Indonesia Makin Perkasa! Industri Kakao Disebut Pilar Utama Asia
Jumat, 24 Jul 2026, 21:55 WIBJAKARTA â Industri pengolahan kakao memiliki peran strategis dalam meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan Indonesia dan memperkuat daya saing ekspor.
Pengembangan industri hilir mampu mengurangi ketergantungan pada ekspor biji kakao mentah sekaligus menciptakan produk bernilai tinggi seperti cokelat, mentega kakao, dan bubuk kakao.
Di tengah meningkatnya permintaan global, penguatan produktivitas perkebunan, kualitas bahan baku, serta investasi pada teknologi pengolahan menjadi faktor kunci agar industri kakao nasional mampu bersaing di pasar internasional dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani maupun pelaku industri.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyampaikan industri pengolahan kakao nasional menjadi salah satu pilar utama di kawasan Asia dengan menyumbang 49 persen dari total volume industri pengolahan kakao regional, sekaligus memperkuat peran kawasan ini dalam perdagangan global.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat daya saing industri pengolahan kakao nasional sebagai bagian dari hilirisasi untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat grinding kakao berskala global.
âKemenperin terus mempercepat transformasi industri kakao melalui penguatan hilirisasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan kemitraan antara petani dan industri, penerapan standar mutu, serta akselerasi implementasi prinsip keberlanjutan,â ungkapnya dalam keterangan dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (24/7).
Disampaikan dia, industri pengolahan kakao nasional menunjukkan kinerja yang semakin kuat pada triwulan II 2026, di tengah dinamika pasar kakao global yang masih diwarnai volatilitas harga, perubahan pola permintaan, serta tantangan penerapan prinsip keberlanjutan.
Berdasarkan Grind Statistics Q2 2026, volume pengolahan (grinding) kakao Indonesia mencapai 110.410 ton atau meningkat 30,1 persen dibandingkan pada triwulan pertama yang hanya mencapai 84.844 ton.
Kinerja positif tersebut tercermin dari produksi olahan kakao yang mengalami peningkatan sebesar 8,2 persen dibanding triwulan sebelumnya.
Menurutnya, capaian ini menunjukkan daya saing industri pengolahan kakao nasional yang terus menguat sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pengolahan kakao dunia dan mitra strategis dalam rantai pasok kakao global.
Dengan kapasitas industri yang besar, Indonesia terus memperkokoh posisinya sebagai salah satu pusat pengolahan kakao dunia sekaligus mitra strategis dalam rantai pasok kakao global.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menuturkan, penyelenggaraan Indonesia International Cocoa Conference (IICC) 2026, 22-24 Juli, di Yogyakarta menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan produktivitas, mempercepat transformasi industri, memperluas akses pasar, serta mewujudkan sistem produksi kakao yang inklusif dan berkelanjutan.
Menurut Putu, dengan mengusung tema The Rise of Indonesian Cocoa: The Pearl of Asia for the World, konferensi ini menegaskan komitmen Indonesia untuk tidak hanya menjadi negara penghasil kakao, tetapi juga sebagai pusat industri pengolahan kakao berkelas dunia yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, memenuhi standar keberlanjutan internasional, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi petani, industri, serta perekonomian.
- industri pengolahan kakao
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.