RI Dapat 150 Juta Barel Minyak dari Russia dengan Harga Khusus
Jumat, 24 Apr 2026, 01:00 WIBJakarta â Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan Indonesia memperoleh komitmen pasokan minyak hingga 150 juta barel dari Russia dengan harga khusus, sebagai hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Moskow.
âIndonesia sekarang sudah ada komitmen dari pemerintah Russia, 150 juta barel kita bisa simpan di Indonesia untuk menghadapi masalah-masalah gejolak ekonomi,â ujar Hashim dalam acara Economic Briefing 2026 di Jakarta, Kamis (23/4).
Seperti dikutip dari Antara, Hashim menjelaskan, kesepakatan tersebut merupakan hasil pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Russia Vladimir Putin pada Senin (13/4) yang berlangsung selama sekitar tiga jam. Dalam pertemuan itu, Russia awalnya menyetujui pengiriman 100 juta barel minyak dengan harga khusus, dan siap menambah hingga 50 juta barel jika Indonesia masih membutuhkan.
âJadi dia (Prabowo) ke Moskow bukan untuk foya-foya. Dia ke Moskow ketemu Presiden Putin selama 3 jam dan dapat komitmen dari Presiden Putin,â ujar Hashim.
Kesepakatan ini menjadikan Russia sebagai alternatif pemasok energi bagi Indonesia di tengah ketidakpastian global, termasuk dampak konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang menekan sektor energi dunia.
Diversikasi Energi
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan impor minyak mentah (crude) dari Russia ditargetkan mulai masuk ke Indonesia pada April 2026. Sementara itu, pengadaan LPG dari Russia masih dalam tahap finalisasi, termasuk besaran porsinya terhadap kebutuhan nasional.
Menurut Bahlil, diversifikasi sumber energi menjadi strategi penting pemerintah untuk menjaga ketahanan pasokan di tengah dinamika geopolitik global.
âJadi, harus ada diversifikasi. Insyaallah crude kita akan semakin membaik,â kata Bahlil.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah dinilai dapat menjadi momentum untuk mempercepat implementasi kebijakan biodiesel 50 persen (B50).
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung menjelaskan bahwa B50 merupakan bahan bakar campuran yang terdiri dari 50 persen solar dan 50 persen bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit.
âPengembangan energi terbarukan sebagai substitusi bahan bakar fosil menjadi hal krussial untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil,â ujarnya.
Ia menilai kenaikan harga minyak global berpotensi mengganggu ketersediaan solar dalam negeri sekaligus memicu inflasi dan menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Setiap kenaikan harga minyak impor sebesar 10 dollar AS per barel, kata Tungkot, dapat menambah beban APBN sekitar 20 triliun hingga 30 triliun rupiah.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kawasan Timur Tengah, khususnya jalur distribusi energi di Selat Hormuz, menyuplai sekitar 20â30 persen kebutuhan energi fosil dunia, termasuk bagi Indonesia. Kondisi ini membuat biaya impor energi berpotensi meningkat signifikan.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Libur Natal, 4.637 Penumpang Tinggalkan Jakarta lewat Terminal Tanjung Priok
-
KPK Tetapkan 5 Tersangka dari OTT Dugaan Suap Pemeriksaan Pajak di Jakarta Utara
-
Bocah Peci Hitam Ini Boleh Naik Kap Mobil Maung RI 1 Bersama Prabowo
-
Ramai di Medsos, Lagu "Work" Milik no na Asal Indonesia Puncaki Trending Global
-
Pemerintah Kabupaten Bintan Bangun Dermaga di Pulau Mantang, Akses Warga Kini Makin Lancar
-
Selasa (27/1), Layanan SIM Keliling Tersedia di Lima Lokasi di Jakarta
-
Pepper, Robot Humanoid Pertama di Dunia yang Diproduksi Massal
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.