• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Dunia Kampus vs Industri: ...

Dunia Kampus vs Industri: 77 Persen Perusahaan Masih Kesulitan Cari Talenta

Selasa, 05 Mei 2026, 17:25 WIB

JAKARTA - Kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri dinilai semakin nyata di tengah perubahan teknologi yang bergerak cepat. Survei global Manpower Group mencatat sebanyak 77 persen perusahaan masih mengalami kesulitan menemukan talenta dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan pasar kerja.

Data tersebut menunjukkan tantangan ketenagakerjaan saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan terbatasnya lapangan pekerjaan, tetapi juga kesiapan lulusan dalam memenuhi tuntutan dunia profesional. Perusahaan kini dinilai lebih selektif dalam mencari kandidat yang tidak hanya memiliki gelar akademik, tetapi juga pengalaman kerja dan keterampilan praktis.

Ket. Foto: Kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri dinilai semakin nyata di tengah perubahan teknologi yang bergerak cepat. Survei global Manpower Group mencatat sebanyak 77 persen perusahaan masih mengalami kesulitan menemukan talenta dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan pasar kerja. — Sumber: Istimewa

Kondisi ini turut menjadi perhatian kalangan orang tua yang mulai mempertanyakan kesiapan anak setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Kekhawatiran utama bukan lagi sekadar soal kelulusan, melainkan apakah lulusan dapat langsung terserap ke dunia kerja atau bahkan menciptakan peluang usaha sendiri.

"Saat ini yang menjadi kekhawatiran orang tua bukan hanya apakah anak bisa lulus, tetapi apakah setelah lulus anak mereka bisa langsung terjun seutuhnya dalam dunia kerja. Anak mereka bisa berkarya seutuhnya, baik sebagai profesional maupun menciptakan lapangan kerja atau menjadi entrepreneur," ujar Rektor BINUS University Dr. Nelly.

Transformasi pendidikan tinggi yang didorong pemerintah dalam beberapa tahun terakhir juga menuntut perguruan tinggi memperkuat keterhubungan dengan dunia industri. Perguruan tinggi dinilai perlu menghadirkan pembelajaran berbasis pengalaman agar lulusan lebih siap menghadapi kebutuhan pasar kerja yang terus berubah.

Merespons kondisi tersebut, BINUS University mengintegrasikan pengalaman industri ke dalam kurikulum melalui program "2,5 Tahun Kuliah, Siap Berkarier". Program tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengikuti magang, membangun usaha, hingga memperoleh pengalaman internasional sebelum lulus.

Mahasiswa juga diberi kesempatan menjalani pembelajaran di luar kampus selama satu tahun penuh melalui proyek industri maupun pengembangan bisnis. Program itu didukung jaringan lebih dari 2.200 mitra industri aktif yang diklaim membantu memastikan kurikulum tetap relevan dengan kebutuhan pasar kerja global.

Selain itu, kampus juga menghadirkan program lintas disiplin melalui minor program, kesempatan study abroad, hingga kolaborasi teknologi dengan Apple dan Microsoft. Langkah tersebut dilakukan untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan digital dan kecerdasan buatan yang semakin dibutuhkan industri.

"Yang ingin kami bangun adalah kesiapan yang nyata sejak masa studi, bukan setelah lulus. Melalui integrasi pengalaman industri, percepatan pembelajaran, dan penguatan keterampilan masa depan, mahasiswa memiliki bekal yang lebih relevan untuk langsung beradaptasi dengan kebutuhan dunia kerja," kata Dr. Nelly.

Data internal BINUS University mencatat sebanyak 82 persen mahasiswanya telah bekerja, berwirausaha, atau melanjutkan studi saat wisuda. Angka tersebut disebut menjadi indikator bahwa kesiapan kerja dapat dibangun sejak bangku kuliah, bukan setelah lulusan memasuki dunia profesional.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.