Mitigasi Bencana Kekeringan Dampak Kemarau di Wilayah Garut
Kamis, 23 Apr 2026, 23:27 WIBGarut - Pemerintah Kabupaten Garut, Jawa Barat mulai melakukan mitigasi bencana kekeringan dampak kemarau pertengahan tahun 2026 dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber air yang ada, pompanisasi, dan menyiapkan truk tangki untuk memasok air bersih bagi masyarakat.
"Pemetaan daerah rawan kekeringan sudah dilakukan, seperti teman-teman di PUPR (Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) sudah menginventarisir daerah yang seringkali terjadi kekeringan," kata Sekretaris Daerah Pemkab Garut, Nurdin Yana di Garut, Kamis.
Ia menuturkan, saat ini sudah mulai berakhir musim penghujan, yang selanjutnya akan memasuki musim kemarau yang diperkirakan akan lebih panjang sampai September 2026.
Ancaman musim kemarau itu, kata dia, di antaranya menyebabkan kekeringan pada lahan pertanian, dan juga sumber air utama masyarakat, sehingga akan terjadi kesulitan air bersih.
"Makanya kita siapkan program, dan kegiatan yang orientasikan untuk daerah-daerah yang seringkali terjadi kekeringan," katanya.
Ia menyebutkan, daerah yang rawan atau paling cepat dilanda kekeringan dampak musim kemarau yakni wilayah utara Garut seperti Cibatu, Limbangan, Malangbong dan daerah sekitarnya.
Pemerintah daerah, kata dia, sebagai langkah meminimalisasi dampak besar kekeringan itu yakni dengan melakukan pembangunan sumur bawah tanah, maupun memanfaatkan sumur lainnya untuk bisa memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
"Misalkan pembangunan sumur bawah tanah, kita juga sudah ada teman-teman dari PDAM yang siap memasok kebutuhan air," katanya.
Ia mengatakan, mitigasi kekeringan juga dilakukan pada sektor pertanian dengan menyiapkan program pompanisasi yakni menarik sumber air dari bawah atau sungai untuk mengairi areal pertanian.
Selanjutnya, kata dia, ada titik-titik sumur yang selama ini sudah dibangun di daerah rawan kekeringan untuk bisa dioptimalkan memenuhi kebutuhan air lahan pertanian.
"Yang perlu diwaspadai bukan masalah air bersih saja, tapi juga untuk kebutuhan pertanian, makanya kita ada pompanisasi dan juga sumur," katanya.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Kemendikdasmen Jamin SPMB Berjalan Terbuka, Transparan, dan Inklusif
-
Quality Time Keluarga Jadi Tren Liburan Sekolah, Industri Es Krim Hadirkan Beragam Pilihan
-
Eddy Soeparno Tegaskan Komitmen Pemerintah soal Transisi Energi dan Aksi Iklim Prioritas Pembangunan Nasional
-
Komut Pertamina Mochamad Iriawan Tinjau Fasilitas RS IHC Perkebunan Jember Klinik
-
Dari Racikan Tradisional ke Bisnis Modern, Pemkot Cirebon Genjot Usaha Kreatif Berbasis Jamu
-
Korban Banjir Bandang Nagan Raya Tagih Pencairan Dana Huntara Mandiri ke BNPB
-
Prancis Konfirmasi Kasus Ebola Pertama, Dokter yang Pernah Bekerja di Kongo
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.