Uji B50 di Alsintan, Kementan Dorong Transisi Energi Pertanian

Senin, 20 Apr 2026, 17:50 WIB

JAKARTA – Pengujian bahan bakar biodiesel B50 pada alat dan mesin pertanian (alsintan) menjadi langkah penting dalam memastikan kesiapan transisi energi di sektor pertanian.

Secara analitis, penggunaan campuran biodiesel dengan kadar tinggi tidak hanya menyangkut aspek efisiensi energi, tetapi juga menyentuh ketahanan operasional mesin, emisi, serta biaya perawatan jangka panjang.

Ket. Foto: Ilustrasi - Alsintan. — Sumber: ANTARA/ Fathnur Rohman

Dari sisi teknis, B50 perlu diuji untuk memastikan kompatibilitas terhadap mesin diesel yang umum digunakan di lapangan, terutama terkait performa pembakaran, potensi penumpukan residu, dan dampaknya terhadap komponen mesin.

Hasil pengujian ini akan menjadi dasar penting dalam menentukan standar kelayakan penggunaan secara luas.

Di sisi lain, keberhasilan implementasi B50 juga berimplikasi pada pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil serta penguatan ekonomi berbasis energi terbarukan.

Namun, tanpa uji lapangan yang komprehensif, risiko gangguan operasional alsintan dapat menghambat produktivitas pertanian secara keseluruhan.

Kementerian Pertanian (Kementan) menguji bahan bakar biodiesel B50 pada alat dan mesin pertanian (alsintan) guna memperkuat ketahanan pangan nasional berbasis kemandirian energi.

"Pengembangan biofuel menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional," kata Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman dalam pernyataan di Jakarta, Senin (20/4).

Dia menyampaikan Kementerian Pertanian terus mempercepat pemanfaatan energi terbarukan di sektor pertanian melalui pengembangan biodiesel B50 dan pengujiannya pada alat dan mesin pertanian.

Langkah itu menjadi bagian dari upaya strategis mendorong kemandirian energi berbasis sumber daya domestik sekaligus mendukung modernisasi pertanian berkelanjutan.

Ia menuturkan salah satu inovasi yang dikembangkan adalah teknologi bioreaktor biodiesel hybrid oleh Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), yang dirancang untuk mengolah berbagai bahan baku minyak nabati menjadi biodiesel secara lebih efisien, fleksibel, dan terkontrol.

“Sebanyak 5,3 juta ton CPO kita konversi menjadi biofuel. Artinya, tahun ini kita tidak impor solar. Ini perintah langsung Presiden,” ujar Mentan.

Ia menegaskan percepatan pemanfaatan biodiesel, termasuk melalui Program B50, menjadi bagian penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.

Sementara itu, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan Fadjry Djufry menyampaikan pengembangan teknologi bioenergi merupakan bagian dari upaya mendorong hilirisasi inovasi pertanian.

Fadjry menyatakan pihaknya mendorong pengembangan bioreaktor biodiesel yang mampu menghasilkan bahan bakar secara efisien dengan kualitas yang stabil.

"Dengan demikian, biodiesel yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pada operasional alat dan mesin pertanian,” ujarnya.

Sebagai bentuk implementasi, BRMP melalui Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan) telah melakukan uji kinerja lapangan alsintan berbahan bakar B50 bekerja sama dengan LEMIGAS pada awal April 2026.

Kepala BRMP Mektan Arief Rachman menjelaskan pengujian itu dilakukan untuk memastikan kesiapan teknis penggunaan biodiesel dalam kondisi operasional nyata.

Arief mengatakan pengujian dilakukan untuk mengevaluasi performa alsintan, mulai dari keandalan mesin, efisiensi bahan bakar, hingga stabilitas operasional di lapangan.

"Hasilnya akan menjadi dasar dalam pengembangan mekanisasi pertanian berbasis energi alternatif, sejalan dengan dukungan terhadap program B50,” jelasnya.

Pengujian dilakukan pada berbagai jenis alsintan, seperti traktor roda dua, traktor roda empat, serta pompa air, termasuk pengujian cold-startability untuk memastikan mesin tetap dapat beroperasi setelah periode penyimpanan tertentu.

Berdasarkan hasil pengujian di laboratorium maupun lapangan, penggunaan biodiesel B50 menunjukkan kinerja yang relatif stabil.

Parameter utama seperti daya, konsumsi bahan bakar, efisiensi kerja, serta performa operasional telah memenuhi standar SNI yang ditetapkan.

"Hasil ini menunjukkan biodiesel B50 berpotensi diterapkan pada alat dan mesin pertanian tanpa memberikan dampak negatif terhadap performa maupun keandalan operasional," jelasnya.

Melalui pengembangan teknologi bioreaktor biodiesel dan pengujian implementatif di lapangan, Kementerian Pertanian terus mendorong integrasi inovasi bioenergi dan mekanisasi pertanian.

Upaya itu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, serta memperkuat fondasi pertanian modern yang berkelanjutan dalam mendukung keberhasilan program B50 nasional.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.