Pengguna Vape Mesti Siap-siap Terserang Kanker
Selasa, 14 Apr 2026, 06:34 WIBJAKARTA â Adakah merokok yang aman demi kesehatan? Tentu tidak. Ini termasuk vape. Dewan Eksekutif Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof. DR. Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR menyebut rokok elektronik atau vape mengandung tiga komponen utama yang berkontribusi terhadap risiko kesehatan, terutama pada remaja.
Menurut Guru Besar dalam Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tersebut komponen pertama adalah nikotin yang bersifat adiktif dan dapat menyebabkan ketergantungan. âSekitar 79,5 persen pengguna vape mengalami adiksi karena kandungan nikotin,â katanya. Ia menambahkan, ketergantungan tersebut juga mendorong pengguna beralih ke rokok konvensional.
âSekitar 40 sampai 50 persen pengguna menjadi dual user, menggunakan vape dan rokok konvensional,â ujarnya. Komponen kedua adalah bahan karsinogen atau zat pemicu kanker yang terdapat dalam cairan vape, seperti formaldehida dan asetaldehida.
Ia menjelaskan, meski rokok elektronik tidak mengandung tar seperti rokok konvensional, berbagai zat kimia dalam vape tetap berpotensi memicu kanker. Ia mengatakan bahwa bukti pada manusia memang masih terbatas karena penggunaan vape relatif baru, namun studi laboratorium menunjukkan adanya risiko tersebut.
Komponen ketiga adalah zat toksik yang dapat memicu peradangan di saluran pernapasan dan pembuluh darah. Paparan zat tersebut, kata dia, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut, pneumonia, asma, hingga penyakit paru kronik.
Dalam praktik klinis, Agus mengaku mulai menemukan sejumlah kasus gangguan paru pada pengguna vape. âKasus yang sering ditemukan antara lain pneumonia, asma, hingga pneumotoraks atau paru-paru bocor,â katanya.
Ia juga menyoroti potensi cedera paru akut akibat rokok elektronik atau yang dikenal sebagai EVALI, yang dalam beberapa kasus dapat menyebabkan sesak napas berat hingga memerlukan perawatan intensif.
Selain itu, Agus mengatakan paparan zat dari vape juga dapat berdampak pada pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta stroke dalam jangka panjang. Menurut dia, penggunaan vape pada remaja perlu menjadi perhatian serius karena dapat berdampak pada fungsi kognitif dan perkembangan otak.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Manila Tangkap Eks Jenderal yang Serukan Penggulingan Presiden
-
Pengguna Vape Patut Waspada, Rokok Elektrik Ini Kini Jadi Media Baru Konsumsi Narkoba dan Psikoaktif
-
IHSG Hari Ini Melemah Mengikuti Bursa Asia Seiring Investor Hindari Aset Berisiko
-
Pemprov Kaltim Tuntaskan Sambungan Internet Gratis di Mahakam Ulu
-
Tanggapi Rumor Mati Terkena Rudal Iran, Netanyahu Muncul dalam Video Baru Sedang Ngopi di Kafe
-
Kopenhagen Dikepung Aksi Bela Greenland
-
Plafon KUR pertanian tahun 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.