dalam bentuk simbolik tersebut, ruang utama juga sering kali menyimpan arca Siwa Mahadewa yang digambarkan dalam posisi berdiri atau duduk dengan atribut keilahian yang lengkap.

Ketentuan arsitektural candi Siwa juga tercermin pada penempatan arca pendamping atau Parshwadewata yang mengisi relung-relung di dinding luar secara presisi. Secara tradisional, sisi utara ditempati oleh arca Dewi Durga Mahisasuramardini, sisi selatan dihuni oleh Resi Agastya yang merupakan manifestasi Siwa sebagai guru spiritual.

Sementara itu di depan candi sisi barat menjadi tempat bagi Ganesha sebagai dewa penghalau rintangan. Penjagaan ruang suci ini diperketat dengan kehadiran sepasang arca penjaga pintu di bagian depan yang dikenal sebagai Nandiswara dan Mahakala.

Kehadiran unsur kendaraan suci atau wahana juga menjadi penanda penting, di mana arca Nandi yang berwujud lembu jantan putih biasanya ditempatkan berhadapan langsung dengan candi utama. Pada kompleks besar seperti Candi Prambanan, Nandi bahkan memiliki bangunan khusus yang disebut candi wahana.

Secara visual, sosok Siwa pada relief maupun arca dapat dikenali melalui atribut fisik atau laksana yang melekat, seperti senjata Trisula, mahkota Jatamakuta dengan hiasan bulan sabit dan tengkorak, tali kasta Upawita yang terkadang berbentuk ular kobra, serta keberadaan mata ketiga yang terletak vertikal di dahi.

Secara estetika bangunan candi Siwa memiliki perbedaan mencolok terlihat pada bagian atap yang menggunakan puncak berbentuk Ratna atau Amalaka yang meruncing ke atas. Kemegahan struktur ini dapat disaksikan secara nyata pada Candi Prambanan yang menempatkan Candi Siwa sebagai bangunan tertinggi, serta pada situs-situs bersejarah lainnya seperti gugusan candi di Dataran Tinggi Dieng dan Candi Sambisari yang hingga kini masih menunjukkan keutuhan struktur Lingga-Yoni di dalamnya.

Pemilihan lokasi Candi Ijo yang berada di atas bukit bukan tanpa alasan. Dalam kosmologi Hindu-Jawa kuno, tempat tinggi dianggap lebih dekat dengan alam para dewa. Gunung dan bukit dipandang sebagai ruang suci, tempat bertemunya dunia manusia dengan dunia spiritual.

Karena itulah, membangun candi di atas perbukitan bukan hanya keputusan arsitektural, melainkan juga manifestasi keyakinan religius masyarakat kala itu. Secara arsitektural, Candi Ijo memperlihatkan kecerdasan perancangnya dalam menyesuaikan bangunan dengan kontur alam.

Kompleks ini dibangun berteras-teras mengikuti lereng bukit, terdiri atas sebelas teras yang membentang dari barat ke timur. Tata ruang bertingkat ini bukan sekadar solusi teknis menghadapi medan miring, tetapi juga memiliki makna simbolis.

Dalam tradisi Hindu, perjalanan menuju titik tertinggi melambangkan proses spiritual manusia menuju kesempurnaan dan kedekatan dengan Yang Ilahi. Di teras paling atas berdiri candi induk yang menjadi pusat kompleks. Bangunan utama ini menghadap ke barat, sebuah orientasi yang cukup khas untuk candi-candi Hindu Jawa.

Di depannya terdapat tiga candi perwara atau candi pendamping. Ketiga bangunan kecil ini diyakini berkaitan dengan pemujaan Trimurti yaitu dewa Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara, dan Siwa sebagai pelebur.

Ketiga candi perwara ini diyakini berkaitan erat dengan pemujaan tiga dewa utama dalam agama Hindu, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Penempatannya yang berjejer di depan candi induk menunjukkan hierarki posisi di mana candi induk tetap menjadi pusat pemujaan tertinggi, sementara ketiga bangunan ini berfungsi sebagai pendukung ritual.

Namun keistimewaan Candi Ijo tak berhenti pada nilai sejarah dan artistiknya. Ketika sore mulai turun, kompleks candi ini berubah menjadi panggung alam yang memukau. Cahaya matahari senja memantul lembut pada permukaan batu andesit, menciptakan gradasi warna keemasan yang memberi kesan dramatis pada setiap sudut bangunan.

Candi Ijo adalah bukti bahwa warisan budaya tak hanya hidup dalam buku sejarah atau ruang museum. Ia tetap berdiri, menyatu dengan alam, menawarkan pelajaran tentang spiritualitas, seni, dan kebijaksanaan leluhur kepada siapa pun yang datang.

Di tengah maraknya destinasi wisata modern, Candi Ijo mengingatkan bahwa kadang perjalanan terbaik adalah perjalanan menengok masa lalu. Di puncak bukit itu, di bawah langit Yogyakarta yang perlahan memerah, sejarah tidak sekadar dikenang ia terasa ­hidup. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.