Strategi Baru Pariwisata: RI Bidik Wisman Asia dan Oseania

Jumat, 17 Apr 2026, 21:10 WIB

BADUNG – Diversifikasi pangsa pasar wisatawan mancanegara (wisman) menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional sekaligus memperkuat ketahanan sektor pariwisata terhadap gejolak global.

Dengan memperluas sumber wisatawan ke kawasan non-konvensional, pemerintah dapat meminimalkan risiko penurunan kunjungan akibat krisis ekonomi, kebijakan perjalanan, atau dinamika geopolitik di negara tertentu.

Ket. Foto: Ilustrasi - Wisatawan mancanegara yang menggunakan layanan kereta api. — Sumber: ANTARA/ HO-PT KAI

Selain itu, diversifikasi juga membuka peluang peningkatan kualitas kunjungan, tidak hanya dari sisi jumlah tetapi juga nilai belanja dan lama tinggal.

Namun, upaya ini menuntut penyesuaian strategi promosi, peningkatan konektivitas, serta pengembangan produk wisata yang sesuai dengan preferensi pasar baru.

Tanpa pendekatan yang terarah, diversifikasi berisiko tidak efektif dan justru menyebarkan sumber daya promosi secara tidak optimal.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melakukan diversifikasi pangsa pasar wisatawan mancanegara (wisman) dengan fokus menyasar wilayah Asia dan Oseania mengantisipasi konflik Timur Tengah.

“Kami shifting (geser) pasar ke Asia dan Oseania. Itu yang lebih kami sasar sekarang,” kata Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa di sela Dharma Santi Nyepi Kemenpar di Kampus Politeknik Pariwisata Bali, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (17/4).

Saat ini, ia mengatakan Kemenpar menguatkan promosi ke negara-negara asal wisatawan asing yang menempuh perjalanan udara durasi pendek dan menengah seperti di kawasan Asia salah satunya Asia Tenggara dan Oseania misalnya Australia.

Selain itu, kreativitas menciptakan paket wisata termasuk harga khusus (bundling) juga digencarkan oleh pelaku industri pariwisata untuk menarik minat liburan, serta promosi digitalisasi menyasar wisatawan anak muda atau gen Z yang terbiasa dengan digital.

Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong tingkat kunjungan wisatawan khususnya wisatawan asing berkunjung ke Indonesia, menyusul konflik di Timur Tengah yang berdampak ke sektor pariwisata.

Perjalanan udara yang transit di Timur Tengah sebelumnya sempat terdampak penutupan ruang udara akibat eskalasi konflik serta terganggunya jalur perdagangan minyak dunia di Selat Hormuz juga berperan menyebabkan kenaikan harga minyak dunia.

Adapun negara asal wisatawan dengan durasi penerbangan jarak jauh seperti Amerika Serikat dan Eropa transit di tiga kota penghubung utama di Timur Tengah yakni Dubai, Abu Dhabi, dan Doha.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat kunjungan wisatawan asing di Indonesia pada 2025 mencapai 15,39 juta kunjungan atau naik 10,80 persen jika dibandingkan 2024.

Dari jumlah itu, sebanyak 6,95 juta di antaranya mengunjungi Bali.

Negara asal wisatawan yang masuk 10 besar mengunjungi Bali yakni Australia mendominasi dengan 1,62 juta orang kemudian disusul India, China, Korea Selatan, Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Malaysia, Singapura dan Jepang.

  • Kemenpar
  • wisman

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.