Apakah Pluto Bisa Kembali Jadi Planet?
Kamis, 30 Apr 2026, 07:13 WIBSEJAK 2006, status Pluto sebagai planet resmi dicabut oleh International Astronomical Union yang menggolongkannya sebagai planet katai. Kini, perdebatan lama itu kembali memanas setelah pimpinan NASA, Jared Isaacman, secara terbuka menyatakan dukungannya agar Pluto kembali diakui sebagai planet.
Pluto ditemukan pada 1930 oleh Clyde Tombaugh di Lowell Observatory. Penemuan itu dianggap monumental karena menambah jumlah daftar planet yang dikenal manusia menjadi sembilan sebuah di tata surya.
Selama 76 tahun, Pluto diajarkan di sekolah-sekolah sebagai anggota resmi Tata Surya. Namun seiring perkembangan teleskop modern, astronom mulai menemukan banyak objek es lain di kawasan Sabuk Kuiper, wilayah di luar orbit Neptunus. Salah satunya adalah Eris, yang ukurannya mendekati Pluto.
Temuan ini menimbulkan pertanyaan besar saat itu. jika Pluto disebut planet, apakah semua objek serupa juga harus masuk daftar planet?
Keputusan Kontroversial
Pada sidang IAU tahun 2006 di Prague, disepakati definisi baru planet. Sebuah benda langit harus memenuhi tiga syarat: pertama mengorbit Matahari, kedua berbentuk hampir bulat karena gravitasinya sendiri, dan ketiga mampu âmembersihkan lingkungan orbitnyaâ dari benda lain.
Pluto memenuhi dua syarat pertama, tetapi gagal pada poin ketiga karena berbagi wilayah dengan banyak objek Sabuk Kuiper. Akibatnya, Pluto diturunkan statusnya menjadi planet katai atau dwarf planet.
Planet katai merupakan benda langit mirip planet yang mengorbit Matahari, berbentuk bulat akibat gravitasi sendiri, namun belum âmembersihkanâ lingkungan orbitnya dari benda-benda lain. Mereka lebih besar dari asteroid tetapi lebih kecil dari planet, dan saat ini ada 5 planet katai resmi di Tata Surya
Keputusan dalam sidang IAU itu segera menuai protes dari beberapa kalangan. Banyak astronom menganggap definisi tersebut terlalu sempit, sementara publik merasa salah satu planet favorit mereka âdicoretâ secara administratif.
Gelombang baru dukungan untuk menjadikan Pluto dalam kategori planet kembali datang dari Administrator NASA, Jared Isaacman. Dalam sidang Senat Amerika Serikat pada April 2026, Isaacman menyatakan dirinya berada di kubu yang ingin Pluto kembali menjadi planet.
âSaya sangat mendukung gagasan untuk menjadikan Pluto sebagai planet lagi,â ujar Isaacman di hadapan senator. Ia juga mengatakan NASA tengah menyiapkan sejumlah makalah ilmiah untuk mendorong diskusi baru di komunitas sains mengenai definisi planet.
Pernyataan itu penting karena datang dari pimpinan lembaga antariksa paling berpengaruh di dunia. Meski NASA tidak memiliki kewenangan resmi mengubah klasifikasi planet karena hal itu berada di tangan IAU dukungan Isaacman memberi bobot politik dan ilmiah baru pada isu tersebut.
Isaacman juga sebelumnya menjadi sorotan ketika merespons surat seorang anak berusia 10 tahun yang meminta Pluto dijadikan planet lagi. Ia menjawab singkat di media sosial: âKami sedang menyelidiki hal ini.â Respons tersebut viral dan kembali menghidupkan simpati publik terhadap Pluto.
Dorongan terbesar datang setelah misi New Horizons melintasi Pluto pada 2015. Wahana NASA itu menunjukkan bahwa Pluto jauh lebih kompleks daripada dugaan sebelumnya. Permukaannya memiliki pegunungan es, lapisan atmosfer tipis, kabut biru, dataran nitrogen beku raksasa bernama Sputnik Planitia, dan kemungkinan samudra cair di bawah permukaan.
Temuan ini mengubah citra Pluto dari bongkahan es mati menjadi dunia aktif yang dinamis. Banyak ilmuwan planetologi menilai objek sekompleks itu layak disebut planet, terlepas dari posisi orbitnya.
Definisi Baru Planet
Sejumlah peneliti, termasuk ilmuwan misi Pluto seperti Alan Stern, telah lama mendorong definisi geofisika. Dalam pendekatan ini, planet ditentukan berdasarkan sifat fisiknya: cukup besar hingga berbentuk bulat, memiliki struktur internal, dan bukan bintang. Jika definisi tersebut dipakai, Pluto akan kembali menjadi planet. Bahkan jumlah planet di Tata Surya bisa bertambah menjadi puluhan, termasuk Ceres, Eris, Haumea, dan Makemake.
Meski begitu, tidak semua astronom setuju. Sebagian ilmuwan menilai syarat âmembersihkan orbitâ penting karena membedakan planet dominan seperti Bumi atau Jupiter dari objek kecil di kawasan padat. Ada pula kekhawatiran bahwa jika definisi diperluas, buku pelajaran akan dipenuhi puluhan planet baru yang membingungkan masyarakat.
Untuk saat ini, status resmi Pluto masih tetap planet katai. Belum ada keputusan baru dari IAU. Namun dukungan dari Jared Isaacman menunjukkan bahwa perdebatan tersebut belum selesai. Lebih dari sekadar nomenklatur, isu Pluto mencerminkan bagaimana ilmu pengetahuan terus berubah mengikuti data baru. Apa yang dulu dianggap benar bisa ditinjau ulang ketika bukti baru muncul.
Pluto mungkin kecil dan jauh di pinggiran Tata Surya, tetapi kemampuannya memicu debat global tetap luar biasa besar. Dan kini, dengan dukungan pimpinan NASA sendiri, peluang Pluto untuk kembali disebut planet meski belum pasti tak lagi terdengar mustahil. hay
- Pluto
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.