Ketimpangan Gender Turun tapi Disparitas Wilayah Masih Tinggi
Selasa, 05 Mei 2026, 16:18 WIBJAKARTA â Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Indonesia tahun 2025 kembali menunjukkan perbaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis IKG sebagai ukuran ketimpangan gender pada tiga dimensi: Kesehatan Reproduksi, Pemberdayaan, dan Pasar Tenaga Kerja. Nilai IKG yang semakin kecil mencerminkan ketimpangan antara laki-laki dan perempuan yang kian mengecil.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut nilai IKG 2025 tercatat sebesar 0,402. âArtinya, masih terdapat ketimpangan antara laki-laki dan perempuan, namun lebih baik dari tahun sebelumnya. IKG tahun 2024 tercatat 0,421,â ujar Amalia dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (5/5). Ia menambahkan, selama periode 2020-2025 angka IKG konsisten mengalami perbaikan dari tahun ke tahun.
Indikator Kunci Membaik
Perbaikan IKG 2025 ditopang sejumlah indikator yang bergerak positif. Pada dimensi Kesehatan Reproduksi, indikator persalinan tidak di fasilitas kesehatan mengecil dari 0,094 di tahun 2024 menjadi 0,077 di tahun 2025. Artinya, akses perempuan terhadap layanan persalinan yang aman semakin meningkat.
Dari sisi Pemberdayaan, _gender gap_ persentase anggota legislatif laki-laki dan perempuan menyempit. Selisihnya turun dari 57,82% di tahun 2020 menjadi 55,44% di tahun 2025, menandakan keterwakilan perempuan di parlemen kian membaik meski masih didominasi laki-laki.
Sementara di dimensi Pasar Tenaga Kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan yang bersumber dari Sakernas Agustus naik dari 56,42 pada 2024 menjadi 56,63 pada 2025. âKenaikan TPAK perempuan ini penting karena menunjukkan semakin banyak perempuan yang masuk ke pasar kerja,â kata Amalia.
Kesenjangan Antarprovinsi Masih Lebar Â
Meski secara nasional membaik, BPS mencatat kesetaraan gender belum merata di seluruh wilayah. IKG di 21 provinsi masih lebih tinggi dibanding angka nasional 0,402. Provinsi di kawasan Indonesia bagian timur relatif memiliki nilai IKG yang lebih tinggi, yang menunjukkan ketimpangan gender lebih besar.
Papua Pegunungan tercatat sebagai provinsi dengan nilai IKG tertinggi, yaitu 0,584. Sebaliknya, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan nilai IKG terendah 0,144. âDisparitas ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama agar perbaikan IKG tidak hanya terjadi di level nasional, tetapi juga dirasakan merata sampai ke daerah,â jelas Amalia.
IKG dihitung BPS sejak 2020 sebagai alat ukur capaian pembangunan gender. Tiga dimensi pembentuknya merefleksikan aspek mendasar: kesehatan reproduksi lewat angka kelahiran remaja dan persalinan di faskes, pemberdayaan lewat keterwakilan di parlemen dan pendidikan, serta pasar kerja lewat TPAK perempuan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
La Liga Spanyol: Levante Terdesak, Villarreal Kejar Tiket Liga Champions
-
AS-Iran Bersitegang, KBRI Teheran Siagakan Opsi Evakuasi WNI
-
DPRD Bali Mulai Bahas Raperda Inisiatif soal Pemenuhan Hak Disabilitas
-
MK Putuskan Anggota Polri Duduki Jabatan Sipil Harus Pensiun
-
Allianz Life dan HSBC Hadirkan Sub-Dana Baru dengan Dividen Bulanan
-
Dua Kejadian Kebakaran di Jakarta Utara Diduga akibat Korsleting Listrik
-
BPS: Ekonomi Q1-2026 Tumbuh 5,61% Ditopang Konsumsi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.