KKP Ungkap PSN Garam Rote Nyaris Tuntas, Tinggal Sentuhan Akhir

Kamis, 23 Apr 2026, 19:25 WIB

KUPANG – Pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Garam Nasional merupakan langkah penting untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat kedaulatan industri garam domestik.

Selama ini, kesenjangan antara kebutuhan industri—terutama untuk sektor kimia dan pangan—dengan kualitas serta kuantitas produksi lokal menjadi tantangan utama.

Ket. Foto: Ilustrasi - Petani memanen garam. — Sumber: ANTARA FOTO/ Aprillio Akbar.

Melalui PSN, pemerintah berupaya mendorong modernisasi produksi, mulai dari teknologi pengolahan hingga manajemen tambak, agar menghasilkan garam dengan standar industri.

Namun, keberhasilan proyek ini tidak hanya ditentukan oleh peningkatan kapasitas produksi, melainkan juga oleh integrasi rantai pasok dan kepastian pasar bagi petambak.

Tanpa perbaikan tata niaga dan perlindungan harga, peningkatan produksi justru berisiko menekan kesejahteraan petani garam.

Karena itu, pendekatan yang komprehensif—mencakup infrastruktur, teknologi, hingga regulasi—menjadi kunci agar PSN Garam Nasional benar-benar mampu menciptakan kemandirian sekaligus nilai tambah ekonomi.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaporkan progres pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kini sudah mencapai 95 persen.

“Kita targetkan 7 Mei diharapkan selesai. Saat ini progresnya sampai dengan minggu kemarin, sudah 95 persen,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan Miftahul Huda di Kupang, Kamis (23/4).

Hal ini disampaikan di sela-sela pelaksanaan rapat Pembahasan tim terpadu dan persiapan pengadaan tanah Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kupang.

Dia menambahkan, jika sudah 100 persen selesai pada 7 Mei 2026, maka pihaknya memperkirakan pada Juli 2026 akan dilakukan panen perdana.

“Dengan begitu bisa dipastikan NTT dapat menjadi provinsi dengan penghasil garam terbaik di Indonesia,” tambah dia.

Dia mengatakan, secara nasional KKP menargetkan 2 ribu hektare lahan untuk K-SIGN tersebut di Rote. Namun kini luasnya justru sudah mencapai 13 ribu hektare.

Miftahul menambahkan, pihaknya menargetkan satu hektare itu sekali panen bisa mencapai 200 ton per musim atau per tahun di Rote Ndao.

Sehingga ujar dia jika luas lahan itu bisa digunakan dan hasil panen maksimal maka di dua tahun berikutnya hasil panen bisa mencapai 350 ribuan ton.

“Nah 350 ribuan ton ini akan menjadi subsitusi dari garam yang sekarang diimpor, namanya garam untuk industri aneka pangan,” tambah dia.

Dia menambahkan, jika di 2027 nanti proyek di Sabu Raijua itu berhasil maka, impor untuk garam aneka pangan semuanya berasal dari Kabupaten Rote Ndao.

Miftahul mengharapkan, dukungan semua pihak termasuk masyarakat agar proyek tersebut, dapat berjalan dengan lancar , mengingat akan memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat di kabupaten paling selatan NKRI tersebut.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.