Asia Hadapi Ancaman El Nino di Tengah Tekanan Energi dan Pangan

Rabu, 06 Mei 2026, 01:00 WIB

BANGKOK – Kawasan Asia yang masih menghadapi dampak konflik geopolitik di Timur Tengah kini dihadapkan pada ancaman baru berupa potensi fenomena El Nino, yang dapat memperburuk tekanan terhadap sektor energi, pangan, dan ekonomi secara keseluruhan.

El Nino merupakan fenomena iklim alami yang memengaruhi perubahan angin, tekanan udara, dan pola curah hujan di berbagai belahan dunia. Pekan lalu, badan cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan kondisi tersebut berpotensi berkembang antara Mei hingga Juli tahun ini.

Ket. Foto: Petani mengecek kondisi pompa air tenaga surya untuk mengairi irigasi lahan pertanian padi di Lumajang, Jawa Timur, Senin (6/4). — Sumber: ANTARA/Irfan Sumanjaya

Dilansir dari Channel NewsAsia pada Selasa (5/5), World Meteorological Organization (WMO) juga mencatat tanda-tanda awal yang menunjukkan fenomena ini berpotensi cukup kuat, meskipun tingkat dampaknya masih belum dapat dipastikan sepenuhnya.

Fenomena ini diketahui dapat mengubah pola cuaca secara signifikan, seperti menggeser curah hujan dari daratan ke lautan. Dampaknya, sejumlah wilayah Asia, termasuk Indonesia, berisiko mengalami kekeringan dan peningkatan potensi kebakaran hutan.

“Anomali bawah permukaan yang kita lihat sejauh ini cukup kuat,” kata Peter van Rensch.

“Ini memang terlihat seperti apa yang kita lihat di ajang 1997/98, dan itu mungkin El Nino terkuat,” tambahnya.

Meski demikian, ia menekankan masih terdapat ketidakpastian, termasuk kemungkinan fenomena tersebut tidak berkembang secara penuh.

Potensi El Nino muncul di saat kawasan Asia juga menghadapi gangguan pasokan energi global, termasuk distribusi minyak dan gas yang melewati Selat Hormuz.

Cuaca yang lebih panas diperkirakan akan meningkatkan permintaan energi, terutama untuk kebutuhan pendinginan, sementara pasokan energi di beberapa negara masih terbatas.

“Bagi negara-negara yang sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk pengiriman minyak dan gas serta perdagangan lainnya, pasokan yang terbatas akan menyebabkan penjatahan bahan bakar lebih lanjut, manajemen sisi permintaan dan pengurangan kegiatan ekonomi... berdampak pada pertumbuhan PDB secara keseluruhan,” kata Haneea Isaad.

Selain itu, kekeringan yang dipicu fenomena ini juga berpotensi menurunkan kapasitas pembangkit listrik tenaga air (PLTA), yang masih menjadi sumber energi utama di sejumlah negara Asia.

“Sebagian besar negara Asean menggunakan banyak pembangkit listrik tenaga air,” kata Dinita Setyawati.

Ia menyoroti kawasan Mekong, Nepal, dan sebagian Malaysia sebagai wilayah yang rentan mengalami penurunan produksi listrik akibat berkurangnya debit air.

Ancaman Ketahanan Pangan

Dampak El Nino juga berpotensi memperburuk kondisi sektor pertanian di kawasan. Cuaca panas dan kering dapat menurunkan produktivitas tanaman, sementara biaya produksi pertanian terus meningkat akibat mahalnya pupuk dan bahan bakar.

“Jika harga tanaman tidak naik cukup untuk mengimbangi biaya input dan pengiriman yang lebih tinggi, margin produsen akan tertekan, sehingga meningkatkan kemungkinan penggunaan pupuk yang lebih rendah dan hasil panen yang lebih lemah,” kata Business Monitor International (BMI), unit riset dari Fitch Solutions.

Kondisi tersebut dinilai dapat memicu kenaikan harga pangan dan meningkatkan kerawanan pangan, khususnya di negara-negara yang bergantung pada impor.

Di sisi lain, beberapa wilayah Asia juga berpotensi mengalami curah hujan tinggi yang dapat memicu banjir. Kondisi ini berisiko mengganggu sektor pertanian, termasuk panen padi di wilayah tertentu.

Para ahli menilai negara-negara di kawasan perlu memperkuat ketahanan sistem energi untuk menghadapi potensi gangguan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Bappeda Memilih Bus Sekolah Khusus Buat Difabel Masuk Nominasi Penghargaan

Harga Cabai Rawit Rp67.350/Kg, Telur Ayam Rp29.350/Kg

Sebanyak 16 Perusahaan Masih Jaring Pencari Kerja di Job Fair Online

Pemuda.ai Diluncurkan, Dorong Penguatan Ekosistem AI Nasional

Harga Kakao Kering di Lebak Mengalami Kenaikan hingga Tembus Rp60 Ribu/Kg

Investor Qatar Bidik Lahan Kampung Bandan untuk Proyek Perumahan

PT Telkom Indonesia Nyatakan Konektivitas Digital Pascagempa NTT Sudah Pulih 100 Persen

Hingga Agustus, Samsat Palu Catat Realisasi PKB Rp50,72 Miliar

Mentan Andi Amran Sulaiman Copot 14 Pejabat Kementan, Diduga Terlibat Penyimpangan Uang Miliaran

3,6 Ton Daging Tanpa Dokumen Digagalkan di Pelabuhan Merak, Langsung Dimusnahkan.

Jelang MotoGP Mandalika 2026, Pemkab Lombok Tengah Bentuk Satgas Pengawasan Akomodasi.

Akibat Korsleting Listrik, Sebuah Rumah di Matraman Jakarta Timur Terbakar

Ekspor Perikanan Batam ke Singapura Capai 3.678 Ton, Nilainya Rp125 Miliar.

Mataram Siapkan 60.000 Benih Ikan Nila, Dorong Ketahanan Pangan Masyarakat.

Berikut Daftar Harga Emas Galeri24, Antam, dan UBS di Pegadaian yang Kompak Turun pada Rabu (19/8)

Harga Pupuk Turun 20 Persen, Petani Sumedang Rasakan Biaya Produksi Lebih Ringan.

Harga Emas Antam Anjlok Rp50.000 Menjadi Rp2,645 Juta/Gr pada Rabu (19/8)

TelkomGroup Pulihkan 100 Persen Layanan Telekomunikasi Pascagempa NTT

Menaker: Jaminan Sosial Harus Jadi Jalan Menuju Kemandirian Ekonomi Keluarga Pekerja.

PT Pertamina Patra Niaga Bantu 35.000 Lt Air Bersih untuk Warga Maumere

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.