BMKG Ungkap Hujan Masih Terjadi Akibat Peralihan Kemarau Timur ke Barat
Rabu, 06 Mei 2026, 18:30 WIBJAKARTA - Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan bahwa karakter musim kemarau 2026 diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan biasanya.
Ia menjelaskan, kondisi hujan yang masih terjadi di sejumlah wilayah saat ini bukan merupakan ciri musim kemarau, melainkan bagian dari masa peralihan dari musim hujan ke kemarau yang berlangsung secara bertahap.
"Jadi tahun ini karakter musim kemarau yang akan kita hadapi bersama itu lebih kering dan lebih panjang. Sesuai dengan prediksi yang telah kami sampaikan sebelumnya," ujar dia, Rabu (6/5).
Menurut dia, peralihan musim tidak terjadi secara langsung. Wilayah tertentu sudah mulai memasuki kemarau, sementara wilayah lain masih mengalami hujan.
Ia mencontohkan, wilayah Jakarta bagian utara dan Bekasi sudah mulai menunjukkan kondisi kering. Sementara itu, wilayah Jakarta bagian tengah hingga selatan masih mengalami hujan dan diperkirakan baru memasuki kemarau.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pola musim kemarau di Indonesia umumnya dimulai dari wilayah timur, khususnya seperti Nusa Tenggara Timur, kemudian bergerak ke wilayah barat secara bertahap hingga mencakup sebagian besar wilayah Indonesia.
BMKG mengimbau masyarakat untuk memahami pola peralihan musim tersebut serta tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dinamis. "Jadi berbeda-beda secara umum kalau kita ambil Indonesia misalkan musim kemarau biasanya masuk dari timur dulu," ucapnya.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Salatiga mencatat tren penurunan dampak kekeringan dalam dua tahun terakhir. Meski demikian, Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga tetap memperkuat langkah Satuan Tugas (Satgas) penanganan kekeringan menghadapi musim kemarau 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Salatiga, Sutarto, mengungkapkan jumlah warga yang terdampak kekeringan pada tahun 2024 yaitu mencapai 8.764 jiwa, angka tersebut turun signifikan pada 2025 menjadi 2.466 jiwa.
"Secara data memang ada penurunan, namun potensi kekeringan tetap harus diwaspadai. Karena faktor perubahan iklim yang tidak menentu," ujar dia. ils/I-1
- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Pemprov DKI Gandeng Korsel Atasi Persoalan Kota dengan Manfaatkan AI
-
BMKG Prakirakan Cuaca di Pulau Jawa Berawan hingga Cerah Berawan
-
Asap Karhutla Menjauh, Pemprov DKI Tetap Lakukan Water Mist dan OMC
-
BMKG: Hujan dengan Berbagai Intensitas Bakal Guyur Sejumlah Kota Besar di Wilayah Indonesia pada Minggu
-
Teknologi Pintar Dorong Kemajuan Pertanian di Semarang
-
Pelajar di Garut Alami Cedera Serius pada Mata Kiri, Terduga Pelaku Ditangkap.
-
Wakapolda Sulteng Pimpin Rakor Karhutla, Perkuat Patroli dan Deteksi Dini Titik Api
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.