Penggemar Sepak Bola di Asia Cemas soal Hak Siar Jelang Piala Dunia 2026

Kamis, 07 Mei 2026, 06:00 WIB

HONG KONG — Jutaan penggemar sepak bola di Asia diliputi kecemasan menjelang Piala Dunia FIFA 2026. Hingga kurang dari satu bulan sebelum kick-off, sejumlah negara besar seperti Tiongkok, India, dan Thailand masih belum memastikan hak siar untuk turnamen terbesar dalam sejarah tersebut.

Selain persoalan negosiasi, waktu pertandingan yang tidak bersahabat menjadi hambatan utama. Turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini akan dimulai pada 11 Juni dengan laga pembuka antara Meksiko dan Afrika Selatan. Namun bagi penggemar di Beijing dan Shanghai, pertandingan tersebut akan dimulai pukul 03.00 dini hari, termasuk partai final. Di New Delhi, laga pembuka bahkan berlangsung pada pukul 00.30.

Ket. Foto: Ilustrasi trofi Piala Dunia. — Sumber: AFP

Ketua agensi periklanan Rediffusion, Sandeep Goyal, mengungkapkan bahwa faktor waktu siaran menjadi tantangan besar dalam negosiasi hak siar di India.

“Masalah utamanya adalah waktu pertandingan. Laga-laga besar berlangsung pukul 00.30 atau 03.30, sebagian pukul 06.30. Kecuali penggemar fanatik, jumlah penonton kemungkinan rendah,” ujarnya. “Dampaknya, potensi monetisasi bagi stasiun televisi juga menurun drastis.”

Menurut Goyal, konglomerat media terbesar India, JioStar, hanya mengajukan tawaran sekitar 20 juta dolar AS. Sementara itu, Sony disebut tidak mengajukan penawaran. Padahal, FIFA sebelumnya mematok harga sekitar 100 juta dolar AS untuk paket hak siar Piala Dunia 2026 dan 2030 di India.

Situasi serupa terjadi di Tiongkok, yang hingga kini juga belum mengumumkan kesepakatan resmi. Padahal, bersama India, kedua negara ini mewakili hampir tiga miliar penduduk dunia dengan minat tinggi terhadap sepak bola, meski tidak lolos ke putaran final.

Data FIFA menunjukkan bahwa China menyumbang hampir 50 persen total jam tayang digital global pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Media pemerintah bahkan mengingatkan bahwa stasiun televisi nasional CCTV secara historis selalu mengamankan hak siar jauh sebelum turnamen dimulai.

Di Thailand, ketidakpastian juga masih membayangi. Negara tersebut bahkan telah menghapus Piala Dunia dari daftar siaran wajib di televisi gratis sejak Juni tahun lalu. Meski demikian, Perdana Menteri Anutin Charnvirakul menegaskan pemerintah akan berupaya memastikan publik tetap bisa menyaksikan turnamen.

“Pemerintahan sebelumnya selalu menjamin akses gratis Piala Dunia, dan pemerintahan saya tidak boleh menjadi pengecualian,” ujarnya.

Pada edisi 2022, Thailand baru mengamankan hak siar di detik-detik akhir melalui kesepakatan senilai sekitar 33 juta dolar AS yang melibatkan otoritas olahraga dan sektor swasta, termasuk perusahaan telekomunikasi True Corp.

Sementara itu, Malaysia telah lebih dulu memastikan siaran turnamen melalui Radio Televisyen Malaysia dan Unifi TV, meski sempat terjadi tarik-ulur negosiasi di belakang layar.

Pengamat bisnis olahraga dari Deloitte Asia Pasifik, James Walton, menilai kekhawatiran bahwa jutaan penggemar Asia tidak bisa menyaksikan Piala Dunia terlalu berlebihan.

“Situasi seperti ini terjadi di setiap siklus di beberapa negara. Penyiar ingin mendapatkan harga terbaik, sementara pemegang hak memahami bahwa ini adalah peluang sekali dalam empat tahun,” ujarnya.

Menurutnya, hampir mustahil sebuah negara melewatkan siaran Piala Dunia sepenuhnya. “Pada akhirnya, kesepakatan akan tercapai. Pemerintah juga akan mempertimbangkan potensi dampak sosial jika masyarakat tidak bisa menonton.”

FIFA sendiri menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan lebih dari 175 negara. Namun, untuk beberapa pasar yang tersisa, proses negosiasi masih berlangsung dan bersifat rahasia.

  • Hak Siar Piala Dunia
  • Piala Dunia 2026

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

Berita Terbaru

Kemenko Polkam Terima Aspirasi SP PLN: Isu Ketenagalistrikan Berdampak ke Stabilitas Nasional

11 Tahun J&T Express, Perkuat Teknologi Logistik dan Perluas Dampak Sosial

Jakmania Protes Kenaikan Harga Tiket, Resmi Boikot Launching Tim Persija

LG Buka Peluang Kreator Digital Raih Komisi Lewat Life’s Good Creator Club

Direktur CIA Mendadak Terbang ke Moskow, Beri Peringatan Keras Soal Ancaman Negara Baltik

Usia 61 Tahun, IKPI Tegaskan Peran Sebagai Jembatan Pemerintah dan Wajib Pajak

Tim Ahli Ungkap Dugaan Jebolnya Danau Glasial di Balik Banjir Dahsyat Nepal-Tibet

Kampanyekan Gemarikan di SDN Cempaka Putih Barat 07, KPKP Jakpus Penuhi Gizi Anak untuk Cegah "Stunting"

Swasembada Gula Dimulai dari Lampung

Meta Resmi Ubah Aturan Facebook dan Instagram: Batas 2 Jam hingga Mode Malam

170 Pendaki Berhasil Dievakuasi Turun dari Ranu Kumbolo, Pemadaman Karhutla Gunung Semeru Masih Berlangsung

Kuota 30 Persen Hunian MBR di TOD: Ini Poin Penting Usulan Ranperda Rusun Jakarta

KTM dan Gombong Culture Festival Dibuka, Menkop Ferry Juliantoro: Benteng Van Der Wijck Akan Jadi Ikon Pariwisata dan Ekonomi Kebumen Bakal Berkembang

PLN Bekali UMKM Binaan Kembangkan Inovasi Produk Berbasis Kopi.

UEFA Terapkan Aturan Baru Liga Champions 2026/27, Undian Arsenal dan Liverpool Terdampak

Puan Dorong Kemlu Perkuat Koordinasi soal Karhutla Kalimantan

Warga Betawi Terancam Tersisih, DPRD DKI Desak Kebijakan Afirmatif di Ranperda

DPR RI Berkomitmen Sahkan RUU Perampasan Aset pada 15 Desember 2026

Tanggapi Budie Arie, Puan Maharani: Pemilu Tetap Digelar Setiap Lima Tahun

Kementerian UMKM: Pemulihan UMKM Sumatra Dikawal hingga 2028

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.