Integrasi Energi Bersih dengan Kawasan Industri Memobilisasi Investasi US$18 Miliar

Kamis, 30 Apr 2026, 01:09 WIB

JAKARTA - Studi INDEF Green Transition Initiative (INDEF GTI) bersama Systemiq menunjukkan bahwa pengembangan energi terbarukan yang diselaraskan dengan kebutuhan kawasan industri dan kawasan ekonomi prioritas, berpotensi menciptakan permintaan listrik sebesar 24-30 Terrawatt (TWh), setara dengan 8-13 Giga Watt (GW) kapasitas surya, serta memobilisasi investasi hingga 13-18 miliar dollar Amerika Serikat (AS). 

Estimasi itu baru mencakup delapan kawasan ekonomi khusus yang menjadi fokus kajian sehingga skalanya berpotensi jauh lebih besar jika diperluas.

Ket. Foto: Transisi Energi — Sumber: antara

Dalam diskusi publik bertajuk “Reframing Renewable Energy for Economic Growth: Renewable Energy Zones (REZs) as an Enabling Instrument “ juga menegaskan bahwa di tengah gejolak harga energi global akibat ketegangan geopolitik, ketahanan energi Indonesia tidak dapat lagi bergantung pada bahan bakar fosil, sehingga transisi energi bersih perlu didorong sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti menekankan, kalau energi terbarukan bukan hanya isu pasokan energi, tetapi bagian dari strategi untuk membuka sumber pertumbuhan baru dan memperluas basis ekonomi Indonesia.

Dalam pemanfaatan energi hijau, Esther menekankan agar disesuaikan dengan potensi daerah. “Jika memang sumber energi yang paling efektif surya, ya surya dimaksimalkan. Jangan dipaksakan jenis energi yang tidak sesuai potensi lokal,” katanya.

Dengan konsep Renewable Energy Zones (REZs), Esther berharap kebutuhan listrik bisa matching dengan kebutuhan industri di kawasan tersebut. Artinya, pasokan energi hijau dirancang sesuai profil permintaan dan karakteristik kawasan.

Konsep REZs dinilai sebagai instrumen untuk memastikan transisi energi bersih tidak hanya mengejar target iklim, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru dan menahan laju deindustrialisasi.

Senada dengan Esther, Asisten Deputi Percepatan Transisi Energi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Farah Heliantina, menegaskan pentingnya penyelarasan transisi energi dalam kerangka strategi ekonomi nasional.

“Transisi energi bukan sekadar agenda iklim, melainkan strategi integral ekonomi nasional. Energi adalah fondasi untuk menopang pertumbuhan tinggi, dan tanpa peningkatan produktivitas yang signifikan Indonesia berisiko tua sebelum kaya,” sebut Farah.

Sementara itu, Direktur INDEF GTI, Imaduddin Abdullah, menekankan bahwa percepatan target PLTS 100 GW dalam tiga tahun bergantung pada dua hal utama, yaitu kepastian penyerap listrik dan kemampuan menyalurkan listrik ke kawasan industri sebagai pusat permintaan.

Ia menegaskan bahwa tantangannya bukan hanya membangun pembangkit, tetapi memastikan suplai energi bersih terhubung dengan permintaan industri.

“Pendekatan REZs menjadi penting karena mengintegrasikan lokasi sumber energi, jaringan, kebutuhan industri, dan investasi sejak awal, sehingga transisi energi tidak hanya meningkatkan kapasitas, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi,“ sebut Imaduddin.

Jembatani Kesenjangan

Direktur Systemiq, Batari Saraswati, menyampaikan bahwa pendekatan REZs dapat menjembatani kesenjangan antara pengembangan energi terbarukan dan kebutuhan industri, khususnya melalui kawasan ekonomi khusus (KEK) dan kawasan industri. Selama ini jelasnya, perencanaan pembangkit, jaringan, dan permintaan industri masih berjalan terpisah. Dengan REZs seluruh komponen tersebut dirancang secara terintegrasi sejak awal, mulai dari potensi energi, kesiapan jaringan, lokasi industri, hingga kepastian permintaan dan investasi.

“Pendekatan REZs pada kawasan KEK prioritas diperkirakan dapat menciptakan permintaan listrik sebesar 24–30 TWh, setara dengan 8–13 GW kapasitas surya, serta memobilisasi investasi hingga 13–18 miliar dollar AS,” kata Batari.

  • Transisi Energi

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Pemprov NTT Percepat Perbaikan Infrastruktur Terdampak Gempa M7,7

Pemerintah Kota Batam Siapkan Subpenyalur BBM Nelayan di Pulau Rempang

Permudah Akses BBM Subsidi, Pemkot Batam Siap Bangun SPBU untuk Nelayan di Pulau Rempang

Harga Daging Ayam Ras di Dua Kabupaten di Riau di Atas Rp40.000/Kg

Film "The Odyssey" Laris di Korea Selatan, Lampaui 6 Juta Penonton

Balas Trump, Iran Peringatkan Negara yang Gabung dengan Sanksi AS Dianggap 'Musuh'

BMKG Prakirakan Sebagian Besar Wilayah RI Diprakirakan Cerah Berawan pada Minggu

Shopee Gandakan Donasi, Perkuat Gotong Royong Digital untuk Pemulihan Paska Gempa NTT

PT KAI Menilai Sejumlah Kegiatan di Purwokerto Tingkatkan Mobilitas Masyarakat

Lampaui Target Nasional, Banten Jadi Contoh CKG-TBC

Tidak Hanya Jadi Ajang Olahraga, Purwokerto City Run 2026 Kenalkan Budaya Lokal

KemenPU Tangani 1.229 Titik Kekeringan: 41 Ribu Hektar Sawah & 616 Ribu Jiwa Terbantu

Kebakaran Rumah di Kebayoran Baru, Sebanyak 81 Personel Dikerahkan

Gempa M5,9 Mengguncang Jepang Bagian Timur termasuk Tokyo, Layanan Kereta Api Terganggu

269 Lulusan PT Terpilih untuk Program Magang Nasional di Kemenpar

Budi Doremi Rilis Lagu Baru "Cinta Sendiri", Ajak Pendengar untuk Move On

Jaga Tradisi 5 Abad Kota Banjarmasin, Pemkot Gelar Festival Karya Tari

Peringati HUT RI, Polda Metro Jaya Fasilitasi Perpanjangan SIM Gratis Ribuan Pengemudi Ojol

IQAir: Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat Pagi Ini, Kelima Terburuk di Dunia

Kebakaran Melanda Kampung Adat Sade di Lombok Tengah, Rumah Suku Sasak Hangus Terbakar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.