Tak Bisa Andalkan Satu Sektor! Sumbar Didesak Segera Berbenah, Diversifikasi Jadi Kunci!

Rabu, 08 Apr 2026, 17:20 WIB

PADANG – Diversifikasi sumber-sumber ekonomi daerah menjadi langkah krusial untuk mengurangi ketergantungan pada satu sektor utama yang rentan terhadap guncangan eksternal.

Ketika suatu daerah terlalu bergantung pada komoditas tertentu, fluktuasi harga global atau perubahan permintaan dapat langsung menekan pertumbuhan dan pendapatan daerah.

Ket. Foto: Ilustrasi-Pengunjung menaiki bendi melintas di sekitar Jam Gadang Bukittinggi, Sumatera Barat. — Sumber: ANTARA FOTO/ Iggoy el Fitra.

Secara analitis, pengembangan sektor alternatif—seperti pariwisata, industri pengolahan, ekonomi kreatif, hingga energi terbarukan—dapat memperluas basis ekonomi sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru yang lebih stabil.

Selain itu, diversifikasi juga memperkuat ketahanan fiskal daerah, membuka lapangan kerja yang lebih beragam, serta meningkatkan daya tarik investasi.

Tanpa upaya ini, ekonomi daerah berisiko mengalami stagnasi dan lebih rentan terhadap siklus krisis yang berulang.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyarankan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mulai mengoptimalkan diversifikasi sumber-sumber ekonomi agar tidak bergantung pada aspek tertentu saja.

"Kita perlu melakukan diversifikasi (sumber ekonomi) yang lebih luas," kata Deputi Bidang Pembangunan Kewilayahan Bappenas RI Medrilzam di Padang, Rabu (8/4), di sela Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Sumbar 2027.

Medrilzam melihat selama ini Provinsi Sumbar masih terfokus pada aspek pertanian dan perkebunan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, Bappenas menyarankan agar daerah tersebut mulai berani mencari sumber lain agar tidak bergantung pada pertanian dan perkebunan saja.

Menurutnya, Sumbar tidak boleh hanya memproduksi bahan-bahan mentah tetapi harus mulai menciptakan produk turunan. Selain mendukung hilirisasi yang digencarkan pemerintah pusat, langkah ini juga mendorong kemandirian daerah.

Sementara itu, Gubernur Sumbar Mahyeldi mengatakan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7 persen, Sumbar tidak lagi bergerak secara parsial.

"Sumbar telah menetapkan sebuah arsitektur pertumbuhan holistik sebagai cetak biru pembangunan ekonomi," ujar Gubernur.

Eks Wali Kota Padang itu mengatakan pilar utama cetak biru itu terdiri dari hilirisasi agroindustri, penguatan pariwisata dan ekonomi hijau, serta digitalisasi UMKM sebagai mesin pertumbuhan baru.

Lebih jauh, Gubernur menyebut strategi pertama diarahkan pada hilirisasi agroindustri sebagai magnet devisa. Transformasi dilakukan melalui pendekatan value chain staircase dimana komoditas tidak lagi diekspor dalam bentuk mentah, tetapi terlebih dahulu diolah untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar.

Dengan pendekatan ini, Sumbar menargetkan devisa hasil ekspor meningkat signifikan dari Rp20 triliun menjadi Rp80 triliun dengan potensi penyerapan tenaga kerja hingga 240.000 orang hingga 2029.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.