Rupiah Hari Ini Melemah di Tengah Lonjakan Minat ke Instrumen Safe Haven
Rabu, 29 Apr 2026, 17:50 WIBJAKARTA â Pelemahan nilai tukar Rupiah yang dipicu meningkatnya permintaan aset safe haven mencerminkan perubahan sentimen global menuju sikap risk-off.
Dalam kondisi ketidakpastianâbaik akibat gejolak geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, maupun perlambatan ekonomiâinvestor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti dolar AS atau emas.
Arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, kemudian memberi tekanan langsung pada Rupiah.
Secara struktural, tekanan ini menunjukkan tingginya sensitivitas pasar keuangan domestik terhadap dinamika eksternal.
Meski fundamental ekonomi relatif terjaga, faktor likuiditas global dan persepsi risiko seringkali lebih dominan dalam jangka pendek.
Di sisi lain, pelemahan Rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya impor dan menekan inflasi, terutama untuk komoditas strategis.
Untuk meredam volatilitas, diperlukan bauran kebijakan yang responsif, mulai dari stabilisasi di pasar valas, penguatan cadangan devisa, hingga menjaga daya tarik aset domestik.
Dalam konteks ini, kredibilitas kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci untuk menahan tekanan lanjutan sekaligus menjaga kepercayaan investor.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Rabu (29/4), melemah 83 poin atau 0,48 persen menjadi Rp17.326 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.243 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pelemahan rupiah dipicu peningkatan permintaan safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah.
âDari sisi global, rupiah tertekan oleh stabilnya indeks dolar AS di level tinggi (sekitar 98,6) serta meningkatnya permintaan safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah,â katanya di Jakarta.
Kekhawatiran terhadap inflasi global akibat kenaikan harga energi turut memperkuat dolar AS, dan mendorong arus modal keluar dari emerging markets, termasuk Indonesia.
Selain itu, ekspektasi bahwa Federal Reserve atau Bank Sentral Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama semakin membatasi ruang penguatan rupiah.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa isu pergantian Ketua Federal Reserve menjadi sumber ketidakpastian tambahan.
âJika pengganti Jerome Powell cenderung lebih hawkish, pasar akan mengantisipasi suku bunga tinggi lebih lama, yang berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan rupiah. Sebaliknya, jika arah kebijakan lebih dovish, hal ini dapat membuka ruang stabilisasi atau penguatan rupiah,â ujar dia.
Melihat sentimen domestik, fundamental ekonomi Indonesia dinilai relatif stabil dengan inflasi yang masih berada dalam target serta suku bunga Bank Indonesia di level 4,75 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Amru berpendapat indikator makro ekonomi juga menunjukkan kondisi yang cukup solid, tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang terjaga dan sistem keuangan yang tetap kuat.
Namun, menurut dia, tekanan eksternal yang masih dominan membuat ruang kebijakan menjadi terbatas dan pergerakan rupiah tetap rentan terhadap dinamika global.
Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia mengandalkan intervensi di pasar spot, sekaligus aktif di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). âStrategi ini dinilai efektif dalam mengelola ekspektasi pasar tanpa harus menguras cadangan devisa secara signifikan, meskipun tantangan struktural terkait ketahanan eksternal masih perlu diwaspadai,â ujar Amru.
Menurut dia, pelaku pasar cenderung berhati-hati pula menjelang rilis data penting pekan ini, termasuk inflasi April dan neraca perdagangan Maret. Data sebelumnya menunjukkan inflasi Maret melambat ke 3,48 persen, meskipun risiko kenaikan masih terbuka akibat tingginya harga minyak global.
âDi sisi lain, surplus perdagangan Februari tercatat di bawah ekspektasi akibat lonjakan impor, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap keseimbangan eksternal,â kata Research and Development ICDX itu.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu ini juga bergerak melemah ke level Rp17.324 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.245 per dolar AS.
- rupiah hari ini
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Akses Tani Kini Mulus, TMMD Kutai Barat Sukses Tembus Jalan 3.500 Meter dalam 30 Hari
-
Cari Informasi Lebih Cepat Tanpa Pindah Aplikasi lewat Circle to Search
-
Pasar Jaya Kerahkan 33 Truk Angkut Sampah di Pasar Induk Kramat Jati
-
Pemkot Tangerang Larang ASN Keluar Kota saat "WFA"
-
DPR Minta Pemerintah Evaluasi Berkala Kebijakan Penahanan Harga BBM
-
Pertamina Tambah 9 Juta Tabung Elpiji 3 Kg di Jateng-DIY
-
Persis Keluar dari Zona Degradasi Setelah Menang 3-0 atas Bali United
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.