Liverpool dan Barcelona Optimistis Bangkit di Leg Kedua

Jumat, 10 Apr 2026, 07:18 WIB

PARIS - Kekalahan Liverpool dan Barcelona di leg pertama perempat final memaparkan dua persoalan klasik sepak bola modern. Ada ketimpangan intensitas permainan dan kontroversi teknologi, yang sama-sama sulit dilawan dalam 90 menit.

Liverpool dipaksa bermain dalam “mode bertahan hidup” saat takluk 0-2 dari Paris Saint-Germain pada leg pertama perempat final Liga Champions, Kamis (9/4) dini hari WIB. Pelatih Arne Slot mengakui tim asuhannya kalah kelas, namun menegaskan peluang belum tertutup jelang leg kedua di Anfield.

Ket. Foto: Striker Paris Saint-Germain Khvicha Kvaratskhelia (tengah) berebut bola dengan bek Liverpool Jeremie Frimpong (kanan) dan Ryan Gravenberch di pertandingan leg pertama perempat final Liga Champions UEFA antara PSG lawan Liverpool FC di stadion Parc des Princes di Paris pada 8 April 2026. — Sumber: Anne-Christine POUJOULAT / AFP

PSG tampil dominan sejak awal. Gol cepat Desire Doue melalui tembakan terdefleksi membuka keunggulan, sebelum Khvicha Kvaratskhelia menggandakan skor selepas satu jam laga. Statistik mencolok, 70 persen penguasaan bola dan 18 percobaan, menjadi bukti tekanan tanpa henti tuan rumah, sementara Liverpool hanya mencatat tiga tembakan.

“PSG jauh lebih baik dan bisa mencetak lebih banyak gol. Namun para pemain kami menunjukkan semangat juang,” ujar Slot. Dia menyebut tim asuhannya kerap berada dalam situasi bertahan total. Itu bukan hanya di laga ini, tetapi juga dalam periode sulit belakangan setelah hanya meraih satu kemenangan dari enam pertandingan terakhir.

Keputusan Slot memainkan tiga bek tengah, Joe Gomez, Ibrahima Konate, dan Virgil van Dijk, serta mencadangkan Mohamed Salah menuai sorotan. Namun pelatih itu berdalih, pendekatan itu diperlukan untuk meredam agresivitas bek sayap PSG, Achraf Hakimi dan Nuno Mendes.

“Salah punya kualitas besar, tetapi lebih baik dia menyimpan energinya. Di fase akhir, kami lebih fokus bertahan daripada mencetak gol,” ujar Slot. Dia tetap optimistis, dengan laga kedua di Anfield dan duel penting kontra Fulham di liga domestik sebagai penentu momentum kebangkitan.

Di kubu PSG, pelatih Luis Enrique memuji adaptasi tim asuhannya. “Kami bermain sangat baik melawan tim kelas atas. Sayangnya, peluang di babak kedua seharusnya bisa menghasilkan lebih banyak gol,” ujarnya. Meski unggul, Enrique mengingatkan bahwa Anfield selalu menjadi tantangan berat.

Sementara itu, di laga lain, Barcelona harus menelan kekalahan 0-2 dari Atletico Madrid dalam kontroversi keputusan VAR. Pelatih Hansi Flick geram atas insiden handball yang tidak ditinjau ulang. Bek Atletico, Marc Pubill, kedapatan menyentuh bola dengan tangan setelah menerima umpan kiper Juan Musso. Itu sebuah situasi yang menurut Flick layak diganjar penalti dan kartu merah. Namun wasit tidak bergeming.

Ironisnya, VAR justru aktif saat Pau Cubarsi diusir keluar lapangan usai melanggar Giuliano Simeone. Bermain dengan 10 orang di babak kedua, Barcelona kehilangan kendali pertandingan. “Bagi saya ini jelas kartu merah. Saya tidak mengerti kenapa tidak ditinjau seperti insiden sebelumnya,” ujar Flick. Bek Ronald Araujo bahkan menyebut keputusan itu “absurd.” ben/AFP/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.