Indahnya Toleransi di Kendari, Gereja Katolik Bagikan Paket Paskah untuk Umat Muslim, Ini Pesan Haru Pastor Stephanus

Jumat, 03 Apr 2026, 19:15 WIB

KENDARI - Peringatan Paskah di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), menjadi potret nyata penguatan toleransi antarumat beragama melalui aksi kemanusiaan yang inklusif.

Pastor Gereja Paroki Santo Clemens Kendari, Stephanus Chandra, Jumat (3/4), menekankan bahwa esensi Jumat Agung dan Paskah tahun ini adalah meruntuhkan sekat perbedaan melalui pembagian 190 paket bantuan yang menyasar warga lintas agama, termasuk umat Muslim.

Ket. Foto: Suasana peringatan Paskah di Gereja Paroki Santo Clemens Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (3/4). — Sumber: ANTARA/La Ode Muh Deden Saputra

Dengan memaknai seruan Tetelestai sebagai simbol ketuntasan tanggung jawab kemanusiaan, pihak gereja mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menempatkan persaudaraan di atas segala batasan demi menciptakan kedamaian dan keselamatan bersama di bumi Sultra.

"Pada Paskah ini kami membagikan 190 paket bantuan. Paket itu bukan hanya untuk umat Katolik, tetapi untuk saudara-saudara kami umat Muslim dan siapa pun yang membutuhkan tanpa melihat latar belakang agama," kata Stephanus Chandra.

Ia menekankan bahwa pengorbanan Yesus di kayu salib harus dimaknai sebagai panggilan untuk meruntuhkan sekat atau "pagar" pemisah.

Menurutnya, aksi menolong antarsesama harus dilakukan atas dasar ketulusan tanpa menunggu diminta. Hal ini merupakan bentuk implementasi dari pesan kemanusiaan yang bersifat universal.

"Jangan ada sekat perbedaan, kita harus melihat orang lain sebagai saudara kita sendiri. Kemanusiaan harus menjadi nomor satu, lindungi teman-teman yang lain apa pun latar belakang mereka," tegasnya.

Terkait makna Jumat Agung, Stephanus Chandra menjelaskan kutipan Yesus Tetelestai atau "Sudah Selesai" merupakan simbol keberhasilan dalam menuntaskan tanggung jawab dan panggilan hidup untuk setia pada jalan kebenaran.

Ia juga mengingatkan bahwa perdamaian dan keselamatan manusia melampaui segala batasan.

"Kita dipanggil untuk saling menyelamatkan. Ketika kita yakin dengan jalan kebenaran yang dilakukan meskipun harus menghadapi tantangan dari sekitar, di situlah letak kelegaan dan kemenangan yang sesungguhnya," katanya.

Redaktur: alfred

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.