Kadin Soroti Dampak Perang Iran-AS, Aktivitas Ekonomi di Timur Tengah Terganggu

Minggu, 05 Apr 2026, 18:45 WIB

JAKARTA – Dampak perang antara Iran dan Amerika Serikat sebenarnya terasa jauh lebih luas dari sekadar konflik militer. Efeknya pelan-pelan “merembet” ke banyak aspek kehidupan, bahkan sampai ke hal-hal yang kita rasakan sehari-hari.

Yang paling cepat terasa biasanya dari sisi energi. Karena kawasan konflik ini adalah jalur penting distribusi minyak dunia, harga minyak langsung melonjak ketika situasi memanas. Akibatnya, harga BBM ikut naik, ongkos transportasi meningkat, dan ujung-ujungnya harga barang juga ikut terdorong naik.

Ket. Foto: Ilustrasi - Selat Hormuz, Iran. — Sumber: ANTARA/ Anadolupy

Dari situ, efeknya makin melebar. Biaya logistik jadi lebih mahal, harga pangan ikut terdampak karena distribusi dan produksi terganggu, bahkan sektor seperti penerbangan dan industri juga ikut “kepanasan”. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memicu inflasi yang lebih tinggi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Di pasar keuangan, suasananya juga ikut tegang. Saham cenderung bergejolak, investor mulai mencari aset aman seperti emas, dan nilai tukar mata uang di banyak negara bisa ikut tertekan.

Bagi negara seperti Indonesia, dampaknya terasa dari sisi impor energi dan stabilitas harga. Kalau harga minyak dunia naik, beban subsidi bisa membengkak dan daya beli masyarakat bisa ikut tertekan.

Meski begitu, dampak perang ini bukan cuma soal angka ekonomi. Ada juga efek psikologis—ketidakpastian global bikin pelaku usaha lebih hati-hati, investasi bisa tertahan, dan banyak negara jadi ekstra waspada dalam mengatur kebijakan.

Singkatnya, perang Iran-AS itu seperti efek domino. Dimulai dari konflik di satu kawasan, tapi gelombangnya bisa terasa sampai ke dapur rumah tangga di berbagai belahan dunia.

Ketua Komite Bilateral Saudi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Mohamad Bawazeer mengungkapkan perang yang terjadi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang didukung Israel sangat mengganggu aktivitas ekonomi di Timur Tengah (Timteng), terutama di kawasan Teluk.

"Saya sarankan kalau daerah Teluk ini aman terhadap serangan-serangan, maka otomatis perdagangan lebih enak," ujar Bawazeer dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (4/4).

Menurut dia, dampak perang Iran-AS telah merusak kegiatan perekonomian di kawasan Timur Tengah mulai dari ocean rate atau tarif dasar biaya pengiriman barang internasional melalui laut yang mengalami kenaikan kurang lebih tiga kali lipat.

Kemudian beberapa perkapalan tidak berani mengeluarkan nomor booking karena takut risiko adanya perang sehingga mengambil sikap wait and see. Beberapa perkapalan melakukan perjalanan menghindari Bab-el-Mandeb (Laut Merah) dan berputar melalui benua Afrika terus masuk melalui Terusan Suez (Mesir).

Hal ini menyebabkan delivery time bisa sampai dua bulan, padahal dalam keadaan normal hanya 15-20 hari sudah tiba di Pelabuhan Dammam dan Jeddah.

Selain itu terdapat ribuan kontainer yang tertahan di Pelabuhan Jabal Ali karena tidak bisa keluar melalui Selat Hormuz, kecuali ada beberapa perkapalan yang bisa keluar atau masuk Selat Hormuz atas persetujuan otoritas setempat.

Ini tentunya sangat mengganggu kondisi bisnis di Arab Saudi baik produk jadi (finished product) atau bahan baku baik untuk perdagangan atau kebutuhan industri, dan pasti mengakibatkan harga-harga barang naik.

"Jadi sebenarnya kondisi ini disebabkan kondisi-kondisi peperangan yang tidak jelas begitu," kata Bawazeer.

Sebagai informasi, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran dinilai berpotensi menekan sejumlah sektor perdagangan Indonesia, terutama yang berkaitan langsung dengan energi dan biaya logistik.

Budi menyebut dampak terbesar akan terasa apabila terjadi gangguan distribusi minyak global, termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz. Menurutnya, sektor energi akan menjadi yang paling awal terdampak.

Ia mengatakan sektor manufaktur menjadi salah satu yang paling rentan. Indonesia pengolahan yang bergantung pada energi untuk proses produksi akan menghadapi kenaikan biaya operasional.

Selain itu, ongkos produksi yang meningkat dinilai berisiko menekan margin usaha atau mendorong kenaikan harga barang. Kondisi ini berpotensi menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Lebih lanjut, sektor ekspor akan menghadapi tekanan ganda, yakni kenaikan biaya produksi dan pelemahan permintaan global akibat ketidakpastian ekonomi.

  • Kadin Indonesia
  • perang iran as israel

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.