Puluhan Balita Keracunan MBG, Mayoritas Sudah Pulih

Senin, 20 Apr 2026, 03:08 WIB

Cianjur - Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mencatat sebagian besar dari 63 balita dan ibu yang mengalami keracunan usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di dua desa di Kecamatan Leles telah pulih.

Kepala Dinkes Cianjur Made Setiwan di Cianjur, Minggu (19/4), mengatakan saat ini hanya beberapa korban yang masih menjalani perawatan intensif. “Hanya tinggal beberapa yang masih menjalani perawatan,” ujarnya.

Ket. Foto: Sejumlah ibu dan balita di Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat masih mendapatkan perawatan di puskesmas setempat setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis, Minggu (19/4/2026). — Sumber: Antara

Seperti dikutip dari Antara, Made Setiwan menjelaskan, pihaknya telah mengambil sejumlah sampel makanan yang dikonsumsi korban, termasuk susu, serta sampel muntahan untuk diuji di laboratorium. Langkah ini dilakukan guna memastikan penyebab pasti keracunan yang menimpa puluhan warga tersebut.

“Kami sudah mengambil sampel yang tersisa, salah satunya susu dan sampel muntahan korban untuk dilakukan uji laboratorium guna memastikan penyebab keracunan,” katanya.

Made memastikan seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis secara optimal. Meski sebagian besar sudah diperbolehkan pulang, kondisi mereka tetap dalam pemantauan tenaga kesehatan di masing-masing desa guna mengantisipasi kemungkinan gejala lanjutan.

Kepala Puskesmas Leles Tedi Nugraha menambahkan, pihaknya telah memberikan pelayanan kesehatan kepada 63 ibu dan balita yang mengalami gejala seperti pusing, mual, dan muntah setelah menyantap menu MBG yang dibagikan melalui posyandu.

Sebagian besar pasien mendapatkan perawatan di puskesmas, sementara lainnya ditangani oleh bidan maupun klinik terdekat. Hingga Minggu petang, masih terdapat enam balita yang menjalani perawatan di puskesmas.

“Sebagian besar kondisinya sudah mulai membaik setelah mendapat perawatan di puskesmas, bidan, dan klinik. Mereka yang sudah pulang tetap mendapatkan pengawasan dari tenaga kesehatan,” ujarnya.

Namun demikian, pihaknya belum dapat memastikan penyebab keracunan karena masih menunggu hasil uji laboratorium. Gejala yang dialami korban mayoritas muncul setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.

Sementara itu, Camat Leles Segi Tabah Hermansyah mengatakan pihaknya masih melakukan pendataan lanjutan. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada warga terdampak yang luput dari penanganan medis.

“Saat ini petugas masih melakukan pendataan karena ditakutkan masih banyak yang mengalami keracunan namun belum terdata,” katanya.

Pentingnya Pengawasan

Di sisi lain, Anggota Komisi IX DPR RI Ade Rezki Pratama menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap kualitas makanan dalam program MBG. Menurut dia, program tersebut harus benar-benar menjamin keamanan, kebersihan, dan standar gizi yang sesuai.

“Program ini dibuat agar anak tumbuh berkembang sebagai penerus generasi emas melalui pemenuhan gizi yang optimal sejak dini,” ujar Ade.

Ia menambahkan, makanan yang disajikan tidak hanya harus sehat dan higienis, tetapi juga memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan pemerintah. Sebagai fungsi pengawasan, pihaknya akan terus memastikan kelayakan makanan di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.

Selain berdampak pada peningkatan gizi, Ade menilai program MBG juga memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi masyarakat. Hal ini karena bahan pangan yang digunakan berasal dari hasil produksi petani dan peternak lokal. YK/and

  • MBG

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.